Kehangatan dari Memberi

“Kenapa repot-repot memberi?”
“Kenapa harus memberi jika menerima jauh lebih mudah?”
Begitu yang mereka tanyakan. Pertanyaan berulang yang dilontarkan saat kita hanya memiliki sedikit namun ingin berbagi.

Memberi tidak berarti kita telah memiliki banyak.
Memberi tidak berarti kita telah berlebihan.
Memberi berarti kita telah siap berbagi.

Mungkin mereka lupa. Bahwa memberi adalah tugas dan kewajiban bagi siapapun yang lebih dulu diberi. Harta yang datang harus dibagi, kepada keluarga, kerabat, dan mereka yang membutuhkan. Ilmu yang kita punya harus dibagi, kepada anak-cucu, kepada teman, dan mereka yang belum memilikinya.

Memberi merupakan tugas yang Allah amanahkan kepada orang-orang yang didahulukanNya.  Memberi merupakan kewajiban yang Allah tentukan kepada orang-orang yang dipilihNya. Agar dunia menjadi lebih indah. Agar manusia hidup rukun berdampingan. Agar hidup kita lebih bermanfaat.

Memberi adalah jalan untuk menerima sesuatu yang lebih besar. Memberi adalah cara untuk mendapatkan yang lebih banyak. Setiap apa yang kita beri akan kembali kepada kita berlipat ganda. Itu dijanjikan Allah kepada semua ummat manusia. Tapi kadang kita lupa. Kita memilih untuk menyimpan hal-hal terbaik yang kita miliki untuk kesia-siaan. Kita memilih untuk menyembunyikan kelebihan yang ada pada diri kita untuk kemubadziran. Tak suka berbagi. Berat untuk memberi. Sulit mengikhlaskan.

Padahal memberi tidak pernah sulit. Karena apa-apa yang kita miliki adalah apa yang Allah titipkan pada kita untuk dapat kita manfaatkan demi kebaikan banyak orang. Bukan hanya untuk diri kita sendiri. Keegoisan telah lama menjelma menjadi kebiasaan. Yang pada akhirnya menciptakan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Yang kemudian berubah wujud menjadi ketamakan yang tak berujung.

Memberi hanya menjadikan kita manusia yang lebih hangat. Hangat ditengah orang lain dan hangat di dalam dada. Kehangatan yang terkadang menciptakan air mata haru. Kehangatan yang menyelimuti dari dinginnya keterasingan. Kehangatan yang melindungi dari gelapnya dosa.

Memberi adalah caraku mencintai. Mencintai mereka. Juga mencintai diriku lebih lagi. Memberi mengajarkanku bahwa kita tak mampu sendiri. Kita butuh manusia lain. Kita butuh membahagiakan orang lain untuk merasa bahagia. Kita butuh menyukuri ketidakberadaan untuk merasa bersyukur atas setiap yang ada.

img_1743

Sukses Bukan Hanya Persoalan Dunia

Saya adalah satu dari sedikit orang yang suka belajar. Mungkin bisa dibilang bahwa hobi saya sebenarnya adalah belajar. Makanya saya selalu membaca, nonton, bertukar pikiran dan mengamati. Kalau ditanya prestasi akademik, saya bisa menjawab dengan bangga bahwa saya lulus kuliah dengan predikat cumlaude dan merupakan lulusan terbaik di angkatan saya.

Photo source : google

Photo source : google

Tapi belajar tentang manusia itu jauh lebih rumit dibanding belajar rumus apapun. Karena manusia tidak punya formula yang paten, maka manusia adalah unsur yang sulit sekali dipelajari.

Di bisnis Moment, saya banyak bertemu orang-orang dengan berbagai latar belakang. Baik yang berasal dari daerah atau kota besar, baik yang lulusan sekolah menengah hingga yang gelar pendidikannya lebih panjang dari namanya, baik yang seagama dengan saya maupun yang berbeda. Berbagai latar belakang ini juga menghasilkan manusia dengan karakter yang berbeda-beda. Seperti yang kita semu ketahui, setiap manusia itu unik.

Tapi yang saya pelajari adalah..
Mereka yang sukses adalah mereka yang haus akan ilmu. Mereka yang sukses adalah mereka yang mau mengeluarkan uang, waktu, tenaga untuk mengejar ilmu. Ilmu yang sebetulnya begitu mudah didapat di era digital seperti sekarang ini, ternyata masih menjadi pembeda antara orang yang sukses dan orang yang gagal. Karena meski ilmu banyak bertebaran dimana-mana, training dan seminar gratis juga sangat mudah ditemukan, namun tekat untuk belajar dan kemauan untuk menjadi lebih baik adalah ukuran pembeda dalam kesuksesan manusia.

Saya mungkin hanya beruntung, terlahir dijaman digital yang menyediakan “makanan lezat” untuk jiwa dan kepala saya. Saya mungkin hanya beruntung, terlahir dari ibu dan ayah yang suka membaca. Saya mungkin hanya beruntung, terlahir sebagai seorang muslim yang diajarkan untuk terus belajar dan mengejar ilmu hingga ajal menjemput.

Tapi saya yakin kesuksesan bukan soal keberuntungan.
Saya yakin sukses adalah hasil dari ilmu dan amal.
Maka disinilah saya, belajar pada dunia, dan berusaha beramal sebaik yang saya bisa.
Karena sukses bukan hanya persoalan di dunia, tapi juga di akhirat.