Mertua VS Menantu

“Menantuku itu bodoh. Tahunya cuma menghabiskan uang anakku, ngurus anak saja nggak becus.” Seperti itu kata sang mertua.
Mertuaku kejam. Setiap hari kerjanya marah-marah terus, apa saja yang aku lakukan selalu salah di matanya.” Begitu keluh sang menantu.

Apakah dua kalimat di atas tadi pernah Anda dengar? Atau justru Anda sendiri yang pernah mengatakannya? Kita memang tidak bisa menutup mata dan telinga dari cerita miring kehidupan mertua vs menantu. Kengerian dan ancaman pada kehidupan rumah tangga bukan hanya ada di luar rumah, tapi kebanyakan malah datang dari dalam lingkaran itu sendiri. Menceritakan kisah drama mertua versus menantu seolah mengulang dongeng 1001 malam yang tak ada habisnya. Setiap orang punya kisah yang berbeda. Setiap mertua punya pemikiran yang berbeda-beda tentang menantunya. Setiap menantu juga pasti menyimpan perasaaan yang berbeda-beda pada mertuanya.

Tapi benarkah? Semengerikan itukah?

MertuaMenantu

Hubungan yang tidak harmonis diantara mertua dan menantu biasanya terjadi akibat salah satu, atau bahkan kedua belah pihak, merasa menjadi orang yang paling berhak memiliki. Sang mertua menganggap anaknya masih merupakan haknya. Di lain pihak, sang menantu merasa pasangannya kini adalah miliknya. Tapi….

Pengalaman pernah mengajarkan saya bahwa memiliki mertua adalah mimpi terburuk dalam kehidupan saya. Lebih mengerikan dibanding kisah horor yang hadir ketika sedang terlelap. Karena horor yang satu ini, hidup di dalam kehidupan sehari-hari saya. Dari pengalaman saya, saya tahu bahwa mertua selalu datang mengintervensi, ikut campur dalam setiap masalah yang hadir dalam rumah tangga, bahkan tak jarang mereka justru menjadi awal hadirnya perdebatan. Mertua datang seolah sebagai pahlawan super yang mengetahui segalanya, memahami semua hal, dan paling benar. Sedangkan sebagai menantu, saya dianggap tidak mampu melakukan apa-apa.

Bahkan saya pernah tidak diakui sebagai menantu di depan keluarga besar mereka. Mereka menyembunyikan saya seolah saya adalah aib keluarga. Kemudian berusaha sekuat tenaga menjauhkan anaknya dari saya, seolah saya adalah virus menular. Bukan hanya itu, anak saya pun pernah disembunyikan dari tetangga dan kerabat mereka. Setahun awal kehidupan anak saya, tak ada keluarga, kerabat, ataupun tetangga mereka yang mengetahui keberadaan anak saya. Jangankan menengok cucunya, menanyakan kabar via telepon pun jarang mereka lakukan. Mereka juga hampir tidak pernah membantu dalam hal finansial, justru ibu saya lah yang dulu menopang kehidupan rumah tangga kami dari hari ke hari.

Bisa Anda bayangkan seperti apa hidup saya saat itu?

Untungnya masa-masa itu sudah terlewati dan menjadi sejarah hidup saya. Sejak saya berpisah dengan suami pertama, Alhamdulillah sudah tidak ada lagi urusan antara saya dan bekas mertua saya. Apapun yang dikatakannya setelah perceraian saya dengan anaknya sudah tidak lagi menjadi pikiran saya. Jika dia ingin berkomentar tentang saya atau cara saya mendidik anak saya, silahkan mengantre disebelah kiri. Mungkin suatu hari nanti saya akan punya waktu untuk menanggapinya. Keberadaan mereka hampir tak terpetakan dalam kehidupan saya, apa lagi pada diri anak saya yang hanya menyisakan sedikit sisa ingatan dan kenangan tentang tahun-tahun awal kehidupannya.

Diakui atau tidak, pengalaman buruk memiliki mertua yang luar biasa mengerikan ternyata menjadi bayang-bayang hitam dalam kehidupan saya. Terutama ketika beberapa tahun setelahnya, seorang pria datang untuk menikahi saya. Pria yang hendak menikahi saya adalah seorang bujangan, sedangkan status saya saat itu adalah janda dengan seorang anak. Keraguan muncul karena saya membayangkan tentang orangtuanya. Seperti apa pikiran mereka ketika mengetahui bahwa anak bujangnya ingin menikahi saya yang adalah seorang janda dengan paket lengkap. Dulu saja tanpa predikat janda, kehidupan saya dengan mertua saya sangat mengerikan.

Bagaimana jika semua itu terulang lagi? Bagaimana jika hubungan saya dengan mereka tidak baik? Bagaimana jika mereka tidak bisa menerima status saya? Lebih lagi saya membayangkan, bagaimana jika mereka tidak bisa menerima kehadiran anak saya? Bagaimana jika mereka memperlakukan anak saya dengan buruk? Bagaimana jika mereka membedakan anak saya dengan cucu-cucu kandung mereka? Ada terlalu banyak “bagaimana” yang terlintas di pikiran saya saat itu. Pikiran-pikiran negatif tak bisa saya hilangkan begitu saja. Belum lagi keraguan saya untuk kembali mencicipi kehidupan rumah tangga, serta ketakutan saya jika kegagalan rumah tangga akan terjadi lagi dikemudian hari. Terlalu mengerikan untuk dibayangkan.

Namun, ternyata pria gigih itu, yang kini menjadi suami saya juga ayah bagi anak-anak saya, berhasil meyakinkan saya untuk kembali memasuki indahnya gerbang rumah tangga. Dengan segala teori buruk di benak saya yang terlanjur berkembang, saya harus menerima kenyataan bahwa kami akan tinggal di rumah orangtuanya. Segera setelah menikah. Dua tahun usia pernikahan kami ketika memutuskan untuk mulai hidup mandiri. Dua tahun yang singkat itu menyadarkan saya akan banyak hal, terutama tentang hubungan antara mertua dan menantu. Dua tahun awal pernikahan kami, mata saya terbuka bahwa masih ada mertua yang baik, tidak seperti yang dikatakan semua orang, tidak juga seperti pengalaman buruk saya sebelumnya.

Mertua saya mungkin adalah mertua terbaik yang bisa didapatkan oleh seorang menantu. Mereka tak pernah melakukan intervensi terhadap setiap keputusan dalam rumah tangga anak-anaknya, bahkan meski anak dan menantunya tinggal seatap dengan mereka. Mereka memberi masukan ketika diminta. Mereka menasehati ketika dibutuhkan. Mereka hadir dalam naik-turun gelombang pernikahan anak dan menantunya, tanpa sekalipun berusaha untuk mengambil alih kemudi. Tak pernah menilai buruk anak dan menantunya, tak pernah membedakan kasih antara semuanya.

Sudah menjadi hal yang lumrah jika kami datang untuk menginap dan kemudian mereka menyuguhkan segala yang kami inginkan. Mereka menjamu dan memanjakan kami dengan begitu luar biasa. Menyayangi dan memperhatikan anak-anak saya tanpa perbedaan. Meminta pendapat saya dalam menentukan hal ini dan itu seperti orangtua saya sendiri, meski mereka bukanlah pasangan yang melahirkan dan membesarkan saya. Tak pernah ada perbedaan perlakuan mereka terhadap anak-anaknya, juga menantu-menantunya, semua sama rata, semua sudah dianggap anak bagi mereka.

Semua kabut ketakutan yang dulu pernah menyelimuti hati saya, kini telah sirna. Segala bayangan tentang keburukan hubungan mertua dan menantu yang sempat saya miliki dulu, juga telah lenyap. Allah SWT begitu terang-terangan menunjukan kepada saya tentang kasih yang sebenarnya dalam kehidupan berumah tangga. Allah SWT begitu berbaik hati dengan memberikan saya mertua yang sempurna.

Ayah dan Mama adalah orangtua kedua saya, yang kepada mereka saya dapat menceritakan segalanya tanpa perlu ditutup-tutupi. Ayah dan Mama adalah orangtua kedua saya, yang menunjukan bahwa segalanya bisa indah meski badai pernah menghampiri. Ayah dan Mama adalah orangtua kedua saya, yang selalu ingin saya buat bahagia dan bangga karena memilih untuk mencintai saya tanpa syarat.

Mertua dan menantu sesungguhnya adalah orang yang saling menyayangi. Mereka berbagi kehidupan dengan orang-orang yang sama. Saudara, anak, pasangan, dan cucu-cucu mereka. Hanya saja kadang mereka lupa untuk berbagi. Berbagi tempat untuk sama-sama mengasihi. Berbagi waktu untuk bersama-sama mencintai. Berbagi hati untuk saling memahami.

Mungkin kali ini, saya hanya beruntung mendapatkan mertua sebaik mereka. Namun, mungkin saja sebenarnya semua orang bisa memiliki hubungan mertua dan menantu seperti yang saya miliki saat ini. Jika saja semua pihak mau terbuka untuk berdialog, duduk sejajar untuk berdiskusi, memaklumi setiap kekurangan yang ada, menghargai segala kelebihan yang dimiliki oleh setiap insan, dan tentu saja, melakukan hanya hal-hal yang memang menjadi bagiannya. Tak akan ada lagi drama mengerikan tentang mertua vs menantu. Terlebih, jika setiap orang mengerti bahwa sejauh apapun kita pergi, keluarga adalah tempat kita akan kembali.

____________
FYI, tulisan mertua vs menantu ini tadinya dibuat untuk mengikuti salah satu antologi, namun karena satu dan lain hal tulisan ini saya tarik kembali dan saya posting di blog agar menjadi pelajaran bagi kita semua.

Yes, We are Engaged

Image

jadi.. setelah 4tahun + 4bulan, akhirnya saya dan zikri melangkah ke jenjang yang baru dalam hubungan kami, khitbah.. atau lebih dikenal secara umum dengan sebutan tunangan..

IMG01246-20130426-1947

penampakan cincin saat diambil

 

cerita yang lebih lengkap dan foto-fotonya akan menyusul segera setelah saya terima dr sepupu-sepupu gue yg kemarin mendokumentasikan jalannya acara khitbah/tunangan saya&abang..

 

 

puasa selesai mengendut pun dimulai

first of all.. Kitty mau ngucapin

HAPPY EID MUBARAK.. Minal Aidin Walfa ‘idzin.. Mohon maaf lahir batin.. semoga semua ibadah kita di bulan Ramadhan kemarin diterima oleh Allah dan dibalas dengan pahala yg sebaik-baiknya.. Aamiin..

sekarang mau curcol.. hahaha.. puasa udah dijalanin selama 29 hari.. hasilnya berat badan turun 3kg. (horeee….) trus lebaran 2 hari berturut” makannya santen melulu dan sebagai turunan padang maka rendang, gulai, sambel goreng dan makanan bersantan lainnya pun mengalir seperti air, ga mau liat timbangan.. abis bosen sama santen maka hari” berikutnya makanan yg di cari adalah junkfood.. seminggu abis lebaran masih males ketemu sama timbangan.. tapi kemarin dan hari ini berturut-turut dapet oleh-oleh coklat dari yg pada liburan lebaran keluar negeri.. jadi tibalah saat-saat dimana gue galau.. mempertahankan berat badan yg udah turun 3kg apa memuaskan hati dengan makan coklat.. hahahaha.. dan tentu saja, ga usah di tanya, akhirnya keputusan jatuh pada menikmati coklat yg super duper enak ini.. :p

puasa selesai.. maaf-maafan sudah.. mengendut pun dimulai kembali -____- (kayanya sih musuhan aja sama timbangan. hehe.. )