Awal Pada Sebuah Akhir

Rasanya baru semalam momen pergantian tahun berlangsung dan kita semua memasuki awal tahun yang baru. Tapi ternyata, hari memang terasa begitu cepat berlalu ketika kita menikmati hidup.

Di penghujung Januari ini saya punya beberapa hal yang ingin saya bagi. Sebutlah ini resolusi tahun 2017 saya meski mungkin terlambat 30 hari untuk menuliskannya. Resolusi Saya dalam dunia penulisan ditahun ini adalah memiliki minima 5 buku antologi dan sebuah buku solo.

Di trisemester awal tahun ini ada 2 buku antologi yang InsyaAllah akan segera terbit. Masih ada PR 3 buku antologi lagi yang harus saya cari untuk memenuhi resolusi Saya tahun ini. Ada yang mau mengajak saya membuat antologi atau menulis bersama? Hehehe..

Satu buku solo sedang saya tulis yang saya target kan untuk selesai bulan April. Setelahnya baru akan saya ajukan ke penerbit. Khusus untuk buku solo, Saya masih merasa bahwa fiksi adalah jenis tulisan yang cocok bagi saya. tapi kita tidak pernah tau jika suatu hari nanti saya akan juga menulis buku-buku non fiksi.

Oh ya, tahun ini juga Saya berencana untuk mengikuti banyak traingin dan pelatihan mmenulis. Karena saya tau bahwa untuk menjadikan tulisan kita baik, kita harus terus belajar. Malu lah kalau ga mau belajar. Wong, penulis lawas aja masih banyak yang cari ilmu kesana-sini. Saya suka sekali belajar. Semua orang sepertinya sudah tau tentang itu, maka belajar menulis menjadi sesuatu yang justru menjadikan saya lebih bahagia.

IMG_5240

Ada yang mau berbaik hati memberikan saya informasi-informasi tentang training kepenulisan, atau kerja sama menulis. Please don’t hesitate to contact me. Saya tunggu ya.

Langkah Hijrahku : Ketersediaan Dosa

“Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan diantara kamu benci pada kebenaran itu” ( QS. Az-Zukhruf : 77 )

Sebuah tamparan keras kesadaran itu bukan berasal dari tangan orang, namun dari sebuah ayat yang Allah SWT turunkan di dalam kitab suciNya. Benarlah bahwa kita semua telah lahir pada zaman yang terang-benderang, kita telah di peringatkan, telah di ajarkan, telah diberi bimbingan, namun banyak dari kita yang benci pada semua kebenaran itu. Padahal Allah menciptakan segala aturannya demi kebaikan manusia.

Begitu juga saya yang terlahir dari keluarga muslim, yang belajar agama dari guru-guru sekolah dan ustad namun tetap tertutup hati dan pikiran tentang kebenaran. Terhanyut dalam dosa yang telah diketahui lebih dulu oleh Allah SWT, yang telah diturunkan aturan dan larangan atas dosa-dosa itu ribuan tahun lalu, yang telah dijabarkan secara detail pada ayat-ayan suci juga hadist. Benarlah bahwa Allah SWT Maha Mengetahui, dan manusia adalah makhluk yang lalai.
Saya tidak hendak menunjuk hidung siapa pun, saya hanya hendak menyalahkan diri saya sendiri, atas setiap dosa yang pernah saya buat dalam hidup. Yang menyisakan terlalu banyak penyesalan. Juga air mata taubat yang semoga saja Allah terima. Maka dalam kesadaran yang selalu menghantui, saya berniat mengisahkan perjalanan hijrah saya. sebuah perjalanan yang saya yakini belum sampai pada ujungnya. Juga belum sesempurna yang Allah perintahkan. Namun mudah-mudahan menjadi penyemangat bagi perubahan diri saya, juga pencerahan bagi siapa pun yang nantinya membaca buku ini.

Kita tidak dapat menyangkal bahwa kita hidup pada masa dimana semua hal bisa didapatkan. Dengan cara yang sangat murah dan mudah. Ketersediaan itu lah gerbang awal datangnya dosa.
Bagai mana tidak?

Apapun yang kita inginkan telah tersedia dan sangat mungkin mengandung dosa-dosa yang tidak kita sadari, atau sebenarnya kita sadari namun lalai kita hindari. Dewasa ini, dosa dikemas menjadi banyak hal-hal menarik. Begitu menggoda hingga sulit dijauhi. Begitu dekat hingga sulit dihindari.

Tayangan-tayangan film juga sinetron yang menceritakan kisah-kisah percintaan. Dari percintaan yang wajar hingga percintaan yang abnormal. Dikemas dalam film-film bergenre klasik, horror bahkan kartun. Ditujukan bagi penonton usia dewasa, remaja, bahkan anak-anak. Tayangan-tayangan itu membantuk pemikiran “wajar” pada benak kita, kemudian satu persatu dari kita mulai terpengaruh dengan apa yang mereka tampilkan. Mulai dari mengidolakan artis tertentu. Mencoba-coba romansa seperti di film, yang tidak diajarkan oleh agama. Mencoba hal yang berbeda-beda karena anggapan “keren” berlandaskan pada apa yang ditampilkan oleh film.

Kemudian hadir juga pasar-pasar yang dibuat dengan mewah dan indahnya. Memperjual-belikan gaya busana yang berbeda, perhiasan-perhiasan terbaik, bahkan barang-barang yang haram, dan juga menyediakan tempat-tempat bersosialisasi yang terbalut moderenitas. Pasar, baik yang tradisional hingga yang modern seperti mall, seharusnya merupakan tempat yang bertujuan untuk niaga, yang sewajarnya tidak menyajikan hal-hal yang keluar dari aturan-aturan agama. Namun dengan semakin mewah dan indahnya pasar-pasar itu semakin betah kita berlama-lama di dalamnya, menghasilkan dosa-dosa yang tidak kita sadari.

Kemana pun kita melangkah, banyak peluang dosa yang bertebaran. Bahkan meski kita hanya berada di dalam rumah sekali pun, parade dosa itu senantiasa menghantui. Menyapa dalam bentuk-bentuk yang kita anggap wajar. Sampai kita terlena dan lupa bahwa hal itu adalah dosa.
Semudah itu mengakses dosa di jaman yang serba canggih ini. Bahkan lewat tv dan internet pun ada banyak ruang bagi kita melakukan dosa. Sebagai contoh saja, untuk melakukan dosa ghibah, kini kita tidak perlu lagi bertemu dan berkumpul dengan kelompok orang, di media sosial ada banyak ruang untuk melakukan ghibah. Bahkan zina pun bisa dilakukan lewat internet, dengan memandangi foto-foto lawan jenis, artis atau model yang kita idolakan. Semudah itu menumpuk dosa di era modern ini. Hingga kita lupa bahwa kita pernah diajarkan, kita pernah diperingatkan, kita bahkan diperintahkan untuk menjauhi dosa. Namun kita lalai. Mata dan hati kita tertutup dari kebenaran. Bahkan kita membenci kebenaran itu.

Saya tau bahwa pada kenyataannya menghindari dosa-dosa itu sangat sulit. Karena pola kewajaran yang dibentuk pada era modern ini merujuk pada dunia barat, bukan pada budaya-budaya islam. Namun sebenarnya kita dapat memilah hal-hal yang cocok bagi kita sebagai muslim, agar kita dapat meminimalisir dosa.

Selain dari dosa-dosa yang bisa masuk kedalam diri kita karena keberadaannya itu, ternyata ada banyak bentuk dosa yang sangat mudah kita akses, bahkan menjadi sebuah kewajaran. Berkembang begitu pesat disegala kalangan, dari kota hingga desa, tak lagi mengenal si kaya dan si miskin, tak peduli apa pun agama yang kita anut. Namun kemudian kita merasa wajar melakukan dosa karena semua orang melakukan hal yang serupa.

Kalian pasti sering mendengar pertanyaan “pacarnya mana, kok ga diajak?” atau mungkin pertanyaan lainnya seperti “sekarang pacarmu siapa?” yang sering kali ditanyakan oleh para orang tua. Baik orang tua kita sendiri atau pun para orang tua lain. Pacaran menjadi bentuk kewajaran di jaman sekarang ini. Jauh dari budaya ketimuran yang dianut oleh bangsa Indonesia beberapa puluh tahun silam, dimana untuk menikah kebanyakan dari orang Indonesia melalui proses perjodohan. Budaya yang kini sudah dianggap kuno itu justru lebih mendekati budaya islam, karena dalam islam kita tidak mengenal istilah pacaran sebelum menikah, hanya ada proses perkenalan atau taaruf. Namun jika pada masa kini masih ada yang menjalankan taaruf orang kebanyakan malah mempertanyakan, meragukan, bahkan tak jarang beberapa orang berani bertanya “pacarannya kapan, kok udah mau nikah aja?”. Bentuk kewajaran yang berkiblat pada dunia barat ini begitu akrab pada kehidupan kita sehari-hari. Hampir tak mampu kita hindari dan merupakan awal dari terlalu banyak dosa.

Saya pribadi terjebak pada dosa itu sejak usia remaja. Dosa yang jika saya ingat kini membuat saya merasa sebagai hamba Allah yang kotor, hingga separuh diri saya berharap seandainya saja bisa saya kembali ke masa lalu dan menghindari semua dosa itu. Meski dianggap wajar oleh hampir setiap orang, pacaran tetap lah sebuah dosa karena dalam islam ada larangan untuk berpacaran. Bahkan pacaran selalu dikatakan sebagai jalan masuknya zina. Sebuah dosa besar, lagi berat hukumannya.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah (RA), Nabi SAW bersabda : Allah SWT telah mencatat bahwa anak adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakan lagi, dimana dia akan melakukan zina mata dalam bentuk pandangan, zina mulut dalam bentuk pertuturan, zina perasaan yaitu bercita-cita dan berkeinginan mendapatkannya, hingga kemaluan ikut memastikan perzinaan itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

img_3511