Disleksia Bukan Halangan Untuk Menulis

Pernahkah Anda mendengan tentang DISLEKSIA?

Disleksia bukan nama sebuah penyakit. Disleksia adalah sebuah gangguan pertumbuhan. Menurut KBBI, disleksia adalah gangguan pada pengelihatan dan pendengaran yang disebabkan oleh kelainan saraf pada otak, sehingga anak mengalami kesulitan membaca. Secara umum, biasanya baru terdiagnosa di usia awal sekolah dasar, sekitat usia 7-9 tahun.

Anak dengan disleksia selalu kesulitan untuk membaca walaupun anak tersebut tidak memiliki gangguan pengelihatan, pendengaran atau pun intelektual. Gejala dan kesulitan itu biasanya diperparah dengan munculnya anggapan “bodoh” pada diri si anak. Pemikiran bahwa tidak bisa membaca sama dengan bodoh menjadikan anak dengan disleksia tumbuh sebagai pribadi yang rendah diri. Semakin tidak ingin mencoba untuk membaca dan semakin ketinggalan dalam pelajarannya.

sumber : dokterdigital.com

sumber foto : dokterdigitaldotcom

Saya mungkin salah satu orang yang beruntung. Karena meski menderita disleksia dan sangat terlambat membaca dibanding teman-teman sebaya, saya dianugerahkan orang tua yang “tidak puas” menerima penjelasan bahwa anak mereka “kurang” dibanding teman-temannya. Ditambah dianugerahkan guru yang begitu telaten mengajari saya membaca. Guru yang dengan sabar memperbaiki semua huruf b yang saya tulis d, serta banyak huruf p yang berubah jadi q. Guru yang meyakinkan saya bahwa membaca itu asik. Guru yang percaya saya bisa menulis dengan benar asalkan mau membacanya berulang kali.

Disleksia tidak membuat saya benci membaca. Justru sejak bisa mengeja saya tidak pernah berhenti membaca. Dari buku hingga tulisan di papan-papan jalan. Dari komik hingga tulisan di kemasan makanan ringan. Semua yang berhuruf selalu menjadi bacaan yang menyenangkan. Meski kadang saya harus mengejanya dan membacanya berkali-kali untuk dapat memahami maknanya.

Menjadi seorang dengan disleksia di masa kecil, juga tidak memutus cita-cita saya menjadi seorang penulis. Siapa bilang seorang dengan gangguan membaca tidak bisa menulis? Saya buktinya. Saya bisa menulis dan saya cinta pekerjaan ini. Meski butuh waktu yang lebih lama bagi saya untuk menulis karena typo adalah cemilan harian saya. Tapi saya sudah buktikan bahwa menulis bukan kegiatan haram bagi penderita gangguan tersebut.

Keberadaan komputer sangat memudahkan para penderita. Menulis dengan media komputer dapat meminimalisir kemungkinan adanya bentuk huruf yang “tak semestinya”, juga adanya bantuan auto correction yang membuat typo menjadi sangat berkurang. Meski memang diperlukan konsentrasi extra untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang sempurna.

Disleksia tidak menghalangi saya untuk menulis dan menjadi seorang penulis. Seharusnya juga bukan musuh bagi kita semua. Gangguan membaca bisa diterapi. Seorang dengan gangguan tersebut juga bisa menciptakan prestasi. Kita hanya perlu menemukan cara yang tepat untuk membuat penderitanya mencintai huruf dan angka.

Ini saatnya kita membuka mata dan dunia yang baru. Menciptakan dunia tanpa tapi, seperti yang saya lakukan selama ini.