Black Panther : Sisi Baru Film Superhero

Akhirnya semalam aku dan suami, plus anak-anak, nonton WAKANDA #eh Black Panther. Dan ternyata filmnya … keren pake banget!! Buat yang belum nonton film Black Panther bercerita tentang latar belakang Wakanda, tradisi mereka, teknologi mereka, dan tentu saja kaitannya dengan raja mereka T’Challa sang Black Panther yang merupakan simbol leluhur dan penjaga Wakanda.

source: forbes(dot)com

source: forbes(dot)com

Film yang disutradarai oleh Ryan Coogler ini memang lebih banyak menceritakan tentang latar belakang Black Panther dan Wakanda. Termasuk juga kaitannya dengan film Marvel lain (Captain America : Civil War) yang memunculkan sosok Black Panther untuk pertama kalinya. Tapi di film ini kita dipuaskan sama keberadaan konflik kepentingan yang khas banget dengan Wakanda. Kalau aku boleh bilang konflik ini mengangkat keberadaan Hukum Rimba, which is Anak Raja akan jadi Raja selanjutnya, kecuali ada yang mengalahkannya dalam sebuah ritual resmi kerajaan. Dan juga hukum rimba lainnya yang muncul dalam film ini adalah ide tentang “nyawa dibayar nyawa” yang disulam secara apik dalam dua contoh kejadian yang berbeda.

Istimewanya adalah Black Panther menciptakan warna baru dari segi musik dan fashion bagi film-film Marvel yang menurutku patut diacungi sejuta jempol. Hahahaha… #lebay! Tapi ini serius, scoring film ini endang bambang chyn! ala-ala mau nyaingin fast and furious dengan banyak memasukan unsur etnis yang ciamik!! Fashionnya yang konon terinspirasi sama pakaian bangsa Afrika juga jadi sebuah penyegaran karena film Marvel lain cenderung nggak terlalu memikirkan unsur fashion, tapi Black Panther lagi-lagi stand out karena hal itu. Ya mungkin karena setting film lain kebanyakan di Amerika, sedangkan Wakanda punya “dunia” sendiri. Tapi tetep aja sih menurutku fashion yang terjahit tradisi itu cakep bingiittss!!

source: showbiz411(dot)com

source: showbiz411(dot)com

Lalu yang aku sukai juga dari film ini adalah karena Black Panther memperlihatkan pengaruh perempuan. Hahahaha… sebut saya feminis, tapi menurutku dikebanyakan film perempuan selalu jadi yang lemah dan butuh bantuan, tapi film Black Panther justru memperlihatkan bahwa perempuan itu setroooongg dan bisa diandalkan. Nggak ada tuh keberadaan perempuan yang gampang terpancing masalah, di film ini justru perempuan-perempuannya waras semua! Kece beraaaattsss!! Ada Okoye yang setia sama bangsanya, ada Nakia yang selalu bisa diandalkan dan peduli pada kehidupan sosial di dunia luar, ada Shuri yang super cerdas! Gilaaaa seeehhh… kece banget lah! Apa lagi perempuan-perempuan itu punya peran dalam kesuksesan bangsanya, rajanya, dan Black Panther (tentu saja). Yap!! Selalu ada perempuan hebat di balik pria hebat, bukan?

Satu lagi yang menurutku kece banget dari film Black Panther adalah sinematografinya, ah elah sok orang pilem banget gue kalo bahas ini. Tapi beneran, menurutku sinematografi dalam film ini gila-gilaan sih, ditambah sama pemandangan, dan efek yang kece banget bikin semua rasanya sempurna.

And then, it comes to an end, yang sebenrnya nggak end juga karena aku yakin film ini akan ada lanjutannya. Ada konflik yang belum terselesaikan, dan ada umpan yang ditaman di akhir film. Apa lagi kalau merujuk pada pendapatannya yang super fantastis di seluruh dunia, udah pasti lah filmnya akan lanjut. Hehehehe…

wakanda forever

Well, udah cukup ya pujian untuk Black Panter yang aku tulis dari tadi. Hahahahaha… akhir kata aku cuma mau bilang WAKANDA FOREVER! 🤣 Please King T’Challa, aku nggak mau pindah ke Meikarta, aku mau ikut kamu aja ke Wakanda!!! 🤣🤣🤣

why i (don’t) want to be a film maker

Ok! mungkin kebanyakan dari kalian tidak tau kalau saya terlahir sebagai bagian dari sebuah keluarga yang besar di dunia film. sebetulnya udah pernah nulis beberapa tulisan tentang beberapa orang di keluarga saya (papa ano, mas rio, dan keluarga besar) tapi mungkin kalian sempat melewatkan itu.

banyak orang yang sekarang ini sangat ingin jadi orang film, jadi sutradara, jadi kameramen, dan bahkan lebih banyak lagi yang pengen jadi artis. tapi saya yang darahnya teraliri bakat-bakat itu justru ga pengen jadi orang film. i love movie. but being a film maker is different things. being a film maker is a BIG things. banyak hal yang harus mau kamu korbankan saat kamu memilih untuk menjadi seorang pekerja seni, khususnya film.

dulu, mama dan papa selama bertahun-tahun ikut dalam pengerjaan sinteron Si Doel, dan itu jelas mengambil banyak waktu yang seharusnya mereka habiskan untuk anak-anaknya. pernah juga saya ikut dalam sebuah produksi iklan, dan dengan sangat terpaksa meninggalkan kuliah (karena shootingnya di luar kota) yang akhirnya kuliah saya failed (walaupun akhirnya pindah kampus dan lulus).

saya ga pernah memungkiri bahwa perkerjaan di dunia film selalu jadi pekerjaan yang menarik, kita bisa ketemu sama manusia yang kaya gimana aja, yang ga pernah kamu bayangkan kamu temuin di pekerjaan-pekerjaan lain. kita bisa pergi kemana aja, for free!! dan uang yang di dapat juga pada dasarnya lebih banyak, dari pada pekerja biasa dengan jam kerja yang biasa.

tapi saya ngerasa apa yang bisa saya dapat dari menjadi pekerja film akan selalu mengorbankan banyak hal. mungkin (hanya mungkin) kalau saya memutuskan untuk tidak menikah dan tidak punya anak (yang ini mustahil karena saya udah punya anak) saya bisa aja jadi pekerja film. karena jujur aja, saat kamu mengerjakan sebuah film kamu akan sangat tidak punya waktu dan tenaga untuk hal lain. kamu harus selalu fokus dengan jadwal yang sudah ada dan ga bisa diganggu sama hal-hal domestik seperti dapur dan anak. kamu ