Bahagiamu Bukan Tugas Orang Lain

Bahagia adalah hal yang sederhana. Beberapa orang bahagia saat melihat saldo tabungannya lebih dari delapan digit. Ada juga yang bahagia bila bisa makan tanpa jadi gemuk. Banyak pula yang bahagia saat berada di tengah hutan atau pinggir pantai. Bahagiaku dan bahagiamu pun bisa jadi jauh berbeda. Bahagia itu sederhana, tapi manusia lah yang membuatnya terasa rumit.

bahagia(1)

Belum lagi banyak manusia yang menggantungkan kebahagiaannya pada orang lain. Pada orang tua yang dianggapnya wajib membahagiakan anak. Pada suami/istri yang dibebani dengan keharusan mengerti akan kebahagiaan pasangan. Pada anak yang dituntut untuk membahagiakan orang tua.

Padahal bahagia itu datangnya dari diri sendiri, dan kadang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata, bahkan sulit diukur. Kamu bisa saja membuat orang lain tersenyum bahkan tertawa, tapi bukan berarti itu membuatnya bahagia. Kamu bisa memberi uang milyaran, menaungi orang lain di dalam istana yang megah, memberinya fasilitas terbaik bak raja dan ratu, tapi bukan berarti itu membuat orang tersebut bahagia.

Lihatlah betapa banyak orang kaya yang mati karena depresi, jelas mereka tidak bahagia. Coba tengok betapa banyak orang terkenal dan pintar mati bunuh diri, jelas itu karena mereka tidak bahagia. Belum lagi dia yang cantik atau tampan dan dipuja banyak orang yang mati over dosis, jelas mereka tidak bahagia dengan hidupnya.

Tak ada ukuran yang jelas untuk membahagiakan seseorang. Karena kebahagiaan seseorang adalah tanggung jawab dirinya sendiri. Kita adalah orang yang paling tahu apa yang kita inginkan, kita adalah orang yang paling tahu cara termudah membuat diri kita bahagia, kita adalah orang yang seharusnya membahagiakan diri kita sendiri.

Membebani orang lain dengan kewajiban untuk membahagiakan kita adalah hal yang hampir tidak mungkin dilakukan. Karena ekspektasi terhadap hal-hal yang tidak dapat kita kontrol tidak pernah sejalan dengan realita. Maka dari itu mulailah mencari bahagiamu sendiri. Mulailah menemukan bahagiamu sendiri. Mulailah bahagiakan dirimu sendiri. Tak selalu harus mahal, tak selalu harus mewah, tak selalu harus sempurna, tapi jika itu mampu membuatmu bahagia maka itu sudah cukup.

Seperti segelas kopi di awal pagi. Seperti semangkuk mie rebus dengan telor dan rawit di sore yang hujan. Seperti sprei baru yang nyaman di ranjang. Seperti lantunan musik klasik di tengah hari yang sendu. Seperti berpelukan pada penghujung hari. Seperti itulah bahagia. Sederhana. Jika saja kita tahu apa yang kita inginkan, bila saja kita mau mengusahakannya, dan ikhlas menerimanya.

Karena bahagia adalah hak setiap orang, sekaligus kewajiban dari diri kita sendiri.

bahagia

Persaingan untuk Bahagia

Di dunia ini, kita selalu dipertemukan dengan persaingan. Di sekolah persaingan itu disebut “juara kelas”. Di kantor persaingan itu bernama “karyawan teladan. Lalu terus berlanjut menjadi “the best of something” yang tidak ada habisnya. Banyak orang sering kali sibuk mengejar ketertinggalannya dibanding orang lain, sampai lupa bahwa dirinya turut menguap seiring persaingan itu. Hingga yang tersisa hanya manusia dengan obsesi untuk mengalahkan orang lain, demi mengungguli setiap pesaing yang disediakan hidup padanya.

lawan

Tak jarang, keinginannya untuk menang mengalahkan nurani, hingga membuatnya menghalalkan segala cara. Padahal obsesi itu yang perlahan-lahan menghancurkan dirinya sendiri, menyakiti orang-orang di sekitarnya, bahkan membahayakan bagi orang yang menganguminya. Obsesi yang menenggelamkannya dalam kejayaan semu. Mungkin itu adalah sebuah fase dalam kehidupan. Mungkin semua orang juga pernah mengalaminya. Tapi, setelah aku renungkan, mungkin saja itu justru kesesatan pikiran yang akan membuat kita kehilangan segalanya.

Aku sendiri pernah terpedaya pada pusara persaingan itu. Di saat ada amarah yang menggebu di dada saat kalah, juga ada kesombongan yang menyelinap dalam pikiran saat memang. Hingga aku merasa takut pada diriku sendiri. Dan, kemudian aku menyadari bahwa yang terpenting adalah BAHAGIA, bukan “menang”.

Maka setelah itu aku memilih untuk menyngkir dari “arena lomba” dan menjadi diriku sendiri. Meski itu artinya aku tak memiliki pencapaian yang sama dengan orang lain. Meski aku dianggap tak mampu bersaing dengan orang lain. Meski tak jarang orang beranggapan aku lemah dan payah, juga aneh. Tapi yang terpenting aku bahagia.

Tapi jangan salah, hingga kini aku masih tetap bersaing. Bahkan kali ini persaingan yang kumiliki jauh lebih besar, dengan pesaing yang juga jauh lebih tangguh.

Dia adalah diriku sendiri.

Ketakutanku, keraguanku, kelemahanku, kemalasanku, kesombonganku, hingga ketidakpercayaandiriku menjadi lawan yang jauh lebih penting untuk aku taklukan. Namun karena itu pulalah perjuanganku menjadi jauh lebih berharga. Karena ketika aku menang nanti, aku akan menjadi yang terbaik untuk diriku sendiri, demi kebahagiaanku, untuk kewarasanku. Bukan untuk orang lain, apa lagi demi sebuah halusinasi bernama “kepopuleran”.

dan kebahagiaanku adalah tanggung jawabku.Aku mencintai diriku, dan kebahagiaanku adalah tanggung jawabku. Aku memerlukan waktu yang panjang untuk menyadari hal itu. Jadi itulah yang kemudian aku pilih. Untuk melawan pesaing yang ada di dalam diriku, bukan mencari lawan tertangguh di luar sana untuk aku kalahkan.

Aku melakukannya untuk diriku … dan kamu.

Iya, kamu. Kamu yang sudah merasa lelah dengan semua perlombaan itu tapi terlalu takut untuk menjauh dari arena. Kamu yang jengan dengan persaingan dunia tapi enggan menepi dari arus liar itu. Kamu tidak sendiri. Dan kamu tidak aneh. Kamu hanya telah sadar bahwa yang terpenting adalah kebahagiaanmu, bukan tentang menjadi pemenang. Karena itu pula kamu perlu mengalah pada ego untuk terus bersaing, dan mulai hidup bahagia dengan dirimu sendiri sebagai lawanmu.

Dan jika suatu hari nanti jalanmu menemui jalur persaingan milik orang lain, yang harus kamu lakukan adalah menepi. Jika ia memilih untuk menjadi teman, maka berbaikhatilah. Namun jika ia ingin bersaing maka biarkanlah. Karena itu bukan urusanmu.

Semua orang adalah lawan dari diri mereka sendiri. Namun hidup memang sengaja membuat mereka hanyut pada perlawanan antara satu sama lain, hingga melupakan musuh besar yang sebenarnya. Berhentilah menjadi lawan dari orang lain, dan mulailah menaklukan dirimu sendiri.

Kebahagiaanmu bukan di dapat dari orang lain, dan tak pernah ditentukan dari perlombaan apapun. Kebahagiaan kita adalah pilihan kita sendiri. Maka dari itu jadilah dirimu sendiri, dan berbahagialah.

Dan ingatlah kata-kata yang pernah diucapkan oleh Stephen Hawking bahwa, “On of the basic rules of the univeres is nothing is perfect. Perfection simply doesn’t exist. Without imperfection, neither you nor I would exist.”

source: www(dot)azquotes(dot)com

source: www(dot)azquotes(dot)com

Temukan dirimu. Temukan persainganmu yang sebenarnya. Syukuri ketidaksempurnaanmu. Maksimalkan kemampuanmu. Dan terlebih, berbahagialah.

Black Panther : Sisi Baru Film Superhero

Akhirnya semalam aku dan suami, plus anak-anak, nonton WAKANDA #eh Black Panther. Dan ternyata filmnya … keren pake banget!! Buat yang belum nonton film Black Panther bercerita tentang latar belakang Wakanda, tradisi mereka, teknologi mereka, dan tentu saja kaitannya dengan raja mereka T’Challa sang Black Panther yang merupakan simbol leluhur dan penjaga Wakanda.

source: forbes(dot)com

source: forbes(dot)com

Film yang disutradarai oleh Ryan Coogler ini memang lebih banyak menceritakan tentang latar belakang Black Panther dan Wakanda. Termasuk juga kaitannya dengan film Marvel lain (Captain America : Civil War) yang memunculkan sosok Black Panther untuk pertama kalinya. Tapi di film ini kita dipuaskan sama keberadaan konflik kepentingan yang khas banget dengan Wakanda. Kalau aku boleh bilang konflik ini mengangkat keberadaan Hukum Rimba, which is Anak Raja akan jadi Raja selanjutnya, kecuali ada yang mengalahkannya dalam sebuah ritual resmi kerajaan. Dan juga hukum rimba lainnya yang muncul dalam film ini adalah ide tentang “nyawa dibayar nyawa” yang disulam secara apik dalam dua contoh kejadian yang berbeda.

Istimewanya adalah Black Panther menciptakan warna baru dari segi musik dan fashion bagi film-film Marvel yang menurutku patut diacungi sejuta jempol. Hahahaha… #lebay! Tapi ini serius, scoring film ini endang bambang chyn! ala-ala mau nyaingin fast and furious dengan banyak memasukan unsur etnis yang ciamik!! Fashionnya yang konon terinspirasi sama pakaian bangsa Afrika juga jadi sebuah penyegaran karena film Marvel lain cenderung nggak terlalu memikirkan unsur fashion, tapi Black Panther lagi-lagi stand out karena hal itu. Ya mungkin karena setting film lain kebanyakan di Amerika, sedangkan Wakanda punya “dunia” sendiri. Tapi tetep aja sih menurutku fashion yang terjahit tradisi itu cakep bingiittss!!

source: showbiz411(dot)com

source: showbiz411(dot)com

Lalu yang aku sukai juga dari film ini adalah karena Black Panther memperlihatkan pengaruh perempuan. Hahahaha… sebut saya feminis, tapi menurutku dikebanyakan film perempuan selalu jadi yang lemah dan butuh bantuan, tapi film Black Panther justru memperlihatkan bahwa perempuan itu setroooongg dan bisa diandalkan. Nggak ada tuh keberadaan perempuan yang gampang terpancing masalah, di film ini justru perempuan-perempuannya waras semua! Kece beraaaattsss!! Ada Okoye yang setia sama bangsanya, ada Nakia yang selalu bisa diandalkan dan peduli pada kehidupan sosial di dunia luar, ada Shuri yang super cerdas! Gilaaaa seeehhh… kece banget lah! Apa lagi perempuan-perempuan itu punya peran dalam kesuksesan bangsanya, rajanya, dan Black Panther (tentu saja). Yap!! Selalu ada perempuan hebat di balik pria hebat, bukan?

Satu lagi yang menurutku kece banget dari film Black Panther adalah sinematografinya, ah elah sok orang pilem banget gue kalo bahas ini. Tapi beneran, menurutku sinematografi dalam film ini gila-gilaan sih, ditambah sama pemandangan, dan efek yang kece banget bikin semua rasanya sempurna.

And then, it comes to an end, yang sebenrnya nggak end juga karena aku yakin film ini akan ada lanjutannya. Ada konflik yang belum terselesaikan, dan ada umpan yang ditaman di akhir film. Apa lagi kalau merujuk pada pendapatannya yang super fantastis di seluruh dunia, udah pasti lah filmnya akan lanjut. Hehehehe…

wakanda forever

Well, udah cukup ya pujian untuk Black Panter yang aku tulis dari tadi. Hahahahaha… akhir kata aku cuma mau bilang WAKANDA FOREVER! 🤣 Please King T’Challa, aku nggak mau pindah ke Meikarta, aku mau ikut kamu aja ke Wakanda!!! 🤣🤣🤣

Resolusi 2018 Penting Nggak Sih?

Tahun udah ganti, kok kalender di rumah belom ganti ya? *plak* itu mah aku aja yang emang belom beli kalender 2018. Hehehehe… Tapi asli deh, mungkin ini adalah satu-satunya tahun baru yang nggak seheboh pergantian tahun sebelumnya. Mungkin karena aku udah tambah tua (halah), atau emang sebenernya ganti tahun ya emang cuma ganti kalender aja sih. Eh ngomong-ngomong ini blog belum lumutan kan saking jarangnya aku tulis? hahahaha… Blogger macam apa lah saya ini, kebanyakan nulisnya buat orang lain (yang bayar) dari pada buat blog sendiri.

Tahun lalu aku memulai tahun dengan sangat bersemangat, sampe bikin resolusi ini dan itu untuk tahun 2017 lalu. Alhamdulillah sih semua resolusiku tercapai kecuali ngurusin badan (eh). hahahaha… Aku tahu semua jenis resolusi itu bisa aja tercapai kalau mau usaha. Resolusi menulisku jelas tercapai karena aku usaha nulis tiap hari menghasilkan beberapa antologi (yang jumlah melebihi resolusiku), jadi kontributor penulis di salah satu media, dan juga menerbitkan novelku (yang jadwal terbitnya 2018). Tapi soal ngurusin badan satu-satunya usaha yang aku lakukan adalah tidak makan (hanya) saat puasa dan tidur, selebihnya satu mulus saya tidak berhenti makan. Udah jelas kan ya? hahaha..

Tapi mari berpisah dengan resolusi 2017 dan melangkah menuju 2018. Lalu gimana sama resolusi 2018?
Sebenernya penting nggak sih punya resolusi tahunan? Karena aku merasa tahun ini akan lebih menyenangkan tanpa perlu membuat resolusi. Aku tahu sih resolusi itu dibuat untuk menciptakan target untuk diri kita sendiri dan mengukur keberhasilan kita. Tapi kok kayanya pake resolusi jadinya ngoyo banget ya?

2018

Tapi baiklah, aku tetep bikin resolusi deh buat 2018. And, here it is…
1. Lebih rajin ibadah
2. Lebih rajin nulis
3. Labih rajin olahraga
4. Lebih sabar
5. Lebih banyak bermanfaat bagi orang lain

Udah gitu aja resolusinya.
Kok nggak detail? Itu cukup detail kok dan kalau benar-benar dilakukan maka hasilnya pasti mengikuti. Bukankah hasil akhir adalah buah dari proses? Jadi aku lebih memilih untuk menjadikan prosesnya sebagai resoluisku tahun 2018 ini. Sedangkan hasilnya aku serahkan kepada Allah SWT yang tentu lebih tahu apa saja yang baik untukku.

Nah kalau kamu, udah bikin resolusi 2018? Aku nggak pengen kepo sama resolusimu, aku cuma pengen ikut mendoakan agar resolusinya dapat berjalan dengan maksimal dan mendapat hasil sesuai harapan.

