Pekerjaan Penulis yang Dapat Dijadikan Pilihan Profesi

Menulis merupakan hobi yang cukup digemari belakangan ini. Meskipun minat baca orang Indonesia dapat dikatakan minim, namun beragam pekerjaan penulis tetap dibutuhkan dan populer.Bagi kamu yang suka menulis,empat jenis pekerjaan ini mungkin cocok untukmu.

magazine-journalist

source : www.ucas.com

Jurnalis
Jurnalis atau lebih dikenal dengan sebutan wartawan adalah orang yang melakukan kegiatan jurnalistik atau laporan berita. Tulisan jurnalis umumnya dimuat di media massa secara teratur. Jurnalis dapat bekerja secara lepas (freelance) atau dapat pula bekerja pada perusahaan-perusahaan media massa. Pekerjaan ini diatur dan dilindungi oleh pemerintah melalui Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Beberapa organisasi yang telah diakui Dewan Pers, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Asosiasi Jurnalis Televisi Indonesia (AJTI). Jika kamu berminat menjadi Jurnalis kamu bisa merencanakan untuk mengambil kuliah jurusan jurnalistik atau komunikasi. Atau mengirimkan lamaran pekerjaan ke media-media massa yang sedang membutuhkan wartawan, karena persyaratan setiap perusahaan media massa juga bisa berbeda-beda.

Reviewer
Pekerjaan sebagai reviewer seringkali dianggap remeh, namun pekerjaan penulis jenis ini justru dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah yang tak sedikit. Reviewer bekerja dengan cara menuliskan penilaian tentang produk (barang atau jasa) dan kemudian mendapatkan imbalan berupa barang, jawa, ataupun uang. Pekerjaan ini cukup populer sejak keberadaan blog. Orang dengan visitors blog yang tinggi dan memiliki tulisan yang baik akan mendapatkan banyak tawaran untuk melakukan review. Biasanya blogger yang hendak menjadi reviewer akan membiasakan diri membuat ulasan tentang produk-produk yang digunakannya. Jika kamuberminat menjadi reviewer, kamu bisa mulai membangun pembaca blogmu dan membuat ulasan-ulasan tentang hal-hal yang kamu sukai atau benda-benda yang sering kamu gunakan.

Cerpenis
Kamu suka membuat cerpen. Coba kirimkan cerpenmu ke media massa yang menerima cerpen. Ada banyak media yang menerima tulisan dalam bentuk cerpen untuk dipublikasikan. Tapi kamu harus ingat, cerpen yang dibuat harus sesuai dengan media yang kamu tuju. Tentu kamu tidak bisa mengirimkan cerpen tentang cinta ke majalah Bobo, atau mengirimkan cerpen teenlit ke majalah Femina. Perhatikan cerpen-cerpen yang pernah dipublikasikan oleh media yang kamu ingin tuju, kemudian buatlah cerpenmu sesuai dengan karakter tersebut. Selain mengirimkannya ke media massa, kamu juga dapat membuat buku kumpulan cerpen dan mempublikasikannya. Baik menerbitkan dengan cara bekerja sama dengan penerbit major ataupun menerbitkannya sendiri (self publishing).

Penulis Buku
Bagi banyak penulis pekerjaan sebagai penulis buku, baik itu fiksi ataupun non fiksi, tentu menjadi pekerjaan impian. Menerbitkan buku dan menjadikannya sebagai best seller pastilah menghembuskan angin surga dalam bayangan setiap penulis.Kmu dapat mencoba mengirimkan karya tulismu pada penerbit-penerbit major atau menerbitkan sendiri bukumu. Selain itu, kamu juga dapat memanfaatkan beberapa platform menulis sebagai media publikasi karyamu, seperti blog atau wattpad yang kini sangat populer. Bukan tidak mungkin bukumu justru lahir dari tulisan-tulisanmu di blog atau wattpad. Nama Raditya Dika mungkin menjadi contoh blogger yang paling sukses dalam menerbitkan buku. Berawal dari kegemarannya menulis blog, Radit menerbitkan buku Kambing Jantan di tahun 2005 dan hingga kini sudah memiliki sedikitnya enam buku lainnya. Generasi wattpad pun tak kalah Berjaya, kini jika kamu pergi ke toko buku ada banyak buku dengan label “wattpad-lit”, buku-buku tersebut merupakan karya-karya para penulis wattpad yang cukup diminati oleh pasaran.

source: blog.wattpad.com

source: blog.wattpad.com

Nah, jadi pekerjaan penulis yang mana yang kamu inginkan? Sambil menetapkan hati dan pikiranmu, ada baiknya kamu juga terus menulis dan mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dunia kepenulisan.

THR anak hak siapa?

Beberapa hari ini, sejak melewati momen lebaran, saya menemukan banyak sekali postingan meme lucu soal “uang THR anak disimpen emak”, awalnya saya tertawa saat meliatnya. Tapi setelah banyak sekali status seperti ini saya jadi berpikir.

IMG_0153

Uang THR itu hak siapa?
Hak emak atau hak anak?

Sekarang coba kita telaah.

Saat kita menyiapkan uang THR untuk keponakan, niat kita adalah memberi untuk mereka, kan? Bukan untuk orang tuanya. Karena itu kita menyiapkannya di amplop kecil warna-warni, dan saat bertemu kita beri kepada keponakan. Kita jelas bukan memberikannya untuk kemudian menjadi hak orang tuanya. Karena kalau memberi untuk oranh tuanya jelas caranya berbeda. Jadi dari sini aja sudah jelas bahwa THR itu ya hak anak, bukan hak orang tua.

Kalau saya pribadi, uang THR anak memang saya yang simpan. Dalam arti saat dikasih oleh nenek/kakek/om/tante-nya maka mereka akan titipkan pada saya, supaya uangnya lebih aman dan tidak tercecer atau bahkan hilang. Namun kemudian biasanya beberapa hari setelah lebaran saya akan ajak anak-anak ke mall untuk beli barang-barang yang mereka mau dan inginkan. Contoh, buku atau mainan yang agak mahal. Bukan karena saya tidak mampu membelikan buku atau mainan yang mahal untuk anak-anak, tapi jelas kalau pakai uang orang tua pasti kami akan membeli sesuai skala prioritas. Namun, jika itu uang anak maka mereka bebas memilih.

Yang saya ajarkan untuk anak-anak adalah sebelum belanja maka hitung dulu uang yang didapat, lalu pisahkan uang 2,5% yang merupakan “kewajiban” mereka. Mereka memang belum pada usia wajib untuk berzakat dan bersedekah, karena uangnya pun masih merupakan uang pemberian dan bukan hasil kerja mereka, namun ini salah satu cara mengajarkan praktek bersedekah dan berzakat.

Setelah zakat dan sedekah dikeluarkan maka mereka boleh pilih apapun yang mereka inginkan, dengan persetujuan saya. Tahun lalu, anak saya yang kecil beli sepeda baru dari uang THRnya, barang itu saya dan suami yang pilihkan karena memang anaknya masih umur 2 tahun dan belum mengerti uang. Sedangkan kakaknya yang sudah lebih mengerti uang bebas memilih apa yang diinginkannya, dari buku hingga mainan. Tahun ini belum tahu apa yang akan mereka beli, karena baru akan ke mall weekend nanti.

Hal yang memprihatinkan adalah saat anak-anak mendapat haknya, lalu orang tua merasa lebih berhak, bahkan merampas hak mereka. Memaksa anak-anak membeli peralatan sekolah sendiri dengan uang THR mereka, dan mewajibkan anak-anak untuk menabung seluruh uangnya tanpa boleh digunakan, padahal itu merupakan kewajiban orang tua untuk memenuhi kebutuhan pokok tersebut.

Mungkin, akan ada orang tua yang berpikir berbeda dengan saya. Itu hak anda sebagai orang tua. Saya hanya ingin mengajak kalian berpikir ulang. Hak anak-anak atas uang THR itu bukan hak kita. Kita hanya bertugas untuk mengawasi agar uang tersebut tidak digunakan untuk hal-hal yang sia-sia atau dihambur-hamburkan membeli barang yang tidak penting. Namun, THR anak-anak bukan hak kita sebagai orang tua. Uang yang didapat dari amplop lebaran itu adalah murni hak anak-anak kita. Jika mereka dengan ikhlas mau berbagi maka terima lah dengan senang hati, namun jangan paksa mereka untuk memberikan semua uang THRnya untuk memenuhi kebutuhan orang tua. Karena orang tua lah yang seharusnya menafkahi anak-anak mereka.

Penulis Pemula yang Arogan

Saya menemukan banyak sekali penulis pemula yang mudah sekali merasa tersinggung jika karyanya dikomentari orang. Iya, terutama di dunia orange (wattpad) banyak sekali penulis yang marah ketika karyanya dikoreksi atau dikomentari oleh pembaca. Seolah karya yang dibuat oleh para penulis tersebut sudah sangat baik hingga tak ada seorangpun yang pantas mengomentari hal yang dirasa kurang atau salah pada karya tersebut.

wattpad_logo-800

Padahal komentar orang terhadap karya kita akan terus berdatangan meski kita sudah mahir, bahkan meski kita sudah menelurkan banyak karya best seller. Review yang buruk juga bisa datang bahkan dari karya yang luar biasa populer. Pro dan kontra tidak akan pernah ada habisnya. Kritik pun tak jarang berdatangan. Namun keberadaan pro, kontra serta kritik atas karya kita seharusnya membuat kita bangga, minimal ada yang membaca karya kita dan mau berbagi pemahamannya atas tulisan yang kita buat. Kita juga bisa belajar lebih banyak dari pro, kontra, serta kritik yang datang terhadap karya kita.

