Mengupas Rasa Kehilangan

“Sesuatu baru terasa berharga saat kita telah kehilangan”

Bulan Oktober ini aku kembali diingatkan pada makna kata-kata itu. Seminggu yang lalu aku kehilangan bayi kecil yang seharusnya lahir tahun depan dan menjadi anggota terkecil di keluarga kami. Tapi Allah punya kuasa yang jauh lebih besar dari harapanku. Sebelum sempat memeluknya kami harus merelakannya dan mengucapkan selamat tinggal pada jiwa mungil itu.

Butuh waktu seminggu sebelum aku bisa membicarakannya tanpa air mata, meski sebenarnya aku tadinya tidak mengetahui keberadaannya, tapi kehilangan tetap membuat hati kami dirundung duka. Keluarga kami memang dalam program untuk dapat segera menambah anggota keluarga sejak Juli lalu, tapi ternyata harapan itu belum dapat segera terlaksana.

Entah bagaimana caranya menggembarkan perasaanku saat dokter bilang, “Ini keguguran, Bu.”

Saat itu, aku keluar dari ruang dokter dengan langkah gontai dan perasaan campur aduk, tapi baru menjelang malam air mata yang mengganjal di hatiku tumpah. Aku tak kuasa menangis atas apa yang terjadi, tapi justru setelah keluarga mendengar berita itu dan mengucapkan turut berduka cita rasa sedih itu begitu mencengkeram hatiku. Tapi aku tahu, Allah selalu punya rencana yang lebih baik dari pada rencana manusia. Kehilangan yang harus kami hadapi pasti punya makna lebih bagi kedewasaanku, bagi rasa syukurku dan bagi hatiku yang rapuh.

Till we meet again, Baby.

Teruntuk jiwa kecil yang sempat hadir di rahimku,

Kita memang tak sempat saling menyapa, tapi suatu hari nanti kita pasti akan saling bergenggaman tangan di surga. Mungkin memang dunia ini tak layak bagi jiwamu yang murni, mungkin memang aku tak cukup baik untuk memilikimu saat ini, tapi aku tahu jika akan ada saat dan tempat yang lebih baik untuk kita menjadi keluarga.

Terima kasih karena telah berbagi napas denganku dalam waktu yang singkat itu. Sampai jumpa lagi di surga, Nak. Tunggu aku di sana, bukakan jalan untukku, sisakan tempat bagiku.

Aku yang akan selalu menyayangi dan merindukanmu,
Bunda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *