DILARANG : Memberi ASI Lebih Dari 2 Tahun!

Bunda pernah dengar kalimat larangan memberi ASI pada anak yang berusia lebih dari 2 tahun?

IMG_4747

Ketika anak kedua saya hampir menginjak usia ke 2, saya menemukan banyak sekali perdebatan tentang “hukum” menyusui lebih dari 2 tahun. Bahkan saya masih ingat seorang “teman” pernah bilang bahwa menyusui anak lebih dari usia 2 tahun bisa menyebabkan anak memiliki kencenderungan untuk menjadi seorang gay. Naudzubillah… Saya tidak tau dari mana sumber ilmu beliau. Saya juga tidak pernah berniat memperdebatkan hal tersebut. Tapi berawal dari kegalauan saya tentang masa menyapih maka dimulailah pencarian saya tentang ilmu yang benar terkait menyusui anak lebih dari 2 tahun.

Ilmu yang saya cari bukan hanya ilmu secara medis tapi juga ilmu secara agama. Dalam islam hampir semua hal di atur dengan begitu baik. Termasuk juga hukum tentang menyusui.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” Begitu bunyi potongan ayat Al Baqarah ayat 233. Jika ditelisik lebih lanjut menurut ayat tersebut, Islam memang menyarankan untuk memberikan ASI bagi anak selama 2 tahun agar sempurna nutrisi yang di dapat. Namun bukan tidak mungkin adanya kejadian dimana anak tidak bisa menyusu selama 2 tahun penuh, mungkin karena si ibu sakit, mengandung atau karena alasan lainnya, dan hal tersebut diperbolehkan dalam Islam. Selama alasannya syar’i, seorang ibu diizinkan untuk menyapih anaknya sebelum usia 2 tahun.

Lalu bagaimana dengan ibu yang belum menyapih anaknya setelah lewat waktu 2 tahun tersebut?

Dalam Islam hukumnya mubah atau boleh. Menyapih sebelum 2 tahun atau bahkan masih member ASI hingga lewat usia anak 2 tahun diperbolehkan. Tentunya tetap disertai syarat bahwa pilihan tersebut tidak membahayakan kesehatan anak maupun ibu dan merupakan kesepakatan antara kedua orang tuanya. Kesimpulan tersebut saya dapatkan dari bertanya kepada beberapa ustad dan ustadzah, juga mencari dahlilnya di internet.

Selain itu saya juga membicarakan persoalan menyusui lebih dari 2 tahun kepada dokter anak. Menurut dokter anak saya, tidak ada masalah masih memberikan ASI untuk anak yang berusia lebih dari 2 tahun, asalkan ASI bukan merupakan nutrisi utamanya dan anak makan dengan baik. Lagi pula, menurut banyak ahli medis di dunia menyusui lebih dari 2 tahun memiliki banyak keuntungan bagi sang anak juga ibu. Termasuk tentang bounding yang lebih kuat antara anak dan ibu.
Pada akhirnya saya memutuskan membiarkan anak saya tetap menyusu, bahkan di usianya yang hampir 3 tahun. Karena saya tidak melihat ada keburukan yang timbul dari membiarkan anak saya tetap menyusu. Saya yakin pada akhirnya anak saya akan menyapih dirinya sendiri.

Jadi untuk para ibu yang menjelang masa menyapih, ga perlu galau lagi ya. LANJUTKAN! Jika memang itu dirasa baik. Boleh dan pastinya juga tidak berbahaya kok memberi ASI lewat dari 2 tahun. Semangat ngASI. 

Setahun Penuh Kerinduan

6 Desember, setahun lalu, seluruh keluarga menerima kabar yang sama. “Embah dibawa ke rumah sakit”, begitu bunyi chat di grup keluarga. Namun kami lalai, “ah sudah biasa embah masuk rumah sakit, nanti juga sembuh lagi” pikir kami. Selang beberapa jam ternyata embah harus dirawat di ICU dan seluruh keluarga menyegerakan datang.

Minggu pagi, setahun yang lalu, aku meninggalkan rumah yang belum rapih untuk melihat keadaan embah. ketika itu aku datang dan embah sudah berada di ICU, keluarga tidak bisa menemani di dalam ruangan, kami hanya bisa bergantian melihat keadaannya. Yang aku ingat ketika aku menghampirinya Embah hanya mampu bergumam “sakit, mau pulang aja” tanpa suara yang keluar karena ada selang di mulutnya untuk membantunya bernafas. Aku ingat, aku sempat mengajaknya untuk istigfar, sebentar, tapi karena peraturan ICU yang ketat keluarga tidak diperkenankan berada terlalu lama di dalam ruangan. Aku ingat kami menunggu, ada kepanikan diwajah keluarga, tapi tak ada air mata saat itu. Satu persatu keluarga datang, beberapa harus bekerja dan hanya bisa menemaninya sebentar. Begitu juga aku yang beranjak pulang siang itu.

Minggu sore, setahun yang lalu, telfon masuk, chat di grup keluarga juga mengabarkan “Embah kritis”, begitu kata-kata yang terekam di otakku hingga kini. Aku bergegas menyiapkan semua yang mampu teraih oleh tanganku dan segera kembali menuju rumah sakit. “Tunggu kitty, mbah” ucapku terus berulang dalam hati. Kelima anaknya yang berada disana menyaksikan bagaimana Embah diperjuangkan untuk terakhir kalinya, alat pacu jantung dan semua yang diharap bisa membantu ternyata tak mampu membantu. Adzan magrib berkumandang. Kemudian, “Inna lillahi wa inna illaihi rojiun, Embah udah ga ada” begitu pesan di grup yang mengabarkan, dan seketika itu tangisku pecah. Aku masih 2Km jauhnya dari rumah sakit dan tak mampu berbuat apa-apa.

Minggu malam, setahun yang lalu, aku hanya bisa memberikan doa terbaikku. Karena sejak saat itu tak ada lagi yang bisa kami berikan untuk Embah.

Embah, lalai kah kami menjagamu?
Karena kami tak selalu ada ketika kamu rindukan. Karena kami kadang terlalu sibuk untuk sekedar menemanimu.

Embah, kurangkah kami membahagiakanmu?
Karena samar-samar aku ingat, sempat melihat kekecewaan dan duka di hari-hari akhir hidupmu.

Embah, belumkah kami menyenangkanmu?
Karena masih ada percakapan yang terngiang di kepalaku setiap kali aku mengingatmu. Pertanyaan yang kau tanyakan padaku pada suatu malam beberapa tahun yang lalu. Maaf, aku belum mampu menjawabnya, bahkan sampai saat ini aku belum temukan jawabannya.

Embah, kami sudah menjalani setahun penuh kerinduan.
Tapi kami yakin Embah sudah jauh lebih tenang disana. Tanpa perlu merasakan sakit lagi.

Semoga kelak kita semua dikumpulkan kembali di SurgaNya. Hingga saat itu, ku titipkan cinta untukmu dalam setiap doaku.

img_2459

*mengenang satu tahun meninggalnya Mama & Embah kami tercinta almh. Hj. Istiarti Rawumali.

Keluarga Tempatmu Kembali

Semahal itu kah waktumu?
Hingga kehangatan keluarga tidak mampu membayarnya.
Padahal mereka selalu berusaha untuk menyambutmu dengan pelukan terhangat mereka.
Sesibuk itu kah kamu?
Hingga kebersamaan keluarga kalah pentingnya.
Padahal mereka selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh-kesahmu.

img_2121

Bukan kah kamu masih menyebut dirimu bagian dari keluarga ini?
Bukan kah kamu masih menyebut dirimu teraliri darah keluarga ini?
Bukan kah kamu bangga memiliki nama keluarga ini?
Meski tak pernah kamu akui secara terang-terangan.

Lalu, dibagian mana peranmu bagi keluarga ini?
Apakah menurutmu hadir pada pesta-pesta perayaan dimana kamu bisa menampilkan dandanan terbaikmu adalah cerminan kamu menjadi bagian dari keluarga?
Apakah menurutmu datang di saat kemalangan melanda dimana kamu bisa memakai jubah dukamu adalah pertunjukan peranmu dalam keluarga?

Lupa kah kamu?
Bahwa keluarga ini yang mengangkatmu dari kubangan setiap kali kamu jatuh.
Lupa kah kamu?
Bahwa keluarga ini yang kau datangi saat kamu merasa tidak berdaya.
Lupa kah kamu?
Bahwa keluarga ini yang memagarimu dari setiap musuhmu.
Lupa kah kamu?
Bahwa keluarga ini yang mengulurkan pelukan kehangatan setiap kali dinginnya dunia mengusikmu.
Lupa kah kamu?
Bahwa keluarga ini yang akan mengingat kehadiranmu, mendoakanmu dan memanggu keranda mayatmu kelak.

