Persaingan untuk Bahagia

Di dunia ini, kita selalu dipertemukan dengan persaingan. Di sekolah persaingan itu disebut “juara kelas”. Di kantor persaingan itu bernama “karyawan teladan. Lalu terus berlanjut menjadi “the best of something” yang tidak ada habisnya. Banyak orang sering kali sibuk mengejar ketertinggalannya dibanding orang lain, sampai lupa bahwa dirinya turut menguap seiring persaingan itu. Hingga yang tersisa hanya manusia dengan obsesi untuk mengalahkan orang lain, demi mengungguli setiap pesaing yang disediakan hidup padanya.

lawan

Tak jarang, keinginannya untuk menang mengalahkan nurani, hingga membuatnya menghalalkan segala cara. Padahal obsesi itu yang perlahan-lahan menghancurkan dirinya sendiri, menyakiti orang-orang di sekitarnya, bahkan membahayakan bagi orang yang menganguminya. Obsesi yang menenggelamkannya dalam kejayaan semu. Mungkin itu adalah sebuah fase dalam kehidupan. Mungkin semua orang juga pernah mengalaminya. Tapi, setelah aku renungkan, mungkin saja itu justru kesesatan pikiran yang akan membuat kita kehilangan segalanya.

Aku sendiri pernah terpedaya pada pusara persaingan itu. Di saat ada amarah yang menggebu di dada saat kalah, juga ada kesombongan yang menyelinap dalam pikiran saat memang. Hingga aku merasa takut pada diriku sendiri. Dan, kemudian aku menyadari bahwa yang terpenting adalah BAHAGIA, bukan “menang”.

Maka setelah itu aku memilih untuk menyngkir dari “arena lomba” dan menjadi diriku sendiri. Meski itu artinya aku tak memiliki pencapaian yang sama dengan orang lain. Meski aku dianggap tak mampu bersaing dengan orang lain. Meski tak jarang orang beranggapan aku lemah dan payah, juga aneh. Tapi yang terpenting aku bahagia.

Tapi jangan salah, hingga kini aku masih tetap bersaing. Bahkan kali ini persaingan yang kumiliki jauh lebih besar, dengan pesaing yang juga jauh lebih tangguh.

Dia adalah diriku sendiri.

Ketakutanku, keraguanku, kelemahanku, kemalasanku, kesombonganku, hingga ketidakpercayaandiriku menjadi lawan yang jauh lebih penting untuk aku taklukan. Namun karena itu pulalah perjuanganku menjadi jauh lebih berharga. Karena ketika aku menang nanti, aku akan menjadi yang terbaik untuk diriku sendiri, demi kebahagiaanku, untuk kewarasanku. Bukan untuk orang lain, apa lagi demi sebuah halusinasi bernama “kepopuleran”.

dan kebahagiaanku adalah tanggung jawabku.Aku mencintai diriku, dan kebahagiaanku adalah tanggung jawabku. Aku memerlukan waktu yang panjang untuk menyadari hal itu. Jadi itulah yang kemudian aku pilih. Untuk melawan pesaing yang ada di dalam diriku, bukan mencari lawan tertangguh di luar sana untuk aku kalahkan.

Aku melakukannya untuk diriku … dan kamu.

Iya, kamu. Kamu yang sudah merasa lelah dengan semua perlombaan itu tapi terlalu takut untuk menjauh dari arena. Kamu yang jengan dengan persaingan dunia tapi enggan menepi dari arus liar itu. Kamu tidak sendiri. Dan kamu tidak aneh. Kamu hanya telah sadar bahwa yang terpenting adalah kebahagiaanmu, bukan tentang menjadi pemenang. Karena itu pula kamu perlu mengalah pada ego untuk terus bersaing, dan mulai hidup bahagia dengan dirimu sendiri sebagai lawanmu.

Dan jika suatu hari nanti jalanmu menemui jalur persaingan milik orang lain, yang harus kamu lakukan adalah menepi. Jika ia memilih untuk menjadi teman, maka berbaikhatilah. Namun jika ia ingin bersaing maka biarkanlah. Karena itu bukan urusanmu.

Semua orang adalah lawan dari diri mereka sendiri. Namun hidup memang sengaja membuat mereka hanyut pada perlawanan antara satu sama lain, hingga melupakan musuh besar yang sebenarnya. Berhentilah menjadi lawan dari orang lain, dan mulailah menaklukan dirimu sendiri.

Kebahagiaanmu bukan di dapat dari orang lain, dan tak pernah ditentukan dari perlombaan apapun. Kebahagiaan kita adalah pilihan kita sendiri. Maka dari itu jadilah dirimu sendiri, dan berbahagialah.

Dan ingatlah kata-kata yang pernah diucapkan oleh Stephen Hawking bahwa, “On of the basic rules of the univeres is nothing is perfect. Perfection simply doesn’t exist. Without imperfection, neither you nor I would exist.”

source: www(dot)azquotes(dot)com

source: www(dot)azquotes(dot)com

Temukan dirimu. Temukan persainganmu yang sebenarnya. Syukuri ketidaksempurnaanmu. Maksimalkan kemampuanmu. Dan terlebih, berbahagialah.

2 thoughts on “Persaingan untuk Bahagia

  1. Mengalahkan diri sendiri adalah melawan hawa nafsu, dan itulah perjuangan yang sesungguhnya.
    Suka dengan kalimat ini, “maksimalkan kemampuanmu dan berbahagialah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *