Film My Generation Menyuarakan Hati Para Remaja

Industri perfilman Indonesia akan kembali diramaikan oleh sebuah film bertajuk My Generation yang akan mulai tayang di bioskop tanggal 9 November 2017. Film ini merupakan hasil karya dari tangan dingin Upi. Setelah sukses dengan film terakhirnya yang bergenre drama komedi, My Stupid Boss, kini Upi berkerja sama dengan IFI Sinema menghadirkan film bergenre remaja yang mengangkat keresahan masyarakat saat ini.
MG1Selain memperkenalkan pemain-pemain baru seperti Bryan Langelo, Arya Vasco, Alexandra Kosasie dan Lutesha, film ini juga melibatkan banyak pemain senior. Sebut saja Tio Pakusadewo, Ira Wibowo, Surya Saputra, Aida Nurmala, Indah Kalalo, Karina Suwandi dan aktor sekaligus sutradara Joko Anwar yang turut mengisi peran para orang tua dalam film My Generation. Perpaduan antara aktor-aktor senior dan para aktor debutan ini menghasilkan chemistry yang dinamis dalam film ini.
Fokus utama yang paling ditonjolkan dalam film ini adalah kesenjangan hubungan antara orang tua dan anak. Konji, Suki, Orly, dan Zeke adalah empat remaja yang menjadi pusat cerita pada film ini. Mereka memiliki karakter dan kegelisahan yang berbeda, namun semuanya berpusat pada masalah keluarga dan sekolah. Pemasalahan khas remaja kekinian diceritakan dengan sangat nyata dan terasa menampar.
MG2Film My Generation mengangkat permasalahan klasik yang terjadi di tengah kehidupan kita sehari-hari. Kenakalan yang umum dilakukan oleh para remaja, dan generation gap yang juga sangat sering terjadi pada hubungan orang tua dan anak dikemas sedemikian rupa oleh Upi dalam film ini. Upi melalui film My Generation mengungkapkan kebenaran yang tidak ingin dilihat oleh masyarakat, terutama para orang tua yang memiliki anak usia remaja.
Tidak dapat dipungkiri bahwa remaja masa kini tidak lagi punya hak untuk menjadi dirinya sendiri dan menyuarakan pendapat. Remaja kerap dianggap sebagai biang masalah yang selalu menyusahkan orang tua. Padahal banyak orang tua lupa bahwa anak merupakan hasil dari pola didik yang diterapkan oleh mereka. Orang tua kerap mengambil jalan praktis dengan menghukum anak yang dianggap bersalah. Sayangnya, hukuman diterapkan tanpa memberi ruang bagi komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Padahal jika saja orang tua mau membuka kesempatan untuk berdiskusi dengan anak maka orang tua juga akan bisa lebih memahami anak-anak mereka sendiri. Dan bukan tak mungkin justru ruang komunikasi itulah yang akan menyelamatkan anak-anak remaja kita.
Menurutku pribadi, Upi mengemas pesan moral yang sangat dalam di film ini, sesuatu yang sudah jarang kita temukan pada film-film Indonesia kebanyakan. We need this kind of movie. Indonesia butuh film-film bagus yang memberikan tak hanya hiburan tapi juga bahan pemikiran. Karena itu aku merekomendasikan untuk kita dukung dan tonton film My Generation.
MG3Ajak orang tua kalian buat nonton film ini. Biarkan mereka membuka pikiran lebih luas.
Ajak anak remaja kita nonton film ini. Supaya mereka berpikir sebelum berbuat sesuatu.
Watch the movie, then talk to your kids. Because they need it. They need you, parents!

 

Official trailer: https://www.youtube.com/watch?v=Y6-Lj7BdzK8

Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2

Setelah menunggu hampir setahun, para pecinta film Indonesia kembali dihibur dengan hadirnya Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2. Film ini merupakan kelanjutan dari film komedi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 yang dirilis tahun 2016 lalu. Disutradarai oleh Anggy Umbara, film ini kembali mengadaptasi film-film original Warkop DKI. Antusiasme penonton yang menantikan pemutaran film ini pun ditanggapi dengan cukup baik oleh Falcon Pictures, terlihat dari dijualnya tiket pre-sale penayangan Jangkrik Bos Part 2 di beberapa bioskop, dan juga promo yang sangat gencar dilakukan oleh aktor-aktor pendukung.

warkop-dki

source : jawapos

Aku sebagai pecinta film yang juga menonton versi Jangkrik Boss Part 1 jelas menantikan film ini. Jadi Sabtu kemarin, di hari ketiga penayangan, aku akhirnya mendatangi XXI untuk menyaksikan sendiri kelucuan trio DKI. Film Jangkrik Boss Part 2 ini menceritakan kelanjutan pertualangan Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G Bastian) dan Indro (Tora Sudiro) dalam mencari harta karun yang akan mereka gunakan untuk membayar hutang.

photo_2017-09-04_14-30-39

Berawal di Negri Jiran, Malaysia perjalanan mereka di mulai untuk mencari tas berisi kode harta karun yang tertukar dengan tas milik wanita cantik bernama Nadia (Fazura). Pencarian harta karun tersebut akhirnya membawa trio DKI ke berbagai macam tempat yang tak pernah terpikirkan, sampai mendatangi di sebuah pulau angker tak berpenghuni.

Di pulau angker tersebut, Dono, Kasino, Indro, terpisah dan harus berhadapan dengan hantu-hantu menyeramkan nan menggelikan. Kejadian dan peristiwa lucu yang dihadirkan mampu memecahkan tawa para penonton yang memenuhi barisan-barisan kursi studio bioskop. Pada film keduanya ini terdapat beberapa twist yang tidak terduga. Film ini juga mengangkat cuplikan beberapa film legendaris di era tahun 80-90an.

Meski masih bergenre humor, tapi film kedua ini gimik lucunya kurang terasa padat dibanding film pertamanya. Warkop DKI Reborn part 2 ini tetap dapat dijadikan hiburan yang menarik, asal kalian tidak membuat expektasi tertentu untuk kelucuannya. Film yang masih menampilkan Indro Warkop, Hanna Al Rashid, Babe Cabita, dan Ence Bagus. Film Part 2 ini juga telah berhasil memecahkan rekor dari film pertama mereka, sekaligus rekor penonton dalam sejarah perfilman tanah air. Dalam 2 hari penayangan, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Bos Part 2 telah mendapatkan satu juta penonton dari seluruh tanah air. Berdasarkan pantauanku beberapa bioskop juga menayangkan film ini di beberapa studio yang disedikan, bahkan ada bioskop yang kelima studionya hanya menayangkan film Warkop DKI Reborn : Jangkrik Bos Part 2. Sebuah pencapaian baik yang pantas diacungi jempol.

warkop

source : tempo

The Last Barongsai : Sebuah Pelita Tradisi

Kemarin malam saya berkesempatan untuk hadir ke acara Gala Premiere Film The Last Barongsai di CGV Blitz Grand Indonesia, Jakarta.

img_1375

Sebagai bagian dari keluarga Karno, ekspektasi saya tentang film ini sangat tinggi. Karena saya tau kapan novel The Last Barongsai diterbitkan, saya juga tau kapan tepatnya film ini mulai digarap. 18 bulan bukan waktu yang singkat untuk membuat film. Sejak diputuskan untuk digarap, Rano Karno sebagai pemilik ide cerita, menunjuk Ario Rubbik sebagai sutradara yang akan mengerjakan film ini. Pekerjaan tidak menjadi mudah meski film ini pernah dibuat novelnya. Cerita di film ini mengalami perubahan yang signifikan bila dibandingkan dengan novelnya. Titien Wattimena dengan riset yang cukup panjang mampu mengubah jalan cerita novel tersebut menjadi skenario yang luar biasa.