Tapi mengapa keluarga ini yang kamu dustai dengan kesibukanmu?
Tapi mengapa keluarga ini yang kamu bohongi dengan ketidakhadiranmu?
Tapi mengapa keluarga ini yang kamu bodohi dengan kealpaanmu?

Sehebat itu kah kamu hingga enggan berada ditengah keluarga ini?
Semandiri itu kah kamu hingga enggan duduk bersama keluarga ini?

Atau sebetulnya kamu malu?
Karena hanya keluarga ini yang selalu menerima kekuranganmu, memaafkan perilakumu, mencintai kebodohanmu, memaklumi kesalahanmu, melindungi dirimu meski kamu selalu mengulanginya… lagi… dan lagi.

Kembali lah, agar kelak kamu tidak menyesal saat tak ada lagi semua orang yang kini masih bisa kamu sebut keluargamu.
Sadar lah, sebelum kamu kehilangan semua yang tak kamu syukuri tentang keluargamu.

Tangan-tangan ini selalu terbuka menerima kehadiranmu. Begitu juga hati-hati ini yang selalu menantikan kepulanganmu ke tengah keluarga. Karena dari keluarga ini kamu berasal. Dan kepada keluarga ini tempatmu kembali.

The Last Barongsai

Dalam film Indonesia kita banyak sekali melihat tema cinta disuguhkan dalam berbagai macam cara. Karena cinta adalah nilai yang universal, yang tak bisa kita hilangkan dalam keseharian dan kehidupan kita. Cinta yang kemudian dijahit dalam benang keluarga dan balutan tradisi inilah yang sejak lama menjadi ciri khas dari karya-karya produksi Karnos Film. Tidak bisa kita lupakan serial Si Doel yang mencuat di era 90-an, yang selalu memiliki tempat di hati para penonton Indonesia, hingga sekarang. Kini, sebuah persembahan film layar lebar dibuat dengan nafas yang serupa, yang akan memaksa kita kembali bercengkrama dengan tradisi yang hampir tergeser oleh moderenitas di tengah era globalisasi ini.

The Last Barongsai.

img_1375Sebuah film yang disutradarai Ario Rubbik ini merupakan film adaptasi dari novel dengan judul yang sama (karya Rano Karno). Menampilkan aktor-aktor terbaik seperti Tio Pakusadewo, Dion Wiyoko, Aziz Gagap, serta sederet aktor lain yang tak kalah baiknya. The Last Barongsai menjanjikan sebuah cerita tentang keluarga dengan latar belakang budaya Tionghoa yang kental. The Last Barongsai hendak mengingatkan kita tentang semangat perjuangan yang tak boleh padam meski dibayangi oleh ketakutan dan trauma masa lalu.

Saya pribadi sangat menantikan tayangnya film ini yang baru akan tayang 2 bulan lagi, tepatnya Januari 2017. Karena bukan berarti karena keluarga saya yang membuat film ini lantas saya bisa nyolong start dengan menonton film ini lebih dulu. Saya tetap harus mengantri bersama kalian semua di bioskop bulan januari nanti. Yahh, kecuali kalau saya kebagian tiket premier-nya. Hehehehe…

Film ini merupakan film kedua dimana Ario Rubbik dipercaya sebagai sutradara film produksi Karnos Film. Film sebelumnya Satu Jam Saja cukup mendulang sukses dipasaran, dan semoga film The Last Barongsai ini akan menyamai, bahkan melebihi, kesuksesan film Satu Jam Saja.

Oh ya, di film The Last Barongsai ini kita semua akan menyaksikan untuk pertama kalinya pertemuan antara 2 aktor kawakan, Rano Karno dan Tio Pakusadewo, dalam sebuah produksi film. Worth to wait, right?

Mau lebih penasaran lagi? Nih aku kasih bocoran behind the scenes pembuatan film The Last Barongsai.

