Panggilan Khusus untuk Orangtua Tiri

Sebagai seorang anak yang orang tuanya bercerai, dan seorang ibu yang juga pernah mengalami perceraian, topik tentang panggilan khusus bagi para orangtua tiri ini mungkin adalah hal yang sejak lama layak untuk saya tuliskan. Karena dalam hidup, saya pernah mengalami peristiwa perceraian dari sisi anak dan dari sisi orang tua.

Mama dan Papa saya bercerai ketika usia saya 10 tahun. Mama tetap menjadi single parent, hingga saat ini. Sedangkan papa memiliki keluarga baru, lengkap dengan istri dan anak-anak. Satu hal yang pasti, papa tidak pernah mengajarkan untuk memanggil ibu tiri saya dengan panggilan khusus, ketika mereka masih penjajakan, bahkan hingga mereka menikah. Saya masih memanggil ibu tiri saya dengan panggilan “Tante Soe” sampai ibu tiri saya tersebut mengandung anak pertamanya. Saya baru mulai memanggilnya dengan sebutan “mamih” setelah anak pertamanya lahir. Adik-adik tiri saya pun memanggilnya dengan panggilan yang sama, Mamih. Panggilan saya terhadapnya adalah bentuk hormat saya, bukan atas paksaan atau tuntutan dari pihak manapun. Hubungan saya dan Mamih juga bisa dibilang cukup mulus, kami tidak pernah mengalami bentrokan dalam hal apapun.

Saya sendiri mengalami perceraian saat anak saya berusia 3 tahun, dan baru menikah kembali ketika anak saya berusia 9 tahun. Meskipun saya dan suami mengalami masa penjajakan yang panjang, tetapi saya tidak pernah mengajarkan anak saya untuk memanggilnya dengan sebutan papa, ayah, bapak, atau panggilan lainnya. Anak saya masih memanggilnya “Om” sampai kami menikah. Yang saya ingat, di hari pernikahan kami, ketika kami sedang dalam perjalanan pulang dari gedung resepsi anak saya sempat bertanya “Jadi sekarang aku panggil Om Zikri, apa dong?”, dan kami semua yang mendengarnya hanya tertawa. Di dalam mobil itu ada mama, tante dan beberapa sepupu saya. Tak ada satu orang pun diantara kami yang hendak menjawab pertanyaan tersebut. Hingga keesokan harinya anak saya sendiri yang bilang kalau dia mau panggil “om zikri”-nya dengan panggilan papa.

Hal kecil, yang kadang terlalu dibesar-besarkan itu lah, yang biasanya menimbulkan permasalahan dalam rumah tangga baru. Persoalan panggilan menjadi hal yang begitu penting, padahal dalam pandangan saya sah-sah saja jika anak tiri memanggil orangtua tiri dengan panggilan om/tante. Toh panggilan tersebut masih merupakan panggilan hormat dari anak-anak kepada orang dewasa. Namun, banyak orang tua yang memaksakan panggilan tertentu kepada anaknya hanya untuk menyenangkan “sang pendatang baru”, sehingga perasaan anak terabaikan.

Harus kita sadari, bahwa anak hasil perceraian selalu memiliki trauma dan membawa tanda tanya besar dalam hidupnya, terutama jika perceraian orang tua terjadi di usia anak yang masih sangat muda. Kesedihan dan trauma yang dirasakan anak karena perceraian orang tuanya, mungkin belum sepenuhnya sembuh ketika orang tua mereka memulai hubungan, bahkan membangun keluarga baru. Paksaan yang dilakukan orang tua dianggap hal sepele, padahal anak seharusnya diajarkan untuk mengenal posisinya dalam keluarga. Kebingungan akan terjadi pada anak yang dipaksa memanggil pasangan orang tuanya dengan panggilan khusus. Apa lagi jika belum ada pernikahan yang mengikat ayah/ibu mereka dengan pasangan barunya. Coba bayangkan, jika hubungan tersebut tidak berakhir dalam pernikahan, sedangkan sang anak sudah terlanjur dipaksa dan dibiasakan memanggil “orang baru” tersebut dengan panggilan mama/papa. Lalu setelahnya mereka itu apa? Bekas calon mama/papa? Dalam ukuran saya hal tersebut sangat aneh.

Panggilan untuk orangtua tiri seharusnya dipilih sendiri oleh anak, bukan karena pengaruh tertentu, apa lagi paksaan dari pihak orang tua. Orang tua juga harus mampu menjelaskan dengan baik situasi baru yang akan dijalankan bersama-sama dengan anak-anak mereka. Karena keluarga bukan permasalahan hubungan darah, apa lagi sesepele masalah panggilan. Keluarga adalah mereka yang berada didalam hidup kita, menetap di sana, mencintai dan menerima kita, dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, dalam keadaan apapun, hingga maut memisahkan. Karena keluarga adalah orang-orang yang akan dipersatukan kembali di surgaNya kelak.
IMG_7025

3 thoughts on “Panggilan Khusus untuk Orangtua Tiri

  1. aku juga punya ibu tiri setelah ibu kandungku gak ada, tapi tetap aku gak bisa manggil dia Mami, paling banter ya Ibu atau Ibu plus namanya dia. Kasih sayang dan perhatian almarhumah ibu kandung tidak tergantikan :’).

  2. Kalau anakku “tiri” waktu awal awal manggil aku mamah pacarnya ayah. Hehehee umurnya baru 6 tahun.
    Tapi sekarang manggilnya mamah atau mamah yeni. Alhamdulillah senang rasanya bisa dekat dengannya. ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *