Manfaat Coklat untuk Tubuhmu

Kamu pecinta coklat seperti aku? Sepertinya hobi makan coklatmu harus kamu lanjutkan. Kenapa? Karena ternyata manfaat coklat sangat beragam dan baik untuk kesehatan tubuh. Coklat adalah makanan yang dihasilkan dari olahan buah kakao, yang awalnya digunakan sebagai hadiah di hari raya. Tapi kini coklat bisa kita temui di mana saja dengan brand dan jenis yang bermacam-macam.

photo source : http://www.bogor.net

photo source : http://www.bogor.net

Selain dipercaya membuat orang merasa bahagia saat mengkonsumsinya, ternyata coklat juga punya banyak manfaat lainnya jika dikonsumsi secara rutin dengan jumlah tertentu. Kandungan flavonoid dalam coklat dipercaya dapat menurunkan tekanan darah dan juga mencegah terjadinya serangan jantung. Selain itu coklat juga berguna untuk meningkatkan gairah, bahkan penelitian mengatakan bahwa penyuka coklat cenderung memiliki libido yang lebih baik dibanding mereka yang tidak menyukai coklat.

Meskipun banyak yang mengatakan memakan coklat membuat seseorang menjadi gemuk, namun para ahli justru berpendapat sebaliknya. Salah satu manfaat coklat adalah dapat menurunkan berat badan. Mengkonsumsi coklat dapat memenuhi kebutuhan kalori untuk tetap aktif, maka secara alami makan atau minum coklat dalam jumlah cukup dapat menggantikan kebutuhan seseorang untuk mengkonsumsi makanan lainnya. Coklat juga dapat dijadikan obat pertolongan pertama pada orang yang terkena diare. Kandungan flavonoid dalam coklat dapat mengikat protein dalam usus dan membantu menyembuhkan diare.

Manfaat coklat juga dapat dirasakan bagi para ibu hamil. Berdasarkan penelitian yang di lansir dalam jurnal Annals of Epidemiology, zat theobromine pada cokelat dapat menghindarkan ibu hamil dari keadaan pre-eklampsia. Seperti yang kita ketahui pre-eklampsia adalah keadaan yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup ibu dan bayi, maka dari itu ibu hamil bisa mencegahnya dengan mengkonsumsi coklat secara rutin.

Kini, selain untuk dimakan coklat juga dimanfaatkan untun perawatan tubuh. Sudah tidak aneh lagi jika kita menemukan coklat dalam produk-produk perawatan kulit, wajah dan rambut. Aroma coklat yang khas membuat perawatan dengan menggunakan coklat akan membuat seseorang merasa lebih rileks.

Jadi, jika kamu pecinta coklat, jangan khawatir lagi dengan mitos-mitos buruk tentang coklat.

Jakarta Memilih Kandidat Gubernur Terbaik

Jakarta memilih! Ya, Hari ini DKI Jakarta, dan beberapa daerah lain, melakukan pesta demokrasi. Sepengetahuan saya, ada paling tidak 7 provinsi yang akan menentukan pemimpin barunya hari ini. Selain DKI ada provinsi tetangga yaitu Banten yang juga akan melakukan pencoblosan. Pencoblosan serentak juga dilakukan oleh provinsi Aceh, Papua Barat, Gorontalo, Bangka Belitung dan Sulawesi Barat. Selain ke 7 provinsi tadi, pemilihan pemimpin daerah hari ini juga dilakukan oleh 76 kabupaten dan 18 kota di Indonesia.
logo-pilkada-2017_20161129_224542

Namun, kenapa seluruh mata hanya tertuju pada pemulihan Gubernur DKI? Beberapa orang akan berkata, karena DKI adalah Ibu Kota Negara. Beberapa yang lain mengatakan pilkada DKI akan menjadi pemanasan bagi para calon presiden dan partai politik di 2019 nanti. Tapi saya tidak sedang ingin bicara tentang politik. Saya ingin bicara tentang kepemimpinan.

Sebagai seorang pemegang KTP DKI, yang hari ini akan turut serta melakukan pemilihan atas 3 kandidat terbaik saya tentu punya kriteria khusus. Pemimpin seperti apa yang saya inginkan melanjutkan eftafet kepemimpinan di Ibu Kota tercinta ini. Para calonnya jelas 3 orang yang diusung oleh para partai. Calon nomer 1 yaitu Agus-Sylfi diusung oleh Demokrat, PPP, PAN dan PKB. Calon nomer 2 yaitu Akoh-DJarot diusing oleh PDIP, Golkar, NasDem dan Hanura. Sedangkan calon nomer 3 yaitu Anies-Sandi diusung oleh Gerindra dan PKS. Tapi mari kita soroti ketiga calon gubernur yang ada.

Agus dikenal sebagai anak mantan Presiden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono, yang aktif di militer. Pengabdiannya sebagai TNI cukup panjang dan mengagumkan, meski keputusannya untuk pensiun dini dari karier militernya dan beralih ke politik cukup disayangkan oleh banyak orang, tetapi keputusan Partai Demokrat untuk melanjutkan kaderisasi sepertinya sudah bulat sejak terpilihnya Agus sebagai wakil Demokrat dalam pesta rakyat DKI kali ini. Banyak spekulasi yang beredar di kalangan masyarakat tentang keterlibatan Agus yang begitu mendadak dalam pesta rakyat kali ini. Tapi saya pribadi memandangnya sebagai suatu kewajaran. Sebagai seorang anak bangsa, Agus tetap memiliki hak maju sebagai pemimpin daerah. Secara pribadi, saya menyukai sosok Agus sebagai anak yang baik dari orang tuanya, juga suami dan ayah yang sempurna bagi keluarga kecilnya. Kehidupannya yang jauh dari terpaan gossip miring patut diacungi jempol, mengingat ayahnya adalah salah satu orang besar di Negara ini, dan sang istri juga mantan artis yang memiliki banyak fans. Namun, siap kah Agus menjadi pemimpin Jakarta? Itu bukan bagian saya untuk menjawabnya.

Kemudian ada Ahok, yang pastinya cukup dikenal oleh masyarakat Jakarta. Kandidat pertahana ini menjadi tema dalam banyak perbincangan sejak pemilu 2012. Perdebatan mengenai agamanya yang non-muslim sudah pasti dijadikan garis bawah dalam pencalonannya, bukan hanya saat itu, tapi juga sekarang. Namun tentu saya tidak akan membahas tentang hal tersebut, agama adalah hal yang penting, tapi bukan untuk diperdebatkan. Saya melihat Ahok sebagai sosok yang tegas dan blak-blakan, sosok manusia yang sulit kita temukan di jaman sekarang ini. Ahok berani mendobrak penyimpangan yang telah berakar di birokrasi Jakarta selama bertahun-tahun, dan dia dengan berani “mengusir” siapa saja yang melakukan penyimpangan. Ketegasan semacam ini agaknya suatu yang kita perlukan, mengingat kondisi birokrasi yang semakin menyedihkan. Satu-satunya hal yang saya sayangkan adalah pemilihan kata yang dilontarkan oleh Ahok terkadang kurang tepat dan pada akhirnya menjadi bumerang terhadap dirinya. Lisannya tak jarang menyakiti dan menuai kontrofersi. Lalu, pantaskah Ahok menjadi Pemimpin DKI lagi? Itu bukan bagian saya untuk menghakimi.

Keberadaan dua calon tersebut dilengkapi dengan hadirnya sosok Anies. Saya mengenal sosok Anies sebagai seorang pengajar. Sebagai dosen dan rector salah satu universitas di Jakarta. Kemudian juga sebagai pencetus ide lahirnya Indonesia Mengajar. Untuk waktu yang cukup panjang saya mengidolakan sosok Anies, tapi keputusannya mulai merambah ke dunia politik bisa dibilang cukup saya sesali. Sosoknya yang jauh dari kontroversi teramat tidak cocok untuk dunia politik. Tapi seperti yang selalu dia katakana, jika orang baik tidak mau turun tangan, maka pengurus negeri kita akan dipenuhi terlalu banyak orang bermasalah. Sayangnya kesempatan sebagai calon presiden independen pada pemilu 2014 kemarin pupus, kemudian dia merapat pada kubu Jokowi sebagai Tim Sukses. Sempat menapuk jabatan sebagai Menteri Pendidikan selama 1,5tahun, Anies menghasilkan banyak terobosan dalam dunia pendidikan, hingga akhirnya diberhentikan. Anies kembali ambil bagian dalam pemilu DKI sebagai calon gubernur. Kemudiaan, akankah Anies yang menang? Itu bukan bagian saya untuk memutuskan.

createimage_small.phpSejak awal saya sudah tau pilihan saya, meski saya tidak pernah membicarakan di media social. Bukankah salah satu azas pemilu adalah KERAHASIAAN? Maka biarkanlah pilihan saya tetap rahasia. Semua itu juga dilakukan untuk menghindari perdebatan dan permusuhan dengan para pengusung calon lain yang punya mental sumbu pendek. Bagi saya, tugas saya sebagai anak bangsa dan rakyat DKI Jakarta adalah ikut serta dalam pesta demokrasi ini. Dalam hal berdebat, biarkanlah itu menjadi bagian para calon dan tim pemenangannya di acara-acara TV. Saya juga yakin kalian sudah menemukan sosok pemimpin yang paling sesuai dengan aspirasi, dan hari ini adalah waktunya JAKARTA MEMILIH pemimpinnya. Apakah Jakarta memilih untuk mendapatkan pemimpin baru? Atau justru, Jakarta memilih untuk melanjutkan kepemimpinan pertahana?

Untuk semua warga Jakarta, selamat mengawasi pemilihan gubernur
Dan, siapapun yang menang nanti, kita punya tugas untuk mengawal Jakarta dalam kepemimpinannya selama 5 tahun kedepan.

Awal Pada Sebuah Akhir

Rasanya baru semalam momen pergantian tahun berlangsung dan kita semua memasuki awal tahun yang baru. Tapi ternyata, hari memang terasa begitu cepat berlalu ketika kita menikmati hidup.

Di penghujung Januari ini saya punya beberapa hal yang ingin saya bagi. Sebutlah ini resolusi tahun 2017 saya meski mungkin terlambat 30 hari untuk menuliskannya. Resolusi Saya dalam dunia penulisan ditahun ini adalah memiliki minima 5 buku antologi dan sebuah buku solo.

Di trisemester awal tahun ini ada 2 buku antologi yang InsyaAllah akan segera terbit. Masih ada PR 3 buku antologi lagi yang harus saya cari untuk memenuhi resolusi Saya tahun ini. Ada yang mau mengajak saya membuat antologi atau menulis bersama? Hehehe..

Satu buku solo sedang saya tulis yang saya target kan untuk selesai bulan April. Setelahnya baru akan saya ajukan ke penerbit. Khusus untuk buku solo, Saya masih merasa bahwa fiksi adalah jenis tulisan yang cocok bagi saya. tapi kita tidak pernah tau jika suatu hari nanti saya akan juga menulis buku-buku non fiksi.

Oh ya, tahun ini juga Saya berencana untuk mengikuti banyak traingin dan pelatihan mmenulis. Karena saya tau bahwa untuk menjadikan tulisan kita baik, kita harus terus belajar. Malu lah kalau ga mau belajar. Wong, penulis lawas aja masih banyak yang cari ilmu kesana-sini. Saya suka sekali belajar. Semua orang sepertinya sudah tau tentang itu, maka belajar menulis menjadi sesuatu yang justru menjadikan saya lebih bahagia.

IMG_5240

Ada yang mau berbaik hati memberikan saya informasi-informasi tentang training kepenulisan, atau kerja sama menulis. Please don’t hesitate to contact me. Saya tunggu ya.

Disleksia Bukan Halangan Untuk Menulis

Pernahkah Anda mendengan tentang DISLEKSIA?

Disleksia bukan nama sebuah penyakit. Disleksia adalah sebuah gangguan pertumbuhan. Menurut KBBI, disleksia adalah gangguan pada pengelihatan dan pendengaran yang disebabkan oleh kelainan saraf pada otak, sehingga anak mengalami kesulitan membaca. Secara umum, biasanya baru terdiagnosa di usia awal sekolah dasar, sekitat usia 7-9 tahun.

Anak dengan disleksia selalu kesulitan untuk membaca walaupun anak tersebut tidak memiliki gangguan pengelihatan, pendengaran atau pun intelektual. Gejala dan kesulitan itu biasanya diperparah dengan munculnya anggapan “bodoh” pada diri si anak. Pemikiran bahwa tidak bisa membaca sama dengan bodoh menjadikan anak dengan disleksia tumbuh sebagai pribadi yang rendah diri. Semakin tidak ingin mencoba untuk membaca dan semakin ketinggalan dalam pelajarannya.

sumber : dokterdigital.com

sumber foto : dokterdigitaldotcom

Saya mungkin salah satu orang yang beruntung. Karena meski menderita disleksia dan sangat terlambat membaca dibanding teman-teman sebaya, saya dianugerahkan orang tua yang “tidak puas” menerima penjelasan bahwa anak mereka “kurang” dibanding teman-temannya. Ditambah dianugerahkan guru yang begitu telaten mengajari saya membaca. Guru yang dengan sabar memperbaiki semua huruf b yang saya tulis d, serta banyak huruf p yang berubah jadi q. Guru yang meyakinkan saya bahwa membaca itu asik. Guru yang percaya saya bisa menulis dengan benar asalkan mau membacanya berulang kali.

Disleksia tidak membuat saya benci membaca. Justru sejak bisa mengeja saya tidak pernah berhenti membaca. Dari buku hingga tulisan di papan-papan jalan. Dari komik hingga tulisan di kemasan makanan ringan. Semua yang berhuruf selalu menjadi bacaan yang menyenangkan. Meski kadang saya harus mengejanya dan membacanya berkali-kali untuk dapat memahami maknanya.

Menjadi seorang dengan disleksia di masa kecil, juga tidak memutus cita-cita saya menjadi seorang penulis. Siapa bilang seorang dengan gangguan membaca tidak bisa menulis? Saya buktinya. Saya bisa menulis dan saya cinta pekerjaan ini. Meski butuh waktu yang lebih lama bagi saya untuk menulis karena typo adalah cemilan harian saya. Tapi saya sudah buktikan bahwa menulis bukan kegiatan haram bagi penderita gangguan tersebut.

Keberadaan komputer sangat memudahkan para penderita. Menulis dengan media komputer dapat meminimalisir kemungkinan adanya bentuk huruf yang “tak semestinya”, juga adanya bantuan auto correction yang membuat typo menjadi sangat berkurang. Meski memang diperlukan konsentrasi extra untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang sempurna.

Disleksia tidak menghalangi saya untuk menulis dan menjadi seorang penulis. Seharusnya juga bukan musuh bagi kita semua. Gangguan membaca bisa diterapi. Seorang dengan gangguan tersebut juga bisa menciptakan prestasi. Kita hanya perlu menemukan cara yang tepat untuk membuat penderitanya mencintai huruf dan angka.

Ini saatnya kita membuka mata dan dunia yang baru. Menciptakan dunia tanpa tapi, seperti yang saya lakukan selama ini.

Langkah Hijrahku : Ketersediaan Dosa

“Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan diantara kamu benci pada kebenaran itu” ( QS. Az-Zukhruf : 77 )

Sebuah tamparan keras kesadaran itu bukan berasal dari tangan orang, namun dari sebuah ayat yang Allah SWT turunkan di dalam kitab suciNya. Benarlah bahwa kita semua telah lahir pada zaman yang terang-benderang, kita telah di peringatkan, telah di ajarkan, telah diberi bimbingan, namun banyak dari kita yang benci pada semua kebenaran itu. Padahal Allah menciptakan segala aturannya demi kebaikan manusia.

Begitu juga saya yang terlahir dari keluarga muslim, yang belajar agama dari guru-guru sekolah dan ustad namun tetap tertutup hati dan pikiran tentang kebenaran. Terhanyut dalam dosa yang telah diketahui lebih dulu oleh Allah SWT, yang telah diturunkan aturan dan larangan atas dosa-dosa itu ribuan tahun lalu, yang telah dijabarkan secara detail pada ayat-ayan suci juga hadist. Benarlah bahwa Allah SWT Maha Mengetahui, dan manusia adalah makhluk yang lalai.
Saya tidak hendak menunjuk hidung siapa pun, saya hanya hendak menyalahkan diri saya sendiri, atas setiap dosa yang pernah saya buat dalam hidup. Yang menyisakan terlalu banyak penyesalan. Juga air mata taubat yang semoga saja Allah terima. Maka dalam kesadaran yang selalu menghantui, saya berniat mengisahkan perjalanan hijrah saya. sebuah perjalanan yang saya yakini belum sampai pada ujungnya. Juga belum sesempurna yang Allah perintahkan. Namun mudah-mudahan menjadi penyemangat bagi perubahan diri saya, juga pencerahan bagi siapa pun yang nantinya membaca buku ini.

Kita tidak dapat menyangkal bahwa kita hidup pada masa dimana semua hal bisa didapatkan. Dengan cara yang sangat murah dan mudah. Ketersediaan itu lah gerbang awal datangnya dosa.
Bagai mana tidak?

Apapun yang kita inginkan telah tersedia dan sangat mungkin mengandung dosa-dosa yang tidak kita sadari, atau sebenarnya kita sadari namun lalai kita hindari. Dewasa ini, dosa dikemas menjadi banyak hal-hal menarik. Begitu menggoda hingga sulit dijauhi. Begitu dekat hingga sulit dihindari.

Tayangan-tayangan film juga sinetron yang menceritakan kisah-kisah percintaan. Dari percintaan yang wajar hingga percintaan yang abnormal. Dikemas dalam film-film bergenre klasik, horror bahkan kartun. Ditujukan bagi penonton usia dewasa, remaja, bahkan anak-anak. Tayangan-tayangan itu membantuk pemikiran “wajar” pada benak kita, kemudian satu persatu dari kita mulai terpengaruh dengan apa yang mereka tampilkan. Mulai dari mengidolakan artis tertentu. Mencoba-coba romansa seperti di film, yang tidak diajarkan oleh agama. Mencoba hal yang berbeda-beda karena anggapan “keren” berlandaskan pada apa yang ditampilkan oleh film.

Kemudian hadir juga pasar-pasar yang dibuat dengan mewah dan indahnya. Memperjual-belikan gaya busana yang berbeda, perhiasan-perhiasan terbaik, bahkan barang-barang yang haram, dan juga menyediakan tempat-tempat bersosialisasi yang terbalut moderenitas. Pasar, baik yang tradisional hingga yang modern seperti mall, seharusnya merupakan tempat yang bertujuan untuk niaga, yang sewajarnya tidak menyajikan hal-hal yang keluar dari aturan-aturan agama. Namun dengan semakin mewah dan indahnya pasar-pasar itu semakin betah kita berlama-lama di dalamnya, menghasilkan dosa-dosa yang tidak kita sadari.

Kemana pun kita melangkah, banyak peluang dosa yang bertebaran. Bahkan meski kita hanya berada di dalam rumah sekali pun, parade dosa itu senantiasa menghantui. Menyapa dalam bentuk-bentuk yang kita anggap wajar. Sampai kita terlena dan lupa bahwa hal itu adalah dosa.
Semudah itu mengakses dosa di jaman yang serba canggih ini. Bahkan lewat tv dan internet pun ada banyak ruang bagi kita melakukan dosa. Sebagai contoh saja, untuk melakukan dosa ghibah, kini kita tidak perlu lagi bertemu dan berkumpul dengan kelompok orang, di media sosial ada banyak ruang untuk melakukan ghibah. Bahkan zina pun bisa dilakukan lewat internet, dengan memandangi foto-foto lawan jenis, artis atau model yang kita idolakan. Semudah itu menumpuk dosa di era modern ini. Hingga kita lupa bahwa kita pernah diajarkan, kita pernah diperingatkan, kita bahkan diperintahkan untuk menjauhi dosa. Namun kita lalai. Mata dan hati kita tertutup dari kebenaran. Bahkan kita membenci kebenaran itu.

Saya tau bahwa pada kenyataannya menghindari dosa-dosa itu sangat sulit. Karena pola kewajaran yang dibentuk pada era modern ini merujuk pada dunia barat, bukan pada budaya-budaya islam. Namun sebenarnya kita dapat memilah hal-hal yang cocok bagi kita sebagai muslim, agar kita dapat meminimalisir dosa.

Selain dari dosa-dosa yang bisa masuk kedalam diri kita karena keberadaannya itu, ternyata ada banyak bentuk dosa yang sangat mudah kita akses, bahkan menjadi sebuah kewajaran. Berkembang begitu pesat disegala kalangan, dari kota hingga desa, tak lagi mengenal si kaya dan si miskin, tak peduli apa pun agama yang kita anut. Namun kemudian kita merasa wajar melakukan dosa karena semua orang melakukan hal yang serupa.

Kalian pasti sering mendengar pertanyaan “pacarnya mana, kok ga diajak?” atau mungkin pertanyaan lainnya seperti “sekarang pacarmu siapa?” yang sering kali ditanyakan oleh para orang tua. Baik orang tua kita sendiri atau pun para orang tua lain. Pacaran menjadi bentuk kewajaran di jaman sekarang ini. Jauh dari budaya ketimuran yang dianut oleh bangsa Indonesia beberapa puluh tahun silam, dimana untuk menikah kebanyakan dari orang Indonesia melalui proses perjodohan. Budaya yang kini sudah dianggap kuno itu justru lebih mendekati budaya islam, karena dalam islam kita tidak mengenal istilah pacaran sebelum menikah, hanya ada proses perkenalan atau taaruf. Namun jika pada masa kini masih ada yang menjalankan taaruf orang kebanyakan malah mempertanyakan, meragukan, bahkan tak jarang beberapa orang berani bertanya “pacarannya kapan, kok udah mau nikah aja?”. Bentuk kewajaran yang berkiblat pada dunia barat ini begitu akrab pada kehidupan kita sehari-hari. Hampir tak mampu kita hindari dan merupakan awal dari terlalu banyak dosa.

Saya pribadi terjebak pada dosa itu sejak usia remaja. Dosa yang jika saya ingat kini membuat saya merasa sebagai hamba Allah yang kotor, hingga separuh diri saya berharap seandainya saja bisa saya kembali ke masa lalu dan menghindari semua dosa itu. Meski dianggap wajar oleh hampir setiap orang, pacaran tetap lah sebuah dosa karena dalam islam ada larangan untuk berpacaran. Bahkan pacaran selalu dikatakan sebagai jalan masuknya zina. Sebuah dosa besar, lagi berat hukumannya.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah (RA), Nabi SAW bersabda : Allah SWT telah mencatat bahwa anak adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakan lagi, dimana dia akan melakukan zina mata dalam bentuk pandangan, zina mulut dalam bentuk pertuturan, zina perasaan yaitu bercita-cita dan berkeinginan mendapatkannya, hingga kemaluan ikut memastikan perzinaan itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

img_3511