About Kinanti Kitty

Kinanti Wiranti Putri, yang lebih sering dipanggil kitty. Lahir di jakarta, akhir November tahun 1988. Namun kini tinggal di Tangerang Selatan bersama Suami dan kedua Putrinya. Kinanti terlahir sebagai anak satu-satunya, walau pun punya 3 adik laki-laki yang melengkapi hidupnya. Terlahir dari keluarga yang berlatar belakang seniman memiliki banyak andil dalam caranya melihat kehidupan. Walaupun tidak pernah memiliki keinginan menjadi artis, namun di masa kecilnya Kinanti pernah membintangi beberapa sinetron dan iklan. Diantaranya adalah Kau Selalu Dihatiku (Rapi Film), Si Doel Anak Sekolah (Karnos Film), Sarana Angkutan Rakyat / SAR (Karnos Film), Usaha Gawat Darurat / UGD (Karnos Film), dan beberapa peran di sinetron lain. Kinanti adalah seorang lulusan cumlaude dari STIKOM Interstudi jurusan Public Relations, yang memutuskan berhenti jadi orang kantoran sejak 2014. Saat ini fokus berbisnis dari dalam rumah, dan masih terus membaca dan menulis. Semua dilakukan disela kesibukan utamanya sebagai Ibu Rumah Tangga.

Novel Secrets (Review)

HaiHai… Aku lagi berpikir untuk mulai bikin review novel di blog, selain tentunya juga nulis tentang hal-hal lain. Nah sebagai permulaan aku mau coba review Novel Secrets. So, here it is…

SECRETS
“Cause in your smile I found my happiness”
Penulis : Aliana Deen
Penerbit : Kubusmedia Group

Ini blurb SECRETS:
Salahkah apabuka seorang ayah-walaupun tidak sedarah-mencintai anak yang diasuhnya, san cinta itu bukan merupakan cinta antara anak dan ayah, cinta itu adalah sebentuk cinta yang penuh hasrat, cinta seorang laki-laki terhadap perempuan…
Reinhart Heinrich Adams, 36 Tahun, mencintai anak perempuan angkatnya yang ia adopsi dari semenjak sang putri dilahirkan. Apakah ia sanggup melawan semua norma untuk bersatu dengan wanita yang ia cintai, atau hanya menyimpan semuanya hingga rasa itu hilang.
Amanda Gwynett Adams, 21 tahun, yang ia tahu bajwa hanya ayahnyalah tempat ia bersandar di dunia ini. Sebagai seorang yatim piatu dan tidak mengenal ayah kandungnya, hanya Reinhart yang ia cintai. Tetapi semua itu hancur ketika ia mengetahui rahasia terdalam yang disimpan oleh Reinhart.
Dan di sini kisah cinta mereka berawal…

secrets2

Alasan kenapa aku beli novel secrets adalah covernya yang super duper cantik. Hahahahaha… cover memang salah satu nilai jual untuk sebuah buku, karena setiap buku yang terbit udah pasti isinya bagus lah ya, tapi cover yang cantik bikin buku itu jadi terlihat menarik. Dan menurutku, Novel Secrets menarik banget secara visual.

Well, kita langsung aja, ya. Seperti blurb yang sudah aku share di atas, SECRETS bercerita tentang kisah Rainhart (Daddy Rein) dan Amanda (Mandy) yang rumit. Gimana nggak rumit, dari blurbnya aja udah jelas kalau mereka itu ayah dan anak, tapi saling jatuh cinta.
Daddy Rein yang kebapakan tapi super sexy itu bikin aku geregetan sepanjang cerita. Mandy dengan sifatnya yang masih suka plinplan dan penuh rahasia juga makin bikin jantungku kaya terombang-ambing (in a good way) sepanjang perjalanan cerita ini.
Ada banyak banget twist yang disajikan di dalam cerita ini. Kita bacanya jadi nggak bosen dan diajak mikir, semacam ada misteri yang bikin nggak bisa berhenti membalik halaman dan terus membaca.
Bahasa yang digunakan juga cewe banget, hmm… kalau menurutku ala-ala harlequin gitu deh.
Oh ya, buku ini adalah karya perdana dari sang penulis, dan udah nongkrong di wattpad sebelum akhirnya diterbitkan oleh Kubus Media. Pembacanya di wattpad udah 2,2 juta lebih lohh (ganas).

secrets1

❣️Apa yang membuat aku suka Novel Secrets :
Penggambaran tokohnya oke 👍🏻 kalau aku bilang sih cewe-cewe yang baca pasti tergila-gila sama daddy Rein.
Twist ceritanya mantap 👍🏻 aku selalu suka cerita yang ada twistnya, jadi nggak lempeng-lempeng doang.

❣️Apa yang menurutku kurang dari Novel Secrets :
Penggambaran setting tempatnya kurang terasa kalau itu di Jerman. Mungkin karena nggak banyak diulas tentang kebiasaan-kebiasaan orang Jerman, atau juga tempat-tempat yang khas Jerman.

❣️Apa menurutku Novel Secrets layak dibeli :
If you like romance, YOU SHOULD BUY IT! 💋

Anyway, untuk sebuah buku perdana menurutku Aliana Deen telah menciptakan karya yang oke banget. Semoga bukunya best seller ya, Mbak. Dan, aku tunggu cerita Jo dan Zayn #eh.

Film My Generation Menyuarakan Hati Para Remaja

Industri perfilman Indonesia akan kembali diramaikan oleh sebuah film bertajuk My Generation yang akan mulai tayang di bioskop tanggal 9 November 2017. Film ini merupakan hasil karya dari tangan dingin Upi. Setelah sukses dengan film terakhirnya yang bergenre drama komedi, My Stupid Boss, kini Upi berkerja sama dengan IFI Sinema menghadirkan film bergenre remaja yang mengangkat keresahan masyarakat saat ini.
MG1Selain memperkenalkan pemain-pemain baru seperti Bryan Langelo, Arya Vasco, Alexandra Kosasie dan Lutesha, film ini juga melibatkan banyak pemain senior. Sebut saja Tio Pakusadewo, Ira Wibowo, Surya Saputra, Aida Nurmala, Indah Kalalo, Karina Suwandi dan aktor sekaligus sutradara Joko Anwar yang turut mengisi peran para orang tua dalam film My Generation. Perpaduan antara aktor-aktor senior dan para aktor debutan ini menghasilkan chemistry yang dinamis dalam film ini.
Fokus utama yang paling ditonjolkan dalam film ini adalah kesenjangan hubungan antara orang tua dan anak. Konji, Suki, Orly, dan Zeke adalah empat remaja yang menjadi pusat cerita pada film ini. Mereka memiliki karakter dan kegelisahan yang berbeda, namun semuanya berpusat pada masalah keluarga dan sekolah. Pemasalahan khas remaja kekinian diceritakan dengan sangat nyata dan terasa menampar.
MG2Film My Generation mengangkat permasalahan klasik yang terjadi di tengah kehidupan kita sehari-hari. Kenakalan yang umum dilakukan oleh para remaja, dan generation gap yang juga sangat sering terjadi pada hubungan orang tua dan anak dikemas sedemikian rupa oleh Upi dalam film ini. Upi melalui film My Generation mengungkapkan kebenaran yang tidak ingin dilihat oleh masyarakat, terutama para orang tua yang memiliki anak usia remaja.
Tidak dapat dipungkiri bahwa remaja masa kini tidak lagi punya hak untuk menjadi dirinya sendiri dan menyuarakan pendapat. Remaja kerap dianggap sebagai biang masalah yang selalu menyusahkan orang tua. Padahal banyak orang tua lupa bahwa anak merupakan hasil dari pola didik yang diterapkan oleh mereka. Orang tua kerap mengambil jalan praktis dengan menghukum anak yang dianggap bersalah. Sayangnya, hukuman diterapkan tanpa memberi ruang bagi komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Padahal jika saja orang tua mau membuka kesempatan untuk berdiskusi dengan anak maka orang tua juga akan bisa lebih memahami anak-anak mereka sendiri. Dan bukan tak mungkin justru ruang komunikasi itulah yang akan menyelamatkan anak-anak remaja kita.
Menurutku pribadi, Upi mengemas pesan moral yang sangat dalam di film ini, sesuatu yang sudah jarang kita temukan pada film-film Indonesia kebanyakan. We need this kind of movie. Indonesia butuh film-film bagus yang memberikan tak hanya hiburan tapi juga bahan pemikiran. Karena itu aku merekomendasikan untuk kita dukung dan tonton film My Generation.
MG3Ajak orang tua kalian buat nonton film ini. Biarkan mereka membuka pikiran lebih luas.
Ajak anak remaja kita nonton film ini. Supaya mereka berpikir sebelum berbuat sesuatu.
Watch the movie, then talk to your kids. Because they need it. They need you, parents!