Anyway, SELAMAT TAHUN BARU, ya semuanya. Telat 8 hari nggak apa-apa lah ya. Hehehehe…

Novel Kalau Baper Makan Dulu (Review)

HaiHai… Aku bikin review novel lagi nih. Kali ini aku mau review Novel Kalau Baper Makan Dulu.
langsung aja ya…

KALAU BAPER MAKAN DULU
Penulis : Nikmatus solikha
Penerbit : Falcon Publishing

Ini blurb KALAU BAPER MAKAN DULU :
Selama ini Yuna enggak pernah peduli meski punya tubuh jumbo dan status jomblo. Selagi bisa makan enak, semua baik-baik saja. Tapi kehadiran Leo udah bikin Yuna berubah pikiran. Leo ganteng kadung bikin Yuna kesengsem. Tapi cowok ganteng tentu banyak diminati. Yuna punya banyak pesaing, bahkan Likateman baik Yunasampai rela mutusin pacarnya demi mengejar cinta Leo.

Yuna harus berubah! Dia bakal lakuin apa pun demi dapet perhatian Leo. Tapi kalau namanya baper, ya bikin laper. Ujung-ujungnya Yuna makan-makan dulu.

Please, mesti ya cowok cuma liat bodi doang?
Katanya cinta dari mata turun ke hati.
Tapi mungkin enggak sih cinta itu dari perut baru deh turun ke hati?

kbmd2

Ini baca blurb-nya kok kaya ngaca ya 😂 soalnya aku mirip banget sama Yuna yang nggak bisa bedain antara laper dan baper alias doyan makan. Hahahahaha…. untungnya badan aku nggak terlalu jumbo sih #eh 🙈

“Jangan nodain arti persahabatan cuma karena ada cowok jadi rebutan.” -Lika

Kata-katanya sih bener, tapi Lika nyebelin! Baru awal-awal baca aja aku udah baper sama kelakuannya Lika. Bukan cuma karena ngelanggar janji tentang akan sama-sama nge-jomblo selama di SMK, tapi si Lika malah ikut-ikutan nasir sama Leo. Padahal kan Yuna duluan yang liat cowo ganteng itu di perpus. Sahabat macam apaaahhh diaaahhh! *lebay* 😂

Selain hobi makan, Yuna juga hobi stalking. Hahahaha… Siapa lagi kalau bukan stalking si anak baru ganteng bernama Leo. Dari stalking FB Leo, Yuna jadi tahu kalau cowok itu memang populer, bahkan likers dan komentar si FBnya bisa sampe ratusan (lebihh)! Tapi gara-gara nge-stalk FB Leo, Yuna jadi tahu kalau tipe cewek yang disukai sama Leo jauuhh banget dari diri Yuna.

“Terima diri lo apa adanya, Yun. Baru orang lain bisa nerima lo apa adanya.”

Begitu kata si Rino menasehati sang kakak yang lagi galau urusan diet dan cowok. Ada benernya kan omongannya Rino. Selain itu Rino juga ngasih Yuna ide untuk bisa masuk ke hati Leo, yaitu lewat perutnya. Emang cemerlang otaknya si Rino kadang-kadang!

kbmd1

Menurutku novel ini banyak banget berisi pesan moral. Walaupun ditulis dengan gaya santai dengan dialog yang kadang nyeleneh dan lucu khas remaja, tapi kalau ditelisik lebih jauh banyak banget pesan-pesan tersembunyi yang disampaikan oleh penulis buat para kids zaman now. Novel Kalau Baper Makan dulu berkisah tentang self acceptance, persahabatan, dan mencintai tanpa syarat.

Novel Kalau Baper Makan Dulu bukan cuma enak dinikmati sebagai hiburan, tapi juga “ngenyangin” untuk jiwa para pembacanya. Sebuah paket komplit. Sesuatu yang jarang banget ditemui pada teenlit kekinian.

Untuk Kak Nikma dan Falcon Publishing, semoga sukses dan best seller novelnya. Kece banget loh kalau yang gini-gini ini dijadiin sinetron.