Jakarta Memilih Kandidat Gubernur Terbaik

Jakarta memilih! Ya, Hari ini DKI Jakarta, dan beberapa daerah lain, melakukan pesta demokrasi. Sepengetahuan saya, ada paling tidak 7 provinsi yang akan menentukan pemimpin barunya hari ini. Selain DKI ada provinsi tetangga yaitu Banten yang juga akan melakukan pencoblosan. Pencoblosan serentak juga dilakukan oleh provinsi Aceh, Papua Barat, Gorontalo, Bangka Belitung dan Sulawesi Barat. Selain ke 7 provinsi tadi, pemilihan pemimpin daerah hari ini juga dilakukan oleh 76 kabupaten dan 18 kota di Indonesia.
logo-pilkada-2017_20161129_224542

Namun, kenapa seluruh mata hanya tertuju pada pemulihan Gubernur DKI? Beberapa orang akan berkata, karena DKI adalah Ibu Kota Negara. Beberapa yang lain mengatakan pilkada DKI akan menjadi pemanasan bagi para calon presiden dan partai politik di 2019 nanti. Tapi saya tidak sedang ingin bicara tentang politik. Saya ingin bicara tentang kepemimpinan.

Sebagai seorang pemegang KTP DKI, yang hari ini akan turut serta melakukan pemilihan atas 3 kandidat terbaik saya tentu punya kriteria khusus. Pemimpin seperti apa yang saya inginkan melanjutkan eftafet kepemimpinan di Ibu Kota tercinta ini. Para calonnya jelas 3 orang yang diusung oleh para partai. Calon nomer 1 yaitu Agus-Sylfi diusung oleh Demokrat, PPP, PAN dan PKB. Calon nomer 2 yaitu Akoh-DJarot diusing oleh PDIP, Golkar, NasDem dan Hanura. Sedangkan calon nomer 3 yaitu Anies-Sandi diusung oleh Gerindra dan PKS. Tapi mari kita soroti ketiga calon gubernur yang ada.

Agus dikenal sebagai anak mantan Presiden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono, yang aktif di militer. Pengabdiannya sebagai TNI cukup panjang dan mengagumkan, meski keputusannya untuk pensiun dini dari karier militernya dan beralih ke politik cukup disayangkan oleh banyak orang, tetapi keputusan Partai Demokrat untuk melanjutkan kaderisasi sepertinya sudah bulat sejak terpilihnya Agus sebagai wakil Demokrat dalam pesta rakyat DKI kali ini. Banyak spekulasi yang beredar di kalangan masyarakat tentang keterlibatan Agus yang begitu mendadak dalam pesta rakyat kali ini. Tapi saya pribadi memandangnya sebagai suatu kewajaran. Sebagai seorang anak bangsa, Agus tetap memiliki hak maju sebagai pemimpin daerah. Secara pribadi, saya menyukai sosok Agus sebagai anak yang baik dari orang tuanya, juga suami dan ayah yang sempurna bagi keluarga kecilnya. Kehidupannya yang jauh dari terpaan gossip miring patut diacungi jempol, mengingat ayahnya adalah salah satu orang besar di Negara ini, dan sang istri juga mantan artis yang memiliki banyak fans. Namun, siap kah Agus menjadi pemimpin Jakarta? Itu bukan bagian saya untuk menjawabnya.

Kemudian ada Ahok, yang pastinya cukup dikenal oleh masyarakat Jakarta. Kandidat pertahana ini menjadi tema dalam banyak perbincangan sejak pemilu 2012. Perdebatan mengenai agamanya yang non-muslim sudah pasti dijadikan garis bawah dalam pencalonannya, bukan hanya saat itu, tapi juga sekarang. Namun tentu saya tidak akan membahas tentang hal tersebut, agama adalah hal yang penting, tapi bukan untuk diperdebatkan. Saya melihat Ahok sebagai sosok yang tegas dan blak-blakan, sosok manusia yang sulit kita temukan di jaman sekarang ini. Ahok berani mendobrak penyimpangan yang telah berakar di birokrasi Jakarta selama bertahun-tahun, dan dia dengan berani “mengusir” siapa saja yang melakukan penyimpangan. Ketegasan semacam ini agaknya suatu yang kita perlukan, mengingat kondisi birokrasi yang semakin menyedihkan. Satu-satunya hal yang saya sayangkan adalah pemilihan kata yang dilontarkan oleh Ahok terkadang kurang tepat dan pada akhirnya menjadi bumerang terhadap dirinya. Lisannya tak jarang menyakiti dan menuai kontrofersi. Lalu, pantaskah Ahok menjadi Pemimpin DKI lagi? Itu bukan bagian saya untuk menghakimi.

Keberadaan dua calon tersebut dilengkapi dengan hadirnya sosok Anies. Saya mengenal sosok Anies sebagai seorang pengajar. Sebagai dosen dan rector salah satu universitas di Jakarta. Kemudian juga sebagai pencetus ide lahirnya Indonesia Mengajar. Untuk waktu yang cukup panjang saya mengidolakan sosok Anies, tapi keputusannya mulai merambah ke dunia politik bisa dibilang cukup saya sesali. Sosoknya yang jauh dari kontroversi teramat tidak cocok untuk dunia politik. Tapi seperti yang selalu dia katakana, jika orang baik tidak mau turun tangan, maka pengurus negeri kita akan dipenuhi terlalu banyak orang bermasalah. Sayangnya kesempatan sebagai calon presiden independen pada pemilu 2014 kemarin pupus, kemudian dia merapat pada kubu Jokowi sebagai Tim Sukses. Sempat menapuk jabatan sebagai Menteri Pendidikan selama 1,5tahun, Anies menghasilkan banyak terobosan dalam dunia pendidikan, hingga akhirnya diberhentikan. Anies kembali ambil bagian dalam pemilu DKI sebagai calon gubernur. Kemudiaan, akankah Anies yang menang? Itu bukan bagian saya untuk memutuskan.

createimage_small.phpSejak awal saya sudah tau pilihan saya, meski saya tidak pernah membicarakan di media social. Bukankah salah satu azas pemilu adalah KERAHASIAAN? Maka biarkanlah pilihan saya tetap rahasia. Semua itu juga dilakukan untuk menghindari perdebatan dan permusuhan dengan para pengusung calon lain yang punya mental sumbu pendek. Bagi saya, tugas saya sebagai anak bangsa dan rakyat DKI Jakarta adalah ikut serta dalam pesta demokrasi ini. Dalam hal berdebat, biarkanlah itu menjadi bagian para calon dan tim pemenangannya di acara-acara TV. Saya juga yakin kalian sudah menemukan sosok pemimpin yang paling sesuai dengan aspirasi, dan hari ini adalah waktunya JAKARTA MEMILIH pemimpinnya. Apakah Jakarta memilih untuk mendapatkan pemimpin baru? Atau justru, Jakarta memilih untuk melanjutkan kepemimpinan pertahana?

Untuk semua warga Jakarta, selamat mengawasi pemilihan gubernur
Dan, siapapun yang menang nanti, kita punya tugas untuk mengawal Jakarta dalam kepemimpinannya selama 5 tahun kedepan.

2 thoughts on “Jakarta Memilih Kandidat Gubernur Terbaik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *