THR anak hak siapa?

Beberapa hari ini, sejak melewati momen lebaran, saya menemukan banyak sekali postingan meme lucu soal “uang THR anak disimpen emak”, awalnya saya tertawa saat meliatnya. Tapi setelah banyak sekali status seperti ini saya jadi berpikir.

IMG_0153

Uang THR itu hak siapa?
Hak emak atau hak anak?

Sekarang coba kita telaah.

Saat kita menyiapkan uang THR untuk keponakan, niat kita adalah memberi untuk mereka, kan? Bukan untuk orang tuanya. Karena itu kita menyiapkannya di amplop kecil warna-warni, dan saat bertemu kita beri kepada keponakan. Kita jelas bukan memberikannya untuk kemudian menjadi hak orang tuanya. Karena kalau memberi untuk oranh tuanya jelas caranya berbeda. Jadi dari sini aja sudah jelas bahwa THR itu ya hak anak, bukan hak orang tua.

Kalau saya pribadi, uang THR anak memang saya yang simpan. Dalam arti saat dikasih oleh nenek/kakek/om/tante-nya maka mereka akan titipkan pada saya, supaya uangnya lebih aman dan tidak tercecer atau bahkan hilang. Namun kemudian biasanya beberapa hari setelah lebaran saya akan ajak anak-anak ke mall untuk beli barang-barang yang mereka mau dan inginkan. Contoh, buku atau mainan yang agak mahal. Bukan karena saya tidak mampu membelikan buku atau mainan yang mahal untuk anak-anak, tapi jelas kalau pakai uang orang tua pasti kami akan membeli sesuai skala prioritas. Namun, jika itu uang anak maka mereka bebas memilih.

Yang saya ajarkan untuk anak-anak adalah sebelum belanja maka hitung dulu uang yang didapat, lalu pisahkan uang 2,5% yang merupakan “kewajiban” mereka. Mereka memang belum pada usia wajib untuk berzakat dan bersedekah, karena uangnya pun masih merupakan uang pemberian dan bukan hasil kerja mereka, namun ini salah satu cara mengajarkan praktek bersedekah dan berzakat.

Setelah zakat dan sedekah dikeluarkan maka mereka boleh pilih apapun yang mereka inginkan, dengan persetujuan saya. Tahun lalu, anak saya yang kecil beli sepeda baru dari uang THRnya, barang itu saya dan suami yang pilihkan karena memang anaknya masih umur 2 tahun dan belum mengerti uang. Sedangkan kakaknya yang sudah lebih mengerti uang bebas memilih apa yang diinginkannya, dari buku hingga mainan. Tahun ini belum tahu apa yang akan mereka beli, karena baru akan ke mall weekend nanti.

Hal yang memprihatinkan adalah saat anak-anak mendapat haknya, lalu orang tua merasa lebih berhak, bahkan merampas hak mereka. Memaksa anak-anak membeli peralatan sekolah sendiri dengan uang THR mereka, dan mewajibkan anak-anak untuk menabung seluruh uangnya tanpa boleh digunakan, padahal itu merupakan kewajiban orang tua untuk memenuhi kebutuhan pokok tersebut.

Mungkin, akan ada orang tua yang berpikir berbeda dengan saya. Itu hak anda sebagai orang tua. Saya hanya ingin mengajak kalian berpikir ulang. Hak anak-anak atas uang THR itu bukan hak kita. Kita hanya bertugas untuk mengawasi agar uang tersebut tidak digunakan untuk hal-hal yang sia-sia atau dihambur-hamburkan membeli barang yang tidak penting. Namun, THR anak-anak bukan hak kita sebagai orang tua. Uang yang didapat dari amplop lebaran itu adalah murni hak anak-anak kita. Jika mereka dengan ikhlas mau berbagi maka terima lah dengan senang hati, namun jangan paksa mereka untuk memberikan semua uang THRnya untuk memenuhi kebutuhan orang tua. Karena orang tua lah yang seharusnya menafkahi anak-anak mereka.

Keluarga Tempatmu Kembali

Semahal itu kah waktumu?
Hingga kehangatan keluarga tidak mampu membayarnya.
Padahal mereka selalu berusaha untuk menyambutmu dengan pelukan terhangat mereka.
Sesibuk itu kah kamu?
Hingga kebersamaan keluarga kalah pentingnya.
Padahal mereka selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh-kesahmu.

img_2121

Bukan kah kamu masih menyebut dirimu bagian dari keluarga ini?
Bukan kah kamu masih menyebut dirimu teraliri darah keluarga ini?
Bukan kah kamu bangga memiliki nama keluarga ini?
Meski tak pernah kamu akui secara terang-terangan.

