Novel Kalau Baper Makan Dulu (Review)

HaiHai… Aku bikin review novel lagi nih. Kali ini aku mau review Novel Kalau Baper Makan Dulu.
langsung aja ya…

KALAU BAPER MAKAN DULU
Penulis : Nikmatus solikha
Penerbit : Falcon Publishing

Ini blurb KALAU BAPER MAKAN DULU :
Selama ini Yuna enggak pernah peduli meski punya tubuh jumbo dan status jomblo. Selagi bisa makan enak, semua baik-baik saja. Tapi kehadiran Leo udah bikin Yuna berubah pikiran. Leo ganteng kadung bikin Yuna kesengsem. Tapi cowok ganteng tentu banyak diminati. Yuna punya banyak pesaing, bahkan Likateman baik Yunasampai rela mutusin pacarnya demi mengejar cinta Leo.

Yuna harus berubah! Dia bakal lakuin apa pun demi dapet perhatian Leo. Tapi kalau namanya baper, ya bikin laper. Ujung-ujungnya Yuna makan-makan dulu.

Please, mesti ya cowok cuma liat bodi doang?
Katanya cinta dari mata turun ke hati.
Tapi mungkin enggak sih cinta itu dari perut baru deh turun ke hati?

kbmd2

Ini baca blurb-nya kok kaya ngaca ya 😂 soalnya aku mirip banget sama Yuna yang nggak bisa bedain antara laper dan baper alias doyan makan. Hahahahaha…. untungnya badan aku nggak terlalu jumbo sih #eh 🙈

“Jangan nodain arti persahabatan cuma karena ada cowok jadi rebutan.” -Lika

Kata-katanya sih bener, tapi Lika nyebelin! Baru awal-awal baca aja aku udah baper sama kelakuannya Lika. Bukan cuma karena ngelanggar janji tentang akan sama-sama nge-jomblo selama di SMK, tapi si Lika malah ikut-ikutan nasir sama Leo. Padahal kan Yuna duluan yang liat cowo ganteng itu di perpus. Sahabat macam apaaahhh diaaahhh! *lebay* 😂

Selain hobi makan, Yuna juga hobi stalking. Hahahaha… Siapa lagi kalau bukan stalking si anak baru ganteng bernama Leo. Dari stalking FB Leo, Yuna jadi tahu kalau cowok itu memang populer, bahkan likers dan komentar si FBnya bisa sampe ratusan (lebihh)! Tapi gara-gara nge-stalk FB Leo, Yuna jadi tahu kalau tipe cewek yang disukai sama Leo jauuhh banget dari diri Yuna.

“Terima diri lo apa adanya, Yun. Baru orang lain bisa nerima lo apa adanya.”

Begitu kata si Rino menasehati sang kakak yang lagi galau urusan diet dan cowok. Ada benernya kan omongannya Rino. Selain itu Rino juga ngasih Yuna ide untuk bisa masuk ke hati Leo, yaitu lewat perutnya. Emang cemerlang otaknya si Rino kadang-kadang!

kbmd1

Menurutku novel ini banyak banget berisi pesan moral. Walaupun ditulis dengan gaya santai dengan dialog yang kadang nyeleneh dan lucu khas remaja, tapi kalau ditelisik lebih jauh banyak banget pesan-pesan tersembunyi yang disampaikan oleh penulis buat para kids zaman now. Novel Kalau Baper Makan dulu berkisah tentang self acceptance, persahabatan, dan mencintai tanpa syarat.

Novel Kalau Baper Makan Dulu bukan cuma enak dinikmati sebagai hiburan, tapi juga “ngenyangin” untuk jiwa para pembacanya. Sebuah paket komplit. Sesuatu yang jarang banget ditemui pada teenlit kekinian.

Untuk Kak Nikma dan Falcon Publishing, semoga sukses dan best seller novelnya. Kece banget loh kalau yang gini-gini ini dijadiin sinetron.

Novel Secrets (Review)

HaiHai… Aku lagi berpikir untuk mulai bikin review novel di blog, selain tentunya juga nulis tentang hal-hal lain. Nah sebagai permulaan aku mau coba review Novel Secrets. So, here it is…

SECRETS
“Cause in your smile I found my happiness”
Penulis : Aliana Deen
Penerbit : Kubusmedia Group

Ini blurb SECRETS:
Salahkah apabuka seorang ayah-walaupun tidak sedarah-mencintai anak yang diasuhnya, san cinta itu bukan merupakan cinta antara anak dan ayah, cinta itu adalah sebentuk cinta yang penuh hasrat, cinta seorang laki-laki terhadap perempuan…
Reinhart Heinrich Adams, 36 Tahun, mencintai anak perempuan angkatnya yang ia adopsi dari semenjak sang putri dilahirkan. Apakah ia sanggup melawan semua norma untuk bersatu dengan wanita yang ia cintai, atau hanya menyimpan semuanya hingga rasa itu hilang.
Amanda Gwynett Adams, 21 tahun, yang ia tahu bajwa hanya ayahnyalah tempat ia bersandar di dunia ini. Sebagai seorang yatim piatu dan tidak mengenal ayah kandungnya, hanya Reinhart yang ia cintai. Tetapi semua itu hancur ketika ia mengetahui rahasia terdalam yang disimpan oleh Reinhart.
Dan di sini kisah cinta mereka berawal…

secrets2

Alasan kenapa aku beli novel secrets adalah covernya yang super duper cantik. Hahahahaha… cover memang salah satu nilai jual untuk sebuah buku, karena setiap buku yang terbit udah pasti isinya bagus lah ya, tapi cover yang cantik bikin buku itu jadi terlihat menarik. Dan menurutku, Novel Secrets menarik banget secara visual.

Well, kita langsung aja, ya. Seperti blurb yang sudah aku share di atas, SECRETS bercerita tentang kisah Rainhart (Daddy Rein) dan Amanda (Mandy) yang rumit. Gimana nggak rumit, dari blurbnya aja udah jelas kalau mereka itu ayah dan anak, tapi saling jatuh cinta.
Daddy Rein yang kebapakan tapi super sexy itu bikin aku geregetan sepanjang cerita. Mandy dengan sifatnya yang masih suka plinplan dan penuh rahasia juga makin bikin jantungku kaya terombang-ambing (in a good way) sepanjang perjalanan cerita ini.
Ada banyak banget twist yang disajikan di dalam cerita ini. Kita bacanya jadi nggak bosen dan diajak mikir, semacam ada misteri yang bikin nggak bisa berhenti membalik halaman dan terus membaca.
Bahasa yang digunakan juga cewe banget, hmm… kalau menurutku ala-ala harlequin gitu deh.
Oh ya, buku ini adalah karya perdana dari sang penulis, dan udah nongkrong di wattpad sebelum akhirnya diterbitkan oleh Kubus Media. Pembacanya di wattpad udah 2,2 juta lebih lohh (ganas).

secrets1

❣️Apa yang membuat aku suka Novel Secrets :
Penggambaran tokohnya oke 👍🏻 kalau aku bilang sih cewe-cewe yang baca pasti tergila-gila sama daddy Rein.
Twist ceritanya mantap 👍🏻 aku selalu suka cerita yang ada twistnya, jadi nggak lempeng-lempeng doang.

❣️Apa yang menurutku kurang dari Novel Secrets :
Penggambaran setting tempatnya kurang terasa kalau itu di Jerman. Mungkin karena nggak banyak diulas tentang kebiasaan-kebiasaan orang Jerman, atau juga tempat-tempat yang khas Jerman.

❣️Apa menurutku Novel Secrets layak dibeli :
If you like romance, YOU SHOULD BUY IT! 💋

Anyway, untuk sebuah buku perdana menurutku Aliana Deen telah menciptakan karya yang oke banget. Semoga bukunya best seller ya, Mbak. Dan, aku tunggu cerita Jo dan Zayn #eh.

Film My Generation Menyuarakan Hati Para Remaja

Industri perfilman Indonesia akan kembali diramaikan oleh sebuah film bertajuk My Generation yang akan mulai tayang di bioskop tanggal 9 November 2017. Film ini merupakan hasil karya dari tangan dingin Upi. Setelah sukses dengan film terakhirnya yang bergenre drama komedi, My Stupid Boss, kini Upi berkerja sama dengan IFI Sinema menghadirkan film bergenre remaja yang mengangkat keresahan masyarakat saat ini.
MG1Selain memperkenalkan pemain-pemain baru seperti Bryan Langelo, Arya Vasco, Alexandra Kosasie dan Lutesha, film ini juga melibatkan banyak pemain senior. Sebut saja Tio Pakusadewo, Ira Wibowo, Surya Saputra, Aida Nurmala, Indah Kalalo, Karina Suwandi dan aktor sekaligus sutradara Joko Anwar yang turut mengisi peran para orang tua dalam film My Generation. Perpaduan antara aktor-aktor senior dan para aktor debutan ini menghasilkan chemistry yang dinamis dalam film ini.
Fokus utama yang paling ditonjolkan dalam film ini adalah kesenjangan hubungan antara orang tua dan anak. Konji, Suki, Orly, dan Zeke adalah empat remaja yang menjadi pusat cerita pada film ini. Mereka memiliki karakter dan kegelisahan yang berbeda, namun semuanya berpusat pada masalah keluarga dan sekolah. Pemasalahan khas remaja kekinian diceritakan dengan sangat nyata dan terasa menampar.
MG2Film My Generation mengangkat permasalahan klasik yang terjadi di tengah kehidupan kita sehari-hari. Kenakalan yang umum dilakukan oleh para remaja, dan generation gap yang juga sangat sering terjadi pada hubungan orang tua dan anak dikemas sedemikian rupa oleh Upi dalam film ini. Upi melalui film My Generation mengungkapkan kebenaran yang tidak ingin dilihat oleh masyarakat, terutama para orang tua yang memiliki anak usia remaja.
Tidak dapat dipungkiri bahwa remaja masa kini tidak lagi punya hak untuk menjadi dirinya sendiri dan menyuarakan pendapat. Remaja kerap dianggap sebagai biang masalah yang selalu menyusahkan orang tua. Padahal banyak orang tua lupa bahwa anak merupakan hasil dari pola didik yang diterapkan oleh mereka. Orang tua kerap mengambil jalan praktis dengan menghukum anak yang dianggap bersalah. Sayangnya, hukuman diterapkan tanpa memberi ruang bagi komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Padahal jika saja orang tua mau membuka kesempatan untuk berdiskusi dengan anak maka orang tua juga akan bisa lebih memahami anak-anak mereka sendiri. Dan bukan tak mungkin justru ruang komunikasi itulah yang akan menyelamatkan anak-anak remaja kita.
Menurutku pribadi, Upi mengemas pesan moral yang sangat dalam di film ini, sesuatu yang sudah jarang kita temukan pada film-film Indonesia kebanyakan. We need this kind of movie. Indonesia butuh film-film bagus yang memberikan tak hanya hiburan tapi juga bahan pemikiran. Karena itu aku merekomendasikan untuk kita dukung dan tonton film My Generation.
MG3Ajak orang tua kalian buat nonton film ini. Biarkan mereka membuka pikiran lebih luas.
Ajak anak remaja kita nonton film ini. Supaya mereka berpikir sebelum berbuat sesuatu.
Watch the movie, then talk to your kids. Because they need it. They need you, parents!

 

Official trailer: https://www.youtube.com/watch?v=Y6-Lj7BdzK8

Mengupas Rasa Kehilangan

“Sesuatu baru terasa berharga saat kita telah kehilangan”

Bulan Oktober ini aku kembali diingatkan pada makna kata-kata itu. Seminggu yang lalu aku kehilangan bayi kecil yang seharusnya lahir tahun depan dan menjadi anggota terkecil di keluarga kami. Tapi Allah punya kuasa yang jauh lebih besar dari harapanku. Sebelum sempat memeluknya kami harus merelakannya dan mengucapkan selamat tinggal pada jiwa mungil itu.

