Langkah Hijrahku : Ketersediaan Dosa

“Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan diantara kamu benci pada kebenaran itu” ( QS. Az-Zukhruf : 77 )

Sebuah tamparan keras kesadaran itu bukan berasal dari tangan orang, namun dari sebuah ayat yang Allah SWT turunkan di dalam kitab suciNya. Benarlah bahwa kita semua telah lahir pada zaman yang terang-benderang, kita telah di peringatkan, telah di ajarkan, telah diberi bimbingan, namun banyak dari kita yang benci pada semua kebenaran itu. Padahal Allah menciptakan segala aturannya demi kebaikan manusia.

Begitu juga saya yang terlahir dari keluarga muslim, yang belajar agama dari guru-guru sekolah dan ustad namun tetap tertutup hati dan pikiran tentang kebenaran. Terhanyut dalam dosa yang telah diketahui lebih dulu oleh Allah SWT, yang telah diturunkan aturan dan larangan atas dosa-dosa itu ribuan tahun lalu, yang telah dijabarkan secara detail pada ayat-ayan suci juga hadist. Benarlah bahwa Allah SWT Maha Mengetahui, dan manusia adalah makhluk yang lalai.
Saya tidak hendak menunjuk hidung siapa pun, saya hanya hendak menyalahkan diri saya sendiri, atas setiap dosa yang pernah saya buat dalam hidup. Yang menyisakan terlalu banyak penyesalan. Juga air mata taubat yang semoga saja Allah terima. Maka dalam kesadaran yang selalu menghantui, saya berniat mengisahkan perjalanan hijrah saya. sebuah perjalanan yang saya yakini belum sampai pada ujungnya. Juga belum sesempurna yang Allah perintahkan. Namun mudah-mudahan menjadi penyemangat bagi perubahan diri saya, juga pencerahan bagi siapa pun yang nantinya membaca buku ini.

Kita tidak dapat menyangkal bahwa kita hidup pada masa dimana semua hal bisa didapatkan. Dengan cara yang sangat murah dan mudah. Ketersediaan itu lah gerbang awal datangnya dosa.
Bagai mana tidak?

Apapun yang kita inginkan telah tersedia dan sangat mungkin mengandung dosa-dosa yang tidak kita sadari, atau sebenarnya kita sadari namun lalai kita hindari. Dewasa ini, dosa dikemas menjadi banyak hal-hal menarik. Begitu menggoda hingga sulit dijauhi. Begitu dekat hingga sulit dihindari.

Tayangan-tayangan film juga sinetron yang menceritakan kisah-kisah percintaan. Dari percintaan yang wajar hingga percintaan yang abnormal. Dikemas dalam film-film bergenre klasik, horror bahkan kartun. Ditujukan bagi penonton usia dewasa, remaja, bahkan anak-anak. Tayangan-tayangan itu membantuk pemikiran “wajar” pada benak kita, kemudian satu persatu dari kita mulai terpengaruh dengan apa yang mereka tampilkan. Mulai dari mengidolakan artis tertentu. Mencoba-coba romansa seperti di film, yang tidak diajarkan oleh agama. Mencoba hal yang berbeda-beda karena anggapan “keren” berlandaskan pada apa yang ditampilkan oleh film.

Kemudian hadir juga pasar-pasar yang dibuat dengan mewah dan indahnya. Memperjual-belikan gaya busana yang berbeda, perhiasan-perhiasan terbaik, bahkan barang-barang yang haram, dan juga menyediakan tempat-tempat bersosialisasi yang terbalut moderenitas. Pasar, baik yang tradisional hingga yang modern seperti mall, seharusnya merupakan tempat yang bertujuan untuk niaga, yang sewajarnya tidak menyajikan hal-hal yang keluar dari aturan-aturan agama. Namun dengan semakin mewah dan indahnya pasar-pasar itu semakin betah kita berlama-lama di dalamnya, menghasilkan dosa-dosa yang tidak kita sadari.

Kemana pun kita melangkah, banyak peluang dosa yang bertebaran. Bahkan meski kita hanya berada di dalam rumah sekali pun, parade dosa itu senantiasa menghantui. Menyapa dalam bentuk-bentuk yang kita anggap wajar. Sampai kita terlena dan lupa bahwa hal itu adalah dosa.
Semudah itu mengakses dosa di jaman yang serba canggih ini. Bahkan lewat tv dan internet pun ada banyak ruang bagi kita melakukan dosa. Sebagai contoh saja, untuk melakukan dosa ghibah, kini kita tidak perlu lagi bertemu dan berkumpul dengan kelompok orang, di media sosial ada banyak ruang untuk melakukan ghibah. Bahkan zina pun bisa dilakukan lewat internet, dengan memandangi foto-foto lawan jenis, artis atau model yang kita idolakan. Semudah itu menumpuk dosa di era modern ini. Hingga kita lupa bahwa kita pernah diajarkan, kita pernah diperingatkan, kita bahkan diperintahkan untuk menjauhi dosa. Namun kita lalai. Mata dan hati kita tertutup dari kebenaran. Bahkan kita membenci kebenaran itu.

Saya tau bahwa pada kenyataannya menghindari dosa-dosa itu sangat sulit. Karena pola kewajaran yang dibentuk pada era modern ini merujuk pada dunia barat, bukan pada budaya-budaya islam. Namun sebenarnya kita dapat memilah hal-hal yang cocok bagi kita sebagai muslim, agar kita dapat meminimalisir dosa.

Selain dari dosa-dosa yang bisa masuk kedalam diri kita karena keberadaannya itu, ternyata ada banyak bentuk dosa yang sangat mudah kita akses, bahkan menjadi sebuah kewajaran. Berkembang begitu pesat disegala kalangan, dari kota hingga desa, tak lagi mengenal si kaya dan si miskin, tak peduli apa pun agama yang kita anut. Namun kemudian kita merasa wajar melakukan dosa karena semua orang melakukan hal yang serupa.

Kalian pasti sering mendengar pertanyaan “pacarnya mana, kok ga diajak?” atau mungkin pertanyaan lainnya seperti “sekarang pacarmu siapa?” yang sering kali ditanyakan oleh para orang tua. Baik orang tua kita sendiri atau pun para orang tua lain. Pacaran menjadi bentuk kewajaran di jaman sekarang ini. Jauh dari budaya ketimuran yang dianut oleh bangsa Indonesia beberapa puluh tahun silam, dimana untuk menikah kebanyakan dari orang Indonesia melalui proses perjodohan. Budaya yang kini sudah dianggap kuno itu justru lebih mendekati budaya islam, karena dalam islam kita tidak mengenal istilah pacaran sebelum menikah, hanya ada proses perkenalan atau taaruf. Namun jika pada masa kini masih ada yang menjalankan taaruf orang kebanyakan malah mempertanyakan, meragukan, bahkan tak jarang beberapa orang berani bertanya “pacarannya kapan, kok udah mau nikah aja?”. Bentuk kewajaran yang berkiblat pada dunia barat ini begitu akrab pada kehidupan kita sehari-hari. Hampir tak mampu kita hindari dan merupakan awal dari terlalu banyak dosa.

Saya pribadi terjebak pada dosa itu sejak usia remaja. Dosa yang jika saya ingat kini membuat saya merasa sebagai hamba Allah yang kotor, hingga separuh diri saya berharap seandainya saja bisa saya kembali ke masa lalu dan menghindari semua dosa itu. Meski dianggap wajar oleh hampir setiap orang, pacaran tetap lah sebuah dosa karena dalam islam ada larangan untuk berpacaran. Bahkan pacaran selalu dikatakan sebagai jalan masuknya zina. Sebuah dosa besar, lagi berat hukumannya.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah (RA), Nabi SAW bersabda : Allah SWT telah mencatat bahwa anak adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakan lagi, dimana dia akan melakukan zina mata dalam bentuk pandangan, zina mulut dalam bentuk pertuturan, zina perasaan yaitu bercita-cita dan berkeinginan mendapatkannya, hingga kemaluan ikut memastikan perzinaan itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

img_3511

Karena Menjadi Baik Bukan Hanya Soal Niat

Sejatinya semua orang ingin menjadi baik. Iya kan? Iya ga sih? – iya aja deh ya biar cepet.

Sebodoh apa pun kita.
Meski tidak berpendidikan.
Meski tidak beragama sekalipun.
Semua dari kita pasti ingin menjadi baik.

Tapi menjadi baik ternyata tidak cukup jika hanya sebatas ingin. Jika hanya niat menjadi baik saja, kita belum terhitung sebagai orang yang baik. Ada action yang harus diambil. Ada perilaku yang harus ditunjukan. Ada perbuatan yang harus dilakukan.

img_2876

Waktu kecil saya pernah baca buku tentang Robin Hood. Diceritakan bahwa Robin Hood adalah tokoh pahlawan yang menyelamatkan banyak orang. Dia dengan gagah berani mengakali para penguasa yang dengan seenaknya mengambil pajak yang tinggi dari rakyat tanpa membedakan penghasilan rakyatnya besar atau pun kecil. Robin Hood muncul sebagai tokoh protagonis, membantu rakyat dengan membagikan uang hasil curiannya agar mereka bisa tetap melanjutkan hidup. Diceritakan juga bahwa akhirnya Robin Hood merampas seluruh harta para penguasa itu dan dikembalikan kepada rakyat.

Benar bahwa Robin Hood membantu orang lain, memiliki niat dan tujuan yang mulia. Namun sayangnya niat mulianya itu dijalankan dengan cara-cara yang salah. Dan itu menjadikan dirinya orang yang bersalah.

Kenapa?
Niatnya sudah benar kok!
Hasil perbuatannya juga bermanfaat bagi banyak orang!
Kenapa dia bersalah?
Karena dia MENCURI untuk membantu orang lain.

Coba kita bayangkan jika hal itu diterapkan dalam kehidupan nyata.
Saya beri contohnya :
Seorang Ayah ingin mencari nafkah bagi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya, namun dia melakukannya dengan cara mencuri (seperti Robin Hood).
Benarkah perbuatannya? JELAS SALAH! Dilihat secara hukum di negara mana pun apa yang dilakukannya adalah sebuah kejahatan. Bahkan berdasarkan aturan agama mana pun apa yang dia lakukan tetap sebuah dosa.

Sampai di sini saya harap kita semua sepakat, bahwa menjadi baik bukan hanya diukur dari benarnya niat, bukan hanya karena kemuliaan tujuan. Tapi menjadi baik butuh 3 komponen kebaikan. Niat, tujuan dan cara melakukannya.

Kesemuanya.
Bukan sebagai pilihan.
Namun satu kesatuan.

Sukses Bukan Hanya Persoalan Dunia

Saya adalah satu dari sedikit orang yang suka belajar. Mungkin bisa dibilang bahwa hobi saya sebenarnya adalah belajar. Makanya saya selalu membaca, nonton, bertukar pikiran dan mengamati. Kalau ditanya prestasi akademik, saya bisa menjawab dengan bangga bahwa saya lulus kuliah dengan predikat cumlaude dan merupakan lulusan terbaik di angkatan saya.

Photo source : google

Photo source : google

Tapi belajar tentang manusia itu jauh lebih rumit dibanding belajar rumus apapun. Karena manusia tidak punya formula yang paten, maka manusia adalah unsur yang sulit sekali dipelajari.

Di bisnis Moment, saya banyak bertemu orang-orang dengan berbagai latar belakang. Baik yang berasal dari daerah atau kota besar, baik yang lulusan sekolah menengah hingga yang gelar pendidikannya lebih panjang dari namanya, baik yang seagama dengan saya maupun yang berbeda. Berbagai latar belakang ini juga menghasilkan manusia dengan karakter yang berbeda-beda. Seperti yang kita semu ketahui, setiap manusia itu unik.

