Setahun Penuh Kerinduan

6 Desember, setahun lalu, seluruh keluarga menerima kabar yang sama. “Embah dibawa ke rumah sakit”, begitu bunyi chat di grup keluarga. Namun kami lalai, “ah sudah biasa embah masuk rumah sakit, nanti juga sembuh lagi” pikir kami. Selang beberapa jam ternyata embah harus dirawat di ICU dan seluruh keluarga menyegerakan datang.

Minggu pagi, setahun yang lalu, aku meninggalkan rumah yang belum rapih untuk melihat keadaan embah. ketika itu aku datang dan embah sudah berada di ICU, keluarga tidak bisa menemani di dalam ruangan, kami hanya bisa bergantian melihat keadaannya. Yang aku ingat ketika aku menghampirinya Embah hanya mampu bergumam “sakit, mau pulang aja” tanpa suara yang keluar karena ada selang di mulutnya untuk membantunya bernafas. Aku ingat, aku sempat mengajaknya untuk istigfar, sebentar, tapi karena peraturan ICU yang ketat keluarga tidak diperkenankan berada terlalu lama di dalam ruangan. Aku ingat kami menunggu, ada kepanikan diwajah keluarga, tapi tak ada air mata saat itu. Satu persatu keluarga datang, beberapa harus bekerja dan hanya bisa menemaninya sebentar. Begitu juga aku yang beranjak pulang siang itu.

Minggu sore, setahun yang lalu, telfon masuk, chat di grup keluarga juga mengabarkan “Embah kritis”, begitu kata-kata yang terekam di otakku hingga kini. Aku bergegas menyiapkan semua yang mampu teraih oleh tanganku dan segera kembali menuju rumah sakit. “Tunggu kitty, mbah” ucapku terus berulang dalam hati. Kelima anaknya yang berada disana menyaksikan bagaimana Embah diperjuangkan untuk terakhir kalinya, alat pacu jantung dan semua yang diharap bisa membantu ternyata tak mampu membantu. Adzan magrib berkumandang. Kemudian, “Inna lillahi wa inna illaihi rojiun, Embah udah ga ada” begitu pesan di grup yang mengabarkan, dan seketika itu tangisku pecah. Aku masih 2Km jauhnya dari rumah sakit dan tak mampu berbuat apa-apa.

Minggu malam, setahun yang lalu, aku hanya bisa memberikan doa terbaikku. Karena sejak saat itu tak ada lagi yang bisa kami berikan untuk Embah.

Embah, lalai kah kami menjagamu?
Karena kami tak selalu ada ketika kamu rindukan. Karena kami kadang terlalu sibuk untuk sekedar menemanimu.

Embah, kurangkah kami membahagiakanmu?
Karena samar-samar aku ingat, sempat melihat kekecewaan dan duka di hari-hari akhir hidupmu.

Embah, belumkah kami menyenangkanmu?
Karena masih ada percakapan yang terngiang di kepalaku setiap kali aku mengingatmu. Pertanyaan yang kau tanyakan padaku pada suatu malam beberapa tahun yang lalu. Maaf, aku belum mampu menjawabnya, bahkan sampai saat ini aku belum temukan jawabannya.

Embah, kami sudah menjalani setahun penuh kerinduan.
Tapi kami yakin Embah sudah jauh lebih tenang disana. Tanpa perlu merasakan sakit lagi.

Semoga kelak kita semua dikumpulkan kembali di SurgaNya. Hingga saat itu, ku titipkan cinta untukmu dalam setiap doaku.

img_2459

*mengenang satu tahun meninggalnya Mama & Embah kami tercinta almh. Hj. Istiarti Rawumali.

Sapaan Kematian

Sebuah berita duka cita datang, pagi tadi di waktu dhuha. Ayahanda seorang sahabat Meninggal dunia. Seperti banyak berita duka cita lain yang setahun terakhir ini aku terima, kali ini pun kabar itu datang tanpa terduga. Dan seperti banyak berita duka cita lain yang pernah aku terima, kali ini pun terasa menampar. Menyapa dengan pedih. Menciptakan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

Sudahkan aku cukup baik di dunia ini?

Hingga saat aku mati nanti, ada yang datang ke pemakamanku, mengantarku ke peristirahatanku yang terakhir.

Sudahkah aku cukup membahagiakan orang lain?

Hingga saat aku mati nanti, tak ada orang yang merutuki kematianku karena hutang budi yang belum terbayar, atau kewajiban yang belum aku tunaikan.

Sudahkah aku cukup membekali anak-anakku?

Hingga saat aku mati nanti, mereka tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.

Sudahkan aku cukup mensyukuri hidupku?

Hingga saat aku mati nanti, tak ada hal-hal yang aku sesali dalam pelukan kematian.

Sudahkah aku cukup mempersiapkan diriku?

Hingga saat aku mati nanti, tak ada api yang membakarku, tak ada besi panas yang menyiksaku, tak ada tanah yang menghimpitku hingga aku hancur tak bersisa.

Kematian datang menyapa setiap saat. Disaat-saat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Meninggalkan kekosongan yang tak pernah bisa tergantikan sepanjang hidup. Kehilangan yang begitu mendadak terasa seperti kesunyian yang memekakan gendang telinga. Hampa. Tak berwujud. Namun menyisakan rasa aneh yang tak terjabarkan.

Tangis tak pernah bisa mengobati sakitnya kehilangan. Jeritan pun tak membantu apapun. Isak tertahan terasa seperti menggarami luka menganga. Bahkan doa terasa begitu mengiris.

Kehilangan adalah sebuah masa yang serba salah. Kesunyian membawa serta banyak bayangan masa lalu yang hampir terlupakan, yang kini terasa getir. Keramaian mengusir segala ingatan yang hendak digenggam untuk terakhir kalinya, yang tak siap diikhlaskan secepat ini.

Secepat itu kah hidup?

Semudah itu kah mati?

Aku tidak pernah mengerti. Namun aku harap. Suatu hari nanti. Jika sudah sampai masaku untuk pergi. Paling tidak aku pernah meninggalkan jejakku di dunia ini. Dan semoga saja, sebelumnya aku sudah sampai pada pemahaman tentang arti keberadaanku di dunia.

img_1241

Teruntuk semua yang pernah merasa kehilangan. Aku turut berduka.