Lalu, dibagian mana peranmu bagi keluarga ini?
Apakah menurutmu hadir pada pesta-pesta perayaan dimana kamu bisa menampilkan dandanan terbaikmu adalah cerminan kamu menjadi bagian dari keluarga?
Apakah menurutmu datang di saat kemalangan melanda dimana kamu bisa memakai jubah dukamu adalah pertunjukan peranmu dalam keluarga?

Lupa kah kamu?
Bahwa keluarga ini yang mengangkatmu dari kubangan setiap kali kamu jatuh.
Lupa kah kamu?
Bahwa keluarga ini yang kau datangi saat kamu merasa tidak berdaya.
Lupa kah kamu?
Bahwa keluarga ini yang memagarimu dari setiap musuhmu.
Lupa kah kamu?
Bahwa keluarga ini yang mengulurkan pelukan kehangatan setiap kali dinginnya dunia mengusikmu.
Lupa kah kamu?
Bahwa keluarga ini yang akan mengingat kehadiranmu, mendoakanmu dan memanggu keranda mayatmu kelak.

Tapi mengapa keluarga ini yang kamu dustai dengan kesibukanmu?
Tapi mengapa keluarga ini yang kamu bohongi dengan ketidakhadiranmu?
Tapi mengapa keluarga ini yang kamu bodohi dengan kealpaanmu?

Sehebat itu kah kamu hingga enggan berada ditengah keluarga ini?
Semandiri itu kah kamu hingga enggan duduk bersama keluarga ini?

Atau sebetulnya kamu malu?
Karena hanya keluarga ini yang selalu menerima kekuranganmu, memaafkan perilakumu, mencintai kebodohanmu, memaklumi kesalahanmu, melindungi dirimu meski kamu selalu mengulanginya… lagi… dan lagi.

Kembali lah, agar kelak kamu tidak menyesal saat tak ada lagi semua orang yang kini masih bisa kamu sebut keluargamu.
Sadar lah, sebelum kamu kehilangan semua yang tak kamu syukuri tentang keluargamu.

Tangan-tangan ini selalu terbuka menerima kehadiranmu. Begitu juga hati-hati ini yang selalu menantikan kepulanganmu ke tengah keluarga. Karena dari keluarga ini kamu berasal. Dan kepada keluarga ini tempatmu kembali.

Jangan Cepat Puas

JANGAN CEPAT PUAS!

Mungkin ini adalah ilmu yg selalu aku pegang sepanjang hidupku.. Aku pernah keliling Indonesia gratis krn pekerjaanku.. Aku pernah diliput majalah bahkan punya fans krn pekerjaanku.. Aku pernah punya uang jutaan krn pekerjaanku..
Tapi satu yg membuatku terus berusaha adalah karena aku ingin lebih.. Aku ingin punya waktu lebih untuk beribadah.. Aku ingin punya uang lebih untuk beribadah.. Aku ingin punya waktu lebih untuk orang-orang terkasih.. Aku ingin punya uang lebih untuk membahagiakan orang-orang terkasih..

Kalau aku kerja kantoran tentu aku tidak akan punya time & financial freedom untuk mewujudkan keinginanku..
Tapi aku beruntung bertemu MOMENT.. Karena bertemu MOMENT lah aku bisa mewujudkan punya banyak waktu luang dan uang yg cukup untuk mewujudkan satu per satu mimpiku..

Maka JANGAN CEPAT PUAS dengan apa yg kamu miliki sekarang.. Karena usahamu yg dinilai oleh Allah.. Karena usahamu yg menciptakan siapa dirimu.. Karena usahamu yg akan menghasilkan mimpi-mimpimu!

JANGAN CEPAT PUAS, kawan!

The hardest things in life

You know..
The hardest things in life is when you really want to help others but you can’t..
Because you don’t have any abilities to help or even enough money to afford..
And the worst thing is when the one you want to help is part of your family, your beloved parent..

Oh God, just give us more strength to face our destiny.. Somehow it is just so painfull to even understand about all these..