Tapi yang saya pelajari adalah..
Mereka yang sukses adalah mereka yang haus akan ilmu. Mereka yang sukses adalah mereka yang mau mengeluarkan uang, waktu, tenaga untuk mengejar ilmu. Ilmu yang sebetulnya begitu mudah didapat di era digital seperti sekarang ini, ternyata masih menjadi pembeda antara orang yang sukses dan orang yang gagal. Karena meski ilmu banyak bertebaran dimana-mana, training dan seminar gratis juga sangat mudah ditemukan, namun tekat untuk belajar dan kemauan untuk menjadi lebih baik adalah ukuran pembeda dalam kesuksesan manusia.

Saya mungkin hanya beruntung, terlahir dijaman digital yang menyediakan “makanan lezat” untuk jiwa dan kepala saya. Saya mungkin hanya beruntung, terlahir dari ibu dan ayah yang suka membaca. Saya mungkin hanya beruntung, terlahir sebagai seorang muslim yang diajarkan untuk terus belajar dan mengejar ilmu hingga ajal menjemput.

Tapi saya yakin kesuksesan bukan soal keberuntungan.
Saya yakin sukses adalah hasil dari ilmu dan amal.
Maka disinilah saya, belajar pada dunia, dan berusaha beramal sebaik yang saya bisa.
Karena sukses bukan hanya persoalan di dunia, tapi juga di akhirat.

 

Biografi Rano Karno

Jadi, setelah 40 tahun lebih seorang Rano Karno mengabdikan dirinya sebagai seorang pekerja seni (dan sekarang birokrat) akhirnya muncul juga buku Biografi Rano Karno : Si Doel.

img_8703

 

Buat saya pribadi, sangat pantas seorang Rano Karno punya buku Biografi, karena harus diakui bahwa Rano Karno punya tempat tersendiri di hati masyarakat.

Buku ini bercerita banyak tentang Rano Karno dari berbagai sudut pandang. Dari sudut pandang keluarga, kerabat, teman, sahabat, dan dari saya. Loh? Hehehehe..

Iya betul, didalam buku tersebut ada satu bagian yang isinya tulisan saya tentang Rano Karno, tulisannya pernah saya posting disini, tapi dengan beberapa tambahan special.

Bagi yang berminat membaca kisah hidup Rano Karno sebagai manusia, pekerja seni dan birokrat, buku biografi tersebut sudah bisa di dapatkan di Gramedia terdekat.

Happy hunting. Happy reading.

Saya tunggu komentar, kritik dan sarannya (special untuk tulisan saya di buku tersebut) yaa.. hehehehe..

 

Jangan Cepat Puas

JANGAN CEPAT PUAS!

Mungkin ini adalah ilmu yg selalu aku pegang sepanjang hidupku.. Aku pernah keliling Indonesia gratis krn pekerjaanku.. Aku pernah diliput majalah bahkan punya fans krn pekerjaanku.. Aku pernah punya uang jutaan krn pekerjaanku..
Tapi satu yg membuatku terus berusaha adalah karena aku ingin lebih.. Aku ingin punya waktu lebih untuk beribadah.. Aku ingin punya uang lebih untuk beribadah.. Aku ingin punya waktu lebih untuk orang-orang terkasih.. Aku ingin punya uang lebih untuk membahagiakan orang-orang terkasih..

Kalau aku kerja kantoran tentu aku tidak akan punya time & financial freedom untuk mewujudkan keinginanku..
Tapi aku beruntung bertemu MOMENT.. Karena bertemu MOMENT lah aku bisa mewujudkan punya banyak waktu luang dan uang yg cukup untuk mewujudkan satu per satu mimpiku..

Maka JANGAN CEPAT PUAS dengan apa yg kamu miliki sekarang.. Karena usahamu yg dinilai oleh Allah.. Karena usahamu yg menciptakan siapa dirimu.. Karena usahamu yg akan menghasilkan mimpi-mimpimu!

JANGAN CEPAT PUAS, kawan!