DCIM100MEDIADJI_0092.JPG

img_1380img_1378img_1379Masih mau lagi??? Nih lagi dehh… ?

img_1382img_1377img_1376Udahh yaaa segitu dulu..
Btw, Sementara sebelum filmnya tayang kalian bisa ikuti update tentang The Last Barongsai untuk tau lebih banyak dan semakin meningkatkan tingkat ke kepoan kalian terhadap film ini dengan mengikuti social media official film The Last Barongsai dibawah ini ya :
Twitter : @filmTLBarongsai
Facebook Fanpage : www.facebook.com/filmthelastbarongsai
Instagram : @filmthelastbarongsai

Jadi, sampai ketemu di bioskop bulan Januari 2017 yaa…
Ada yang mau nobar? Hehehe..

Help me to be a better mom.. Please!

Pengen ngoceh-ngoceh tentang hal yang belakangan jadi perhatian gue..
Sejak hamil dan sekarang masih jadi busui gue banyak gabung sama komunitas-komunitas pendukung ibu.. Mulai dari komunitas gentle birth sampe komunitas pro asix & mpasi homemade..
Trus gue jadi banyak galaunya aja gitu.. Banyak hal yang gue sesali baru gue tau sekarang, bukan dulu saat gue hamil Qyara..

Contoh :
Gue dulu sama sekali ga paham soal imd, apa lagi asix.. Qyara lahir ga di IMD (walaupun kalau tau ttg IMD pun kayanya ga bisa diterapkan krn Qyara saat lahir ga bergerak dan ga nangis) plus Qyara juga sejak pulang dari RS udah dapet bekel sufor (sufor soya krn bawaan alergi, meskipun gue ga pernah dpt penjelasan tentang alerginya dan pas 1thn pun ganti susu sapi dia oke-oke aja).. Qyara juga cuma minum asi 4bulan, Qyara juga mpasi dini.. 🙁

Trus gue mendadak merasa dosa gue banyak banget sebagai seorang ibu, gue ga memberikan yg terbaik buat anak gue, gue ga mengurus dia semaksimal yang gue bisa, gue ga memberdayakan diri gue untuk cari ilmu.. Maafin bunda ya, Kak..

Trus sekarang gue jadi seperti berusaha menebus dosa gue dengan menerapkan ilmu gue untuk ngurus Zia..
Seperti waktu gue hamil kemaren, gue maksa nyari dokter yg nyaman dihati, enak diajak diskusi tentang kehamilan dan melahirkan, pro normal dan juga pro gentle birth (walaupun gue ga pernah nanya langsung soal gentle birth).. alhamdulillah semua yang gue harapkan dari seorang dokter kandungan gue dapatkan, dan Alhamdulillah juga proses melahirkan yg gue alami kemarin itu cukup gentle, plus IMD yang prosesnya indah banget..
Sekarang gue juga ngotot mau ASIX dan mau mpasi tepat waktu.. Ga peduli orang mau bilang apa soal asix, sufor, mpasi.. Pokoknya tekad dan niat gue udah bulat.. Bahkan rasanya kalo ada yg bawel soal mpasi dini pengen gue bawain golok..

Mungkin gue termasuk emak yang lebay.. Terserah lah orang mau bilang apa.. Yang penting niat gue bener dan seharusnya kalian semua mendukung dan membantu gue kalau emang care sama gue atau Zia, bukannya malah nyuruh ngasih makan Zia, apa lagi ngumpet-ngumpet tanpa seizin gue ngasih Zia makanan/minuman (walaupun cuma secuil/secocol)..

Sakit banget hati gue kalo ada yang nyuruh gue ngasih makan Zia dari sekarang.. Apa lagi kalo ada yg ngasih-ngasih makanan/minuman ke Zia.. Zia baru 3bulan, belom boleh makan apa-apa.. Air putih aja ga pernah dikasih, kok tega ngasih yang aneh-aneh.. Gue berusaha menjaga dan mengurus dia baik-baik, kok tega ngerusak apa yang udah gue jaga baik-baik.. Kok tega? Kok jahat? Kok jail? Kok rese? Katanya sayang tapi kok gitu??

Serius deh, kalo ga mau ada perang saudara mendingan jangan coba-coba ngasih apa yg belom waktunya ke Zia.. Gue sedang berusaha memberikan yang terbaik buat anak gue..
Tolong bantu gue jadi ibu yang baik..
Tolong bantu gue jadi ibu yang lebih baik dari gue yang sebelumnya,
or even lebih baik dari kalian semua..