Menurut pandangan saya, Film The Last Barongnsai menyuguhkan pilihan menarik bagi para penonton Film Indonesia. Sebut saja itu salah satu bagian dari keajaiban Karnos Film. Seperti juga Si Doel (series) yang menyuguhkan budaya sebagai landasan cerita yang dihidupkan dengan begitu menawan, kini The Last Barongsai menjadikan tradisi sebagai pelita pembeda dalam perfilman di Indonesia. Tidak hanya mempertontonkan keunikan dan kehidupan masyarakat keturunan Cina di Indonesia, film ini juga memanjakan penonton dengan nilai-nilai pluralisme yang kental. Sebuah cerminan nyata kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam.

Meski cerita pada film The Last Barongsai berpusat pada drama keluarga keturunan Tionghoa, tapi film ini menceritakan tentang indahnya persahabatan ditengah keberagaman bangsa ini. Banyak nilai kehidupan yang akan Anda temui ketika menonton film ini. Disisipkan dengan manis kedalam adegan-adegan yang dibuat begitu apik.

Tak ingin membahas terlalu banyak tentang para pemain di film ini, karena kualitas akting dari Tyo Pakusadewo, Dion Wiyoko, Hengki Soelaiman, Rano Karno dan sederet artis pendukung film The Last Barongsai ini jelas telah teruji. Namun keberadaan Azis Gagap dalam film ini membuat sentuhan yang berbeda, menciptakan komedi ditengah tema cerita yang serius, yang mungkin tak bisa dilakukan oleh artis lainnya. Sebuah pertunjukan akting luar biasa diperlihatkan Azis dalam film ini.

The Last Barongsai merupakan pilihan film yang baik pada saat ini. Ditengah begitu banyaknya polemik tentang perbedaan yang kini santer kita dengar, film ini mungkin dapat menjadi obat yang menyadarkan kita bahwa perbedaan adalah keuntungan yang perlu kita pertahankan. Film yang sarat nilai-nilai budaya ini akan menjadi penegak jati diri kita sebagai sebuah bangsa. Juga menjadi hiburan yang layak ditonton bersama seluruh keluarga.

IMG_4784

Kepada seluruh tim produksi film The Last Barongsai saya ucapkan selamat dan sukses. Semoga film ini dapat memberi arti lebih dan diterima di tengah masyarakat Indonesia.

The Last Barongsai

Dalam film Indonesia kita banyak sekali melihat tema cinta disuguhkan dalam berbagai macam cara. Karena cinta adalah nilai yang universal, yang tak bisa kita hilangkan dalam keseharian dan kehidupan kita. Cinta yang kemudian dijahit dalam benang keluarga dan balutan tradisi inilah yang sejak lama menjadi ciri khas dari karya-karya produksi Karnos Film. Tidak bisa kita lupakan serial Si Doel yang mencuat di era 90-an, yang selalu memiliki tempat di hati para penonton Indonesia, hingga sekarang. Kini, sebuah persembahan film layar lebar dibuat dengan nafas yang serupa, yang akan memaksa kita kembali bercengkrama dengan tradisi yang hampir tergeser oleh moderenitas di tengah era globalisasi ini.

The Last Barongsai.

img_1375Sebuah film yang disutradarai Ario Rubbik ini merupakan film adaptasi dari novel dengan judul yang sama (karya Rano Karno). Menampilkan aktor-aktor terbaik seperti Tio Pakusadewo, Dion Wiyoko, Aziz Gagap, serta sederet aktor lain yang tak kalah baiknya. The Last Barongsai menjanjikan sebuah cerita tentang keluarga dengan latar belakang budaya Tionghoa yang kental. The Last Barongsai hendak mengingatkan kita tentang semangat perjuangan yang tak boleh padam meski dibayangi oleh ketakutan dan trauma masa lalu.

Saya pribadi sangat menantikan tayangnya film ini yang baru akan tayang 2 bulan lagi, tepatnya Januari 2017. Karena bukan berarti karena keluarga saya yang membuat film ini lantas saya bisa nyolong start dengan menonton film ini lebih dulu. Saya tetap harus mengantri bersama kalian semua di bioskop bulan januari nanti. Yahh, kecuali kalau saya kebagian tiket premier-nya. Hehehehe…

Film ini merupakan film kedua dimana Ario Rubbik dipercaya sebagai sutradara film produksi Karnos Film. Film sebelumnya Satu Jam Saja cukup mendulang sukses dipasaran, dan semoga film The Last Barongsai ini akan menyamai, bahkan melebihi, kesuksesan film Satu Jam Saja.