Butuh waktu seminggu sebelum aku bisa membicarakannya tanpa air mata, meski sebenarnya aku tadinya tidak mengetahui keberadaannya, tapi kehilangan tetap membuat hati kami dirundung duka. Keluarga kami memang dalam program untuk dapat segera menambah anggota keluarga sejak Juli lalu, tapi ternyata harapan itu belum dapat segera terlaksana.

Entah bagaimana caranya menggembarkan perasaanku saat dokter bilang, “Ini keguguran, Bu.”

Saat itu, aku keluar dari ruang dokter dengan langkah gontai dan perasaan campur aduk, tapi baru menjelang malam air mata yang mengganjal di hatiku tumpah. Aku tak kuasa menangis atas apa yang terjadi, tapi justru setelah keluarga mendengar berita itu dan mengucapkan turut berduka cita rasa sedih itu begitu mencengkeram hatiku. Tapi aku tahu, Allah selalu punya rencana yang lebih baik dari pada rencana manusia. Kehilangan yang harus kami hadapi pasti punya makna lebih bagi kedewasaanku, bagi rasa syukurku dan bagi hatiku yang rapuh.

Till we meet again, Baby.

Teruntuk jiwa kecil yang sempat hadir di rahimku,

Kita memang tak sempat saling menyapa, tapi suatu hari nanti kita pasti akan saling bergenggaman tangan di surga. Mungkin memang dunia ini tak layak bagi jiwamu yang murni, mungkin memang aku tak cukup baik untuk memilikimu saat ini, tapi aku tahu jika akan ada saat dan tempat yang lebih baik untuk kita menjadi keluarga.

Terima kasih karena telah berbagi napas denganku dalam waktu yang singkat itu. Sampai jumpa lagi di surga, Nak. Tunggu aku di sana, bukakan jalan untukku, sisakan tempat bagiku.

Aku yang akan selalu menyayangi dan merindukanmu,
Bunda.

Mertua VS Menantu

“Menantuku itu bodoh. Tahunya cuma menghabiskan uang anakku, ngurus anak saja nggak becus.” Seperti itu kata sang mertua.
Mertuaku kejam. Setiap hari kerjanya marah-marah terus, apa saja yang aku lakukan selalu salah di matanya.” Begitu keluh sang menantu.

Apakah dua kalimat di atas tadi pernah Anda dengar? Atau justru Anda sendiri yang pernah mengatakannya? Kita memang tidak bisa menutup mata dan telinga dari cerita miring kehidupan mertua vs menantu. Kengerian dan ancaman pada kehidupan rumah tangga bukan hanya ada di luar rumah, tapi kebanyakan malah datang dari dalam lingkaran itu sendiri. Menceritakan kisah drama mertua versus menantu seolah mengulang dongeng 1001 malam yang tak ada habisnya. Setiap orang punya kisah yang berbeda. Setiap mertua punya pemikiran yang berbeda-beda tentang menantunya. Setiap menantu juga pasti menyimpan perasaaan yang berbeda-beda pada mertuanya.

Tapi benarkah? Semengerikan itukah?

MertuaMenantu

Hubungan yang tidak harmonis diantara mertua dan menantu biasanya terjadi akibat salah satu, atau bahkan kedua belah pihak, merasa menjadi orang yang paling berhak memiliki. Sang mertua menganggap anaknya masih merupakan haknya. Di lain pihak, sang menantu merasa pasangannya kini adalah miliknya. Tapi….

Pengalaman pernah mengajarkan saya bahwa memiliki mertua adalah mimpi terburuk dalam kehidupan saya. Lebih mengerikan dibanding kisah horor yang hadir ketika sedang terlelap. Karena horor yang satu ini, hidup di dalam kehidupan sehari-hari saya. Dari pengalaman saya, saya tahu bahwa mertua selalu datang mengintervensi, ikut campur dalam setiap masalah yang hadir dalam rumah tangga, bahkan tak jarang mereka justru menjadi awal hadirnya perdebatan. Mertua datang seolah sebagai pahlawan super yang mengetahui segalanya, memahami semua hal, dan paling benar. Sedangkan sebagai menantu, saya dianggap tidak mampu melakukan apa-apa.

Bahkan saya pernah tidak diakui sebagai menantu di depan keluarga besar mereka. Mereka menyembunyikan saya seolah saya adalah aib keluarga. Kemudian berusaha sekuat tenaga menjauhkan anaknya dari saya, seolah saya adalah virus menular. Bukan hanya itu, anak saya pun pernah disembunyikan dari tetangga dan kerabat mereka. Setahun awal kehidupan anak saya, tak ada keluarga, kerabat, ataupun tetangga mereka yang mengetahui keberadaan anak saya. Jangankan menengok cucunya, menanyakan kabar via telepon pun jarang mereka lakukan. Mereka juga hampir tidak pernah membantu dalam hal finansial, justru ibu saya lah yang dulu menopang kehidupan rumah tangga kami dari hari ke hari.

Bisa Anda bayangkan seperti apa hidup saya saat itu?

Untungnya masa-masa itu sudah terlewati dan menjadi sejarah hidup saya. Sejak saya berpisah dengan suami pertama, Alhamdulillah sudah tidak ada lagi urusan antara saya dan bekas mertua saya. Apapun yang dikatakannya setelah perceraian saya dengan anaknya sudah tidak lagi menjadi pikiran saya. Jika dia ingin berkomentar tentang saya atau cara saya mendidik anak saya, silahkan mengantre disebelah kiri. Mungkin suatu hari nanti saya akan punya waktu untuk menanggapinya. Keberadaan mereka hampir tak terpetakan dalam kehidupan saya, apa lagi pada diri anak saya yang hanya menyisakan sedikit sisa ingatan dan kenangan tentang tahun-tahun awal kehidupannya.

Diakui atau tidak, pengalaman buruk memiliki mertua yang luar biasa mengerikan ternyata menjadi bayang-bayang hitam dalam kehidupan saya. Terutama ketika beberapa tahun setelahnya, seorang pria datang untuk menikahi saya. Pria yang hendak menikahi saya adalah seorang bujangan, sedangkan status saya saat itu adalah janda dengan seorang anak. Keraguan muncul karena saya membayangkan tentang orangtuanya. Seperti apa pikiran mereka ketika mengetahui bahwa anak bujangnya ingin menikahi saya yang adalah seorang janda dengan paket lengkap. Dulu saja tanpa predikat janda, kehidupan saya dengan mertua saya sangat mengerikan.

Bagaimana jika semua itu terulang lagi? Bagaimana jika hubungan saya dengan mereka tidak baik? Bagaimana jika mereka tidak bisa menerima status saya? Lebih lagi saya membayangkan, bagaimana jika mereka tidak bisa menerima kehadiran anak saya? Bagaimana jika mereka memperlakukan anak saya dengan buruk? Bagaimana jika mereka membedakan anak saya dengan cucu-cucu kandung mereka? Ada terlalu banyak “bagaimana” yang terlintas di pikiran saya saat itu. Pikiran-pikiran negatif tak bisa saya hilangkan begitu saja. Belum lagi keraguan saya untuk kembali mencicipi kehidupan rumah tangga, serta ketakutan saya jika kegagalan rumah tangga akan terjadi lagi dikemudian hari. Terlalu mengerikan untuk dibayangkan.

Namun, ternyata pria gigih itu, yang kini menjadi suami saya juga ayah bagi anak-anak saya, berhasil meyakinkan saya untuk kembali memasuki indahnya gerbang rumah tangga. Dengan segala teori buruk di benak saya yang terlanjur berkembang, saya harus menerima kenyataan bahwa kami akan tinggal di rumah orangtuanya. Segera setelah menikah. Dua tahun usia pernikahan kami ketika memutuskan untuk mulai hidup mandiri. Dua tahun yang singkat itu menyadarkan saya akan banyak hal, terutama tentang hubungan antara mertua dan menantu. Dua tahun awal pernikahan kami, mata saya terbuka bahwa masih ada mertua yang baik, tidak seperti yang dikatakan semua orang, tidak juga seperti pengalaman buruk saya sebelumnya.

Mertua saya mungkin adalah mertua terbaik yang bisa didapatkan oleh seorang menantu. Mereka tak pernah melakukan intervensi terhadap setiap keputusan dalam rumah tangga anak-anaknya, bahkan meski anak dan menantunya tinggal seatap dengan mereka. Mereka memberi masukan ketika diminta. Mereka menasehati ketika dibutuhkan. Mereka hadir dalam naik-turun gelombang pernikahan anak dan menantunya, tanpa sekalipun berusaha untuk mengambil alih kemudi. Tak pernah menilai buruk anak dan menantunya, tak pernah membedakan kasih antara semuanya.

Sudah menjadi hal yang lumrah jika kami datang untuk menginap dan kemudian mereka menyuguhkan segala yang kami inginkan. Mereka menjamu dan memanjakan kami dengan begitu luar biasa. Menyayangi dan memperhatikan anak-anak saya tanpa perbedaan. Meminta pendapat saya dalam menentukan hal ini dan itu seperti orangtua saya sendiri, meski mereka bukanlah pasangan yang melahirkan dan membesarkan saya. Tak pernah ada perbedaan perlakuan mereka terhadap anak-anaknya, juga menantu-menantunya, semua sama rata, semua sudah dianggap anak bagi mereka.

Semua kabut ketakutan yang dulu pernah menyelimuti hati saya, kini telah sirna. Segala bayangan tentang keburukan hubungan mertua dan menantu yang sempat saya miliki dulu, juga telah lenyap. Allah SWT begitu terang-terangan menunjukan kepada saya tentang kasih yang sebenarnya dalam kehidupan berumah tangga. Allah SWT begitu berbaik hati dengan memberikan saya mertua yang sempurna.

Ayah dan Mama adalah orangtua kedua saya, yang kepada mereka saya dapat menceritakan segalanya tanpa perlu ditutup-tutupi. Ayah dan Mama adalah orangtua kedua saya, yang menunjukan bahwa segalanya bisa indah meski badai pernah menghampiri. Ayah dan Mama adalah orangtua kedua saya, yang selalu ingin saya buat bahagia dan bangga karena memilih untuk mencintai saya tanpa syarat.

Mertua dan menantu sesungguhnya adalah orang yang saling menyayangi. Mereka berbagi kehidupan dengan orang-orang yang sama. Saudara, anak, pasangan, dan cucu-cucu mereka. Hanya saja kadang mereka lupa untuk berbagi. Berbagi tempat untuk sama-sama mengasihi. Berbagi waktu untuk bersama-sama mencintai. Berbagi hati untuk saling memahami.

Mungkin kali ini, saya hanya beruntung mendapatkan mertua sebaik mereka. Namun, mungkin saja sebenarnya semua orang bisa memiliki hubungan mertua dan menantu seperti yang saya miliki saat ini. Jika saja semua pihak mau terbuka untuk berdialog, duduk sejajar untuk berdiskusi, memaklumi setiap kekurangan yang ada, menghargai segala kelebihan yang dimiliki oleh setiap insan, dan tentu saja, melakukan hanya hal-hal yang memang menjadi bagiannya. Tak akan ada lagi drama mengerikan tentang mertua vs menantu. Terlebih, jika setiap orang mengerti bahwa sejauh apapun kita pergi, keluarga adalah tempat kita akan kembali.

____________
FYI, tulisan mertua vs menantu ini tadinya dibuat untuk mengikuti salah satu antologi, namun karena satu dan lain hal tulisan ini saya tarik kembali dan saya posting di blog agar menjadi pelajaran bagi kita semua.