 

Official trailer: https://www.youtube.com/watch?v=Y6-Lj7BdzK8

Mengupas Rasa Kehilangan

“Sesuatu baru terasa berharga saat kita telah kehilangan”

Bulan Oktober ini aku kembali diingatkan pada makna kata-kata itu. Seminggu yang lalu aku kehilangan bayi kecil yang seharusnya lahir tahun depan dan menjadi anggota terkecil di keluarga kami. Tapi Allah punya kuasa yang jauh lebih besar dari harapanku. Sebelum sempat memeluknya kami harus merelakannya dan mengucapkan selamat tinggal pada jiwa mungil itu.

Butuh waktu seminggu sebelum aku bisa membicarakannya tanpa air mata, meski sebenarnya aku tadinya tidak mengetahui keberadaannya, tapi kehilangan tetap membuat hati kami dirundung duka. Keluarga kami memang dalam program untuk dapat segera menambah anggota keluarga sejak Juli lalu, tapi ternyata harapan itu belum dapat segera terlaksana.

Entah bagaimana caranya menggembarkan perasaanku saat dokter bilang, “Ini keguguran, Bu.”

Saat itu, aku keluar dari ruang dokter dengan langkah gontai dan perasaan campur aduk, tapi baru menjelang malam air mata yang mengganjal di hatiku tumpah. Aku tak kuasa menangis atas apa yang terjadi, tapi justru setelah keluarga mendengar berita itu dan mengucapkan turut berduka cita rasa sedih itu begitu mencengkeram hatiku. Tapi aku tahu, Allah selalu punya rencana yang lebih baik dari pada rencana manusia. Kehilangan yang harus kami hadapi pasti punya makna lebih bagi kedewasaanku, bagi rasa syukurku dan bagi hatiku yang rapuh.

Till we meet again, Baby.

Teruntuk jiwa kecil yang sempat hadir di rahimku,

Kita memang tak sempat saling menyapa, tapi suatu hari nanti kita pasti akan saling bergenggaman tangan di surga. Mungkin memang dunia ini tak layak bagi jiwamu yang murni, mungkin memang aku tak cukup baik untuk memilikimu saat ini, tapi aku tahu jika akan ada saat dan tempat yang lebih baik untuk kita menjadi keluarga.

Terima kasih karena telah berbagi napas denganku dalam waktu yang singkat itu. Sampai jumpa lagi di surga, Nak. Tunggu aku di sana, bukakan jalan untukku, sisakan tempat bagiku.

Aku yang akan selalu menyayangi dan merindukanmu,
Bunda.

Mertua VS Menantu

“Menantuku itu bodoh. Tahunya cuma menghabiskan uang anakku, ngurus anak saja nggak becus.” Seperti itu kata sang mertua.
Mertuaku kejam. Setiap hari kerjanya marah-marah terus, apa saja yang aku lakukan selalu salah di matanya.” Begitu keluh sang menantu.

Apakah dua kalimat di atas tadi pernah Anda dengar? Atau justru Anda sendiri yang pernah mengatakannya? Kita memang tidak bisa menutup mata dan telinga dari cerita miring kehidupan mertua vs menantu. Kengerian dan ancaman pada kehidupan rumah tangga bukan hanya ada di luar rumah, tapi kebanyakan malah datang dari dalam lingkaran itu sendiri. Menceritakan kisah drama mertua versus menantu seolah mengulang dongeng 1001 malam yang tak ada habisnya. Setiap orang punya kisah yang berbeda. Setiap mertua punya pemikiran yang berbeda-beda tentang menantunya. Setiap menantu juga pasti menyimpan perasaaan yang berbeda-beda pada mertuanya.

Tapi benarkah? Semengerikan itukah?

MertuaMenantu

Hubungan yang tidak harmonis diantara mertua dan menantu biasanya terjadi akibat salah satu, atau bahkan kedua belah pihak, merasa menjadi orang yang paling berhak memiliki. Sang mertua menganggap anaknya masih merupakan haknya. Di lain pihak, sang menantu merasa pasangannya kini adalah miliknya. Tapi….