Oh ya, di film The Last Barongsai ini kita semua akan menyaksikan untuk pertama kalinya pertemuan antara 2 aktor kawakan, Rano Karno dan Tio Pakusadewo, dalam sebuah produksi film. Worth to wait, right?

Mau lebih penasaran lagi? Nih aku kasih bocoran behind the scenes pembuatan film The Last Barongsai.

DCIM100MEDIADJI_0092.JPG

img_1380img_1378img_1379Masih mau lagi??? Nih lagi dehh… ?

img_1382img_1377img_1376Udahh yaaa segitu dulu..
Btw, Sementara sebelum filmnya tayang kalian bisa ikuti update tentang The Last Barongsai untuk tau lebih banyak dan semakin meningkatkan tingkat ke kepoan kalian terhadap film ini dengan mengikuti social media official film The Last Barongsai dibawah ini ya :
Twitter : @filmTLBarongsai
Facebook Fanpage : www.facebook.com/filmthelastbarongsai
Instagram : @filmthelastbarongsai

Jadi, sampai ketemu di bioskop bulan Januari 2017 yaa…
Ada yang mau nobar? Hehehe..

Ada Apa Dengan Cinta 2

Akhirnya setelah menantikan waktu dimana bioskop udah ga rame, akhirnya jumat kemarin kesampean juga nonton AADC2

pengambilan gambar bisa dibilang memuaskan mata, terutama untuk yang lokasinya Jogja, tapi untuk yang lokasinya Amerika kurang sih, beberapa shoot juga agak kurang nyaman dimata karena kameranya goyang dumang.

seperti yang semua orang ketahui, AADC2 adalah lanjutan dari AADC. semua tokohnya sama, dengan berbagai perkembangan karena latar belakang ceritanya adalah 14 tahun setelahnya. setiap tokoh berkembang menjadi tokoh yang bisa ditebak jika melihat dari film pertamanya, kecuali untuk Maura (diperankan oleh Titi Kamal) yang diceritakan menjadi seorang ibu rumah tangga dengan banyak anak, gue pribadi sih berharapnya tokok Maura yang dulu di film AADC bertumbuh menjadi sosialita yang statusnya belum menikah di AADC2 ini. tapi beberapa perkembangan tokoh seperti kondisi Karmen dan berjodohnya Milly&Mamet bisa dibilang udah ketebak. tapi ketidakhadiran Alya sebetulnya cukup disesali.

soal kisah cintanya Cinta & Rangga. entah kenapa saya merasa Cinta selalu dihadapkan pada situasi berada di tengah dua laki-laki, dan pada akhirnya memilih Rangga (yaelah spoiler). Cinta tipe perempuan yang desperately romantic yang sepertinya memang sudah kodratnya mendapatkan pasangan Rangga, ga cocok sama tipe cowo seperti Borne (pacar Cinta di film AADC) atau Trian (Tunangan Cinta di film AADC2).

oh ya, adegan near death experience itu sebetulnya kaya ga penting-penting amat sih, karena tanpa itu sekalipun sepertinya Cinta juga sudah tau bahwa dia cinta sama Rangga. 🙂

after all, menurut saya pribadi, puas sih sama endingnya, walau ga mengobati rasa haus soal sastranya, karena cenderung minim banget dibanding film yg pertama. Tapi ya tetep jelas dibuat dengan niat yang melebihi kebanyakan film indonesia masa kini yg masa gituh.

 

Intinya Ada Apa Dengan Cinta 2 OKE LAH. Pokoknya juwaaara!

IMG20160513143146

Dan setelah nonton AADC2 saya kemudian tersadar bahwa blog saya hampir aja bulukan. Saya buka pun sampe harus forgot password karena udah pikun kelamaan ga dibuka.