Sayangnya, tak banyak penulis pemula yang menganggap kritik, saran, serta pro dan kontra terhadap karyanya adalah sebuah kebaikan. Kita langsung merasa tersinggung dan defensif ketika seorang menilai karya kita. Padahal penilaian seseorang atas karya kita belum tentu menyuarakan keseluruhan pendapat orang yang membaca karya kita, loh. Pendapat setiap orang atas setiap karya bisa berbeda-beda. Tergantung dari selera orang masing-masing. Menjadi penulis tidak saja perkara menghasilkan karya tulis. Menjadi penulis berarti kita siap berbagi pemikiran kepada orang lain. Jadi, kalau ada orang yang berpendapat mengenai tulisan kita jangan langsung dimusuhi, barang kali justru dari mereka kita bisa belajar lebih banyak dan menciptakan karya yang lebih baik lagi kedepannya.

Jika baru dikomentari sedikit lalu sudah marah atau tersinggung, maka kita sebagai penulis juga tidak akan berkembang. Bahkan bukan tak mungkin karya kita ditinggal pembaca karena pembaca ilfil sama penulisnya. Jangan sampai karena arogansi ini kemudian karya kita yang bagus justru tidak diterima dengan baik oleh khalayak. Sebagai penulis pasti cita-cita kita adalah membuat karya yang dapat menyentuh dan diterima oleh orang banyak, kan? 🙂

Jangan lupa untuk terus berkarya dan menebar kebaikan di manapun kita berada.
Oh ya, untuk yang ingin berkunjung dan membaca tulisan saya di wattpad bisa follow saya di wattpad dengan username KinantiWP.

Aktifitas Pagi di Media Sosial

Apa sih aktifitas pagi kalian? Setelah bangun tidur yang dicari itu hp dulu kah? cek media sosial kah?

Saya sebenarnya adalah orang yang paling jarang aktif di sosial media ketika pagi hari.
Kenapa?
Karena pagi adalah waktu saya untuk mengurus segala urusan domestik, yaitu suami, anak dan rumah. Saya memang membiasakan diri untuk tidak mencari hp segera setelah bangun tidur. Karena saya tau, kalau sudah pegang hp biasanya ada magnetnya yang bikin kita ga bisa berhenti, cek facebook, cek grup whatsapp, cek line, cek instagram, cek telegram dan banyaaaaak lagi yang rasanya perlu di cek. ?
Dengan membiasakan diri tidak membuka hp di pagi hari saya jadi bisa lebih fokus untuk mengurus urusan domestik. Setelah itu semua selesai baru saya mulai pegang hp. Biasanya sekitar jam 9/10 pagi (selepas dhuha) saya baru mulai pegang hp.
Orang-orang yang sudah lama berbisnis dengan saya tahu, bahwa jika ada hal yang urgent di pagi hari sebelum jam tersebut mereka harus telepon saya, karena kalau hanya chat ke wa/line/telegram pasti saya slow response.
Selain itu, kalau pagi-pagi udah buka socmed dan melihat atau membaca hal-hal yang tidak kita sukai biasanya akan merusak mood juga. Makanya saya cukup menghindari socmed di awal hari saya. Agar mood pagi saya tetap baik dan tidak rusak.

Pada dasarnya, apapun aktifitas pagi yang kita pilih, maka jadikanlah itu sebagai kebiasaan yang baik dan pastikan prioritas pagi kita tidak akan merusak mood di awal hari. Mood yang buruk di awal hari akan membuat kita memiliki aura negatif sepanjang hari.

Oh ya, setelah banyak pertimbangan saya akhirnya membuat channel telegram pribadi. Untuk teman-teman yang ingin mengikuti sharing saya terkait bisnis, menulis dan hal-hal domestik, teman-teman bisa join di link https://t.me/KawanKinanti. Di sana saya akan berbagi seputar bisnis, nulis dan keluarga.

kawan kinanti

channel ini telah berjalan selama seminggu dan sudah ada beberapa sharing yang saya bagikan. Teman-teman juga bisa berteman dengan akun-akun media sosial saya melalui :
FB Kinanti WP
Instagram @kinantiwp

Saya tunggu sapaan teman-teman di media sosial saya, ya. ?

Panggilan Khusus untuk Orangtua Tiri

Sebagai seorang anak yang orang tuanya bercerai, dan seorang ibu yang juga pernah mengalami perceraian, topik tentang panggilan khusus bagi para orangtua tiri ini mungkin adalah hal yang sejak lama layak untuk saya tuliskan. Karena dalam hidup, saya pernah mengalami peristiwa perceraian dari sisi anak dan dari sisi orang tua.

Mama dan Papa saya bercerai ketika usia saya 10 tahun. Mama tetap menjadi single parent, hingga saat ini. Sedangkan papa memiliki keluarga baru, lengkap dengan istri dan anak-anak. Satu hal yang pasti, papa tidak pernah mengajarkan untuk memanggil ibu tiri saya dengan panggilan khusus, ketika mereka masih penjajakan, bahkan hingga mereka menikah. Saya masih memanggil ibu tiri saya dengan panggilan “Tante Soe” sampai ibu tiri saya tersebut mengandung anak pertamanya. Saya baru mulai memanggilnya dengan sebutan “mamih” setelah anak pertamanya lahir. Adik-adik tiri saya pun memanggilnya dengan panggilan yang sama, Mamih. Panggilan saya terhadapnya adalah bentuk hormat saya, bukan atas paksaan atau tuntutan dari pihak manapun. Hubungan saya dan Mamih juga bisa dibilang cukup mulus, kami tidak pernah mengalami bentrokan dalam hal apapun.

Saya sendiri mengalami perceraian saat anak saya berusia 3 tahun, dan baru menikah kembali ketika anak saya berusia 9 tahun. Meskipun saya dan suami mengalami masa penjajakan yang panjang, tetapi saya tidak pernah mengajarkan anak saya untuk memanggilnya dengan sebutan papa, ayah, bapak, atau panggilan lainnya. Anak saya masih memanggilnya “Om” sampai kami menikah. Yang saya ingat, di hari pernikahan kami, ketika kami sedang dalam perjalanan pulang dari gedung resepsi anak saya sempat bertanya “Jadi sekarang aku panggil Om Zikri, apa dong?”, dan kami semua yang mendengarnya hanya tertawa. Di dalam mobil itu ada mama, tante dan beberapa sepupu saya. Tak ada satu orang pun diantara kami yang hendak menjawab pertanyaan tersebut. Hingga keesokan harinya anak saya sendiri yang bilang kalau dia mau panggil “om zikri”-nya dengan panggilan papa.

Hal kecil, yang kadang terlalu dibesar-besarkan itu lah, yang biasanya menimbulkan permasalahan dalam rumah tangga baru. Persoalan panggilan menjadi hal yang begitu penting, padahal dalam pandangan saya sah-sah saja jika anak tiri memanggil orangtua tiri dengan panggilan om/tante. Toh panggilan tersebut masih merupakan panggilan hormat dari anak-anak kepada orang dewasa. Namun, banyak orang tua yang memaksakan panggilan tertentu kepada anaknya hanya untuk menyenangkan “sang pendatang baru”, sehingga perasaan anak terabaikan.

Harus kita sadari, bahwa anak hasil perceraian selalu memiliki trauma dan membawa tanda tanya besar dalam hidupnya, terutama jika perceraian orang tua terjadi di usia anak yang masih sangat muda. Kesedihan dan trauma yang dirasakan anak karena perceraian orang tuanya, mungkin belum sepenuhnya sembuh ketika orang tua mereka memulai hubungan, bahkan membangun keluarga baru. Paksaan yang dilakukan orang tua dianggap hal sepele, padahal anak seharusnya diajarkan untuk mengenal posisinya dalam keluarga. Kebingungan akan terjadi pada anak yang dipaksa memanggil pasangan orang tuanya dengan panggilan khusus. Apa lagi jika belum ada pernikahan yang mengikat ayah/ibu mereka dengan pasangan barunya. Coba bayangkan, jika hubungan tersebut tidak berakhir dalam pernikahan, sedangkan sang anak sudah terlanjur dipaksa dan dibiasakan memanggil “orang baru” tersebut dengan panggilan mama/papa. Lalu setelahnya mereka itu apa? Bekas calon mama/papa? Dalam ukuran saya hal tersebut sangat aneh.

Panggilan untuk orangtua tiri seharusnya dipilih sendiri oleh anak, bukan karena pengaruh tertentu, apa lagi paksaan dari pihak orang tua. Orang tua juga harus mampu menjelaskan dengan baik situasi baru yang akan dijalankan bersama-sama dengan anak-anak mereka. Karena keluarga bukan permasalahan hubungan darah, apa lagi sesepele masalah panggilan. Keluarga adalah mereka yang berada didalam hidup kita, menetap di sana, mencintai dan menerima kita, dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, dalam keadaan apapun, hingga maut memisahkan. Karena keluarga adalah orang-orang yang akan dipersatukan kembali di surgaNya kelak.
IMG_7025