Pengalaman pernah mengajarkan saya bahwa memiliki mertua adalah mimpi terburuk dalam kehidupan saya. Lebih mengerikan dibanding kisah horor yang hadir ketika sedang terlelap. Karena horor yang satu ini, hidup di dalam kehidupan sehari-hari saya. Dari pengalaman saya, saya tahu bahwa mertua selalu datang mengintervensi, ikut campur dalam setiap masalah yang hadir dalam rumah tangga, bahkan tak jarang mereka justru menjadi awal hadirnya perdebatan. Mertua datang seolah sebagai pahlawan super yang mengetahui segalanya, memahami semua hal, dan paling benar. Sedangkan sebagai menantu, saya dianggap tidak mampu melakukan apa-apa.

Bahkan saya pernah tidak diakui sebagai menantu di depan keluarga besar mereka. Mereka menyembunyikan saya seolah saya adalah aib keluarga. Kemudian berusaha sekuat tenaga menjauhkan anaknya dari saya, seolah saya adalah virus menular. Bukan hanya itu, anak saya pun pernah disembunyikan dari tetangga dan kerabat mereka. Setahun awal kehidupan anak saya, tak ada keluarga, kerabat, ataupun tetangga mereka yang mengetahui keberadaan anak saya. Jangankan menengok cucunya, menanyakan kabar via telepon pun jarang mereka lakukan. Mereka juga hampir tidak pernah membantu dalam hal finansial, justru ibu saya lah yang dulu menopang kehidupan rumah tangga kami dari hari ke hari.

Bisa Anda bayangkan seperti apa hidup saya saat itu?

Untungnya masa-masa itu sudah terlewati dan menjadi sejarah hidup saya. Sejak saya berpisah dengan suami pertama, Alhamdulillah sudah tidak ada lagi urusan antara saya dan bekas mertua saya. Apapun yang dikatakannya setelah perceraian saya dengan anaknya sudah tidak lagi menjadi pikiran saya. Jika dia ingin berkomentar tentang saya atau cara saya mendidik anak saya, silahkan mengantre disebelah kiri. Mungkin suatu hari nanti saya akan punya waktu untuk menanggapinya. Keberadaan mereka hampir tak terpetakan dalam kehidupan saya, apa lagi pada diri anak saya yang hanya menyisakan sedikit sisa ingatan dan kenangan tentang tahun-tahun awal kehidupannya.

Diakui atau tidak, pengalaman buruk memiliki mertua yang luar biasa mengerikan ternyata menjadi bayang-bayang hitam dalam kehidupan saya. Terutama ketika beberapa tahun setelahnya, seorang pria datang untuk menikahi saya. Pria yang hendak menikahi saya adalah seorang bujangan, sedangkan status saya saat itu adalah janda dengan seorang anak. Keraguan muncul karena saya membayangkan tentang orangtuanya. Seperti apa pikiran mereka ketika mengetahui bahwa anak bujangnya ingin menikahi saya yang adalah seorang janda dengan paket lengkap. Dulu saja tanpa predikat janda, kehidupan saya dengan mertua saya sangat mengerikan.

Bagaimana jika semua itu terulang lagi? Bagaimana jika hubungan saya dengan mereka tidak baik? Bagaimana jika mereka tidak bisa menerima status saya? Lebih lagi saya membayangkan, bagaimana jika mereka tidak bisa menerima kehadiran anak saya? Bagaimana jika mereka memperlakukan anak saya dengan buruk? Bagaimana jika mereka membedakan anak saya dengan cucu-cucu kandung mereka? Ada terlalu banyak “bagaimana” yang terlintas di pikiran saya saat itu. Pikiran-pikiran negatif tak bisa saya hilangkan begitu saja. Belum lagi keraguan saya untuk kembali mencicipi kehidupan rumah tangga, serta ketakutan saya jika kegagalan rumah tangga akan terjadi lagi dikemudian hari. Terlalu mengerikan untuk dibayangkan.

Namun, ternyata pria gigih itu, yang kini menjadi suami saya juga ayah bagi anak-anak saya, berhasil meyakinkan saya untuk kembali memasuki indahnya gerbang rumah tangga. Dengan segala teori buruk di benak saya yang terlanjur berkembang, saya harus menerima kenyataan bahwa kami akan tinggal di rumah orangtuanya. Segera setelah menikah. Dua tahun usia pernikahan kami ketika memutuskan untuk mulai hidup mandiri. Dua tahun yang singkat itu menyadarkan saya akan banyak hal, terutama tentang hubungan antara mertua dan menantu. Dua tahun awal pernikahan kami, mata saya terbuka bahwa masih ada mertua yang baik, tidak seperti yang dikatakan semua orang, tidak juga seperti pengalaman buruk saya sebelumnya.

Mertua saya mungkin adalah mertua terbaik yang bisa didapatkan oleh seorang menantu. Mereka tak pernah melakukan intervensi terhadap setiap keputusan dalam rumah tangga anak-anaknya, bahkan meski anak dan menantunya tinggal seatap dengan mereka. Mereka memberi masukan ketika diminta. Mereka menasehati ketika dibutuhkan. Mereka hadir dalam naik-turun gelombang pernikahan anak dan menantunya, tanpa sekalipun berusaha untuk mengambil alih kemudi. Tak pernah menilai buruk anak dan menantunya, tak pernah membedakan kasih antara semuanya.

Sudah menjadi hal yang lumrah jika kami datang untuk menginap dan kemudian mereka menyuguhkan segala yang kami inginkan. Mereka menjamu dan memanjakan kami dengan begitu luar biasa. Menyayangi dan memperhatikan anak-anak saya tanpa perbedaan. Meminta pendapat saya dalam menentukan hal ini dan itu seperti orangtua saya sendiri, meski mereka bukanlah pasangan yang melahirkan dan membesarkan saya. Tak pernah ada perbedaan perlakuan mereka terhadap anak-anaknya, juga menantu-menantunya, semua sama rata, semua sudah dianggap anak bagi mereka.

Semua kabut ketakutan yang dulu pernah menyelimuti hati saya, kini telah sirna. Segala bayangan tentang keburukan hubungan mertua dan menantu yang sempat saya miliki dulu, juga telah lenyap. Allah SWT begitu terang-terangan menunjukan kepada saya tentang kasih yang sebenarnya dalam kehidupan berumah tangga. Allah SWT begitu berbaik hati dengan memberikan saya mertua yang sempurna.

Ayah dan Mama adalah orangtua kedua saya, yang kepada mereka saya dapat menceritakan segalanya tanpa perlu ditutup-tutupi. Ayah dan Mama adalah orangtua kedua saya, yang menunjukan bahwa segalanya bisa indah meski badai pernah menghampiri. Ayah dan Mama adalah orangtua kedua saya, yang selalu ingin saya buat bahagia dan bangga karena memilih untuk mencintai saya tanpa syarat.

Mertua dan menantu sesungguhnya adalah orang yang saling menyayangi. Mereka berbagi kehidupan dengan orang-orang yang sama. Saudara, anak, pasangan, dan cucu-cucu mereka. Hanya saja kadang mereka lupa untuk berbagi. Berbagi tempat untuk sama-sama mengasihi. Berbagi waktu untuk bersama-sama mencintai. Berbagi hati untuk saling memahami.

Mungkin kali ini, saya hanya beruntung mendapatkan mertua sebaik mereka. Namun, mungkin saja sebenarnya semua orang bisa memiliki hubungan mertua dan menantu seperti yang saya miliki saat ini. Jika saja semua pihak mau terbuka untuk berdialog, duduk sejajar untuk berdiskusi, memaklumi setiap kekurangan yang ada, menghargai segala kelebihan yang dimiliki oleh setiap insan, dan tentu saja, melakukan hanya hal-hal yang memang menjadi bagiannya. Tak akan ada lagi drama mengerikan tentang mertua vs menantu. Terlebih, jika setiap orang mengerti bahwa sejauh apapun kita pergi, keluarga adalah tempat kita akan kembali.

____________
FYI, tulisan mertua vs menantu ini tadinya dibuat untuk mengikuti salah satu antologi, namun karena satu dan lain hal tulisan ini saya tarik kembali dan saya posting di blog agar menjadi pelajaran bagi kita semua.

Angan Semu Tentang Kesombongan

Pernah merasa bahwa kita telah meraih sangat banyak hal dalam hidup? Pernah merasa kita sangat dibutuhkan oleh orang lain? Pernah merasa bahwa kita seseorang yang penting? Semua perasaan itu adalah angan semu tentang kesombongan diri kita.

Forever Fragrance

Iya, semua itu hanya sekedar angan semu yang terhembus akibat kurangnya kesadaran diri kita atas pemberian dari Allah. Karena semua yang kita miliki sekarang, bukan benar-benar miliki kita. Semua yang kita miliki adalah pemberian, bahkan hanya titipan yang kapan saja bisa diambil oleh Sang Pemilik Kehidupan.

Lalu apa yang bisa kita sombongan dari semua titipan itu? Pantaskah kita pongah atas hal-hal yang tidak benar-benar kita miliki?

Well, saya tahu tulisan ini mungkin agak dianggap terlalu menggurui. Saya memang bukan guru, saya hanya manusia yang tak pernah lelah belajar, baik pelajaran yang diberikan oleh orang lain, maupun ilmu yang ditawarkan oleh kehidupan. Tapi saya hanya ingin membagi pemikiran saya tentang betapa imajinernya pemikiran kita terhadap hal-hal yang kita miliki hingga membuat kita sering terserang penyakit sombong.

Kita semua pasti pernah melihat seorang petinggi negara yang begitu hebat, yang begitu di kagumi, yang bekerja dengan luar biasa, namun kemudian dipenghujung karier atau usianya semua kehebatan itu musnah salam sekali jentikan jari. Itu sebuah pertanda yang jelas dari Allah, bahwa kehebatan, tahta, dan penghormatan itu adalah sebuah pemberian dari Allah, hanya sekedar titipan yang akan diambil kembali.

Kita juga mungkin sering melihat seorang selebriti yang begitu rupawan, yang sangat dikenal, yang bakatnya tak diragukan lagi, namun kemudian tersandung masalah ini dan itu hingga membuatnya tersingkir dari ketenaran. Bukankah itu juga sebuah pertanda yang jelas dari Allah, bahwa semua keindahan, kepopuleran, bahkan bakat yang kita miliki hanyalah sebuah pinjaman yang pasti akan diminta kembali oleh Sang Pemilki.

Tak jarang kita melihat seorang genius yang pemikiran-pemikirannya begitu luar biasa, juga seorang pemuka agama yang jamaahnya mencapai angka jutaan, dan pengusaha yang hartanya tak terhitung jumlahnya, kemudian Allah mencabut nyawanya tanpa aba-aba. Kemudian habislah semua kedigdayaannya dalam sekejap mata. Bukankah itu pertanda yang jelas bahwa segala yang ada bukan benar-benar milik kita.

Karier, ilmu, dan bakat yang kita miliki adalah barang sewaan yang punya batas waktu. Kita tak tahu kapan waktunya habis, tapi tak ada yang abadi. Harta, tahta, bahkan keluarga kita pun hanya pinjaman yang bisa diambil kapan saja. Bahkan jika saja kita ingat bahwa selalu ada langit diatas langit, bahwa selalu ada orang yang lebih pintar dari kita, lebih kaya dari kita, lebih hebat dari kita, seharusnya kita malu menyimpan kesombongan.

Lalu apa yang membuat kita sombong? Bukankah kita tak pernah memiliki kendali atas apapun? Bukankah kita bahkan tak pernah bisa menebak hidup kita sedetik yang akan datang? Bukankah kita tak punya kuasa yang mampu melebihi ketentuan Allah? Lalu apa yang membuat kita pantas menjadi orang yang angkuh?

Lupakah kita pada Allah hingga masih memelihara angan semu tentang kesombongan terhadap hal-hal yang saat ini kita miliki? Karena bahkan jika Allah berkehendak, Ia bisa saja mencabut semua hidayah yang ada pada diri seorang manusia. Karena bahkan jika telah datang waktunya, jasad ini hanya akan kembali menyatu dengan tanah.

Renungi semuanya, wahai kawan. Jangan simpan kesombongan itu pada hatimu. Biarkan segala yang kini kita miliki membuat kita semakin mensyukuri kebaikan-kebaikan Allah.  Jangan simpan keangkuhan itu pada pikiranmu. Jangan tunggu murka Allah atas sifatmu. Karena kemurahan yang Allah beri itu bahkan terlalu banyak jika dibandingkan dengan kepatuhan dan ketaatan kita pada-Nya.

main-qimg-a00bcf919ebffed20ea8bdbcabc0b4ae-c

source : quora.com