The Last Barongsai : Sebuah Pelita Tradisi

Kemarin malam saya berkesempatan untuk hadir ke acara Gala Premiere Film The Last Barongsai di CGV Blitz Grand Indonesia, Jakarta.

img_1375

Sebagai bagian dari keluarga Karno, ekspektasi saya tentang film ini sangat tinggi. Karena saya tau kapan novel The Last Barongsai diterbitkan, saya juga tau kapan tepatnya film ini mulai digarap. 18 bulan bukan waktu yang singkat untuk membuat film. Sejak diputuskan untuk digarap, Rano Karno sebagai pemilik ide cerita, menunjuk Ario Rubbik sebagai sutradara yang akan mengerjakan film ini. Pekerjaan tidak menjadi mudah meski film ini pernah dibuat novelnya. Cerita di film ini mengalami perubahan yang signifikan bila dibandingkan dengan novelnya. Titien Wattimena dengan riset yang cukup panjang mampu mengubah jalan cerita novel tersebut menjadi skenario yang luar biasa.

Menurut pandangan saya, Film The Last Barongnsai menyuguhkan pilihan menarik bagi para penonton Film Indonesia. Sebut saja itu salah satu bagian dari keajaiban Karnos Film. Seperti juga Si Doel (series) yang menyuguhkan budaya sebagai landasan cerita yang dihidupkan dengan begitu menawan, kini The Last Barongsai menjadikan tradisi sebagai pelita pembeda dalam perfilman di Indonesia. Tidak hanya mempertontonkan keunikan dan kehidupan masyarakat keturunan Cina di Indonesia, film ini juga memanjakan penonton dengan nilai-nilai pluralisme yang kental. Sebuah cerminan nyata kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam.

Meski cerita pada film The Last Barongsai berpusat pada drama keluarga keturunan Tionghoa, tapi film ini menceritakan tentang indahnya persahabatan ditengah keberagaman bangsa ini. Banyak nilai kehidupan yang akan Anda temui ketika menonton film ini. Disisipkan dengan manis kedalam adegan-adegan yang dibuat begitu apik.

Tak ingin membahas terlalu banyak tentang para pemain di film ini, karena kualitas akting dari Tyo Pakusadewo, Dion Wiyoko, Hengki Soelaiman, Rano Karno dan sederet artis pendukung film The Last Barongsai ini jelas telah teruji. Namun keberadaan Azis Gagap dalam film ini membuat sentuhan yang berbeda, menciptakan komedi ditengah tema cerita yang serius, yang mungkin tak bisa dilakukan oleh artis lainnya. Sebuah pertunjukan akting luar biasa diperlihatkan Azis dalam film ini.

The Last Barongsai merupakan pilihan film yang baik pada saat ini. Ditengah begitu banyaknya polemik tentang perbedaan yang kini santer kita dengar, film ini mungkin dapat menjadi obat yang menyadarkan kita bahwa perbedaan adalah keuntungan yang perlu kita pertahankan. Film yang sarat nilai-nilai budaya ini akan menjadi penegak jati diri kita sebagai sebuah bangsa. Juga menjadi hiburan yang layak ditonton bersama seluruh keluarga.

IMG_4784

Kepada seluruh tim produksi film The Last Barongsai saya ucapkan selamat dan sukses. Semoga film ini dapat memberi arti lebih dan diterima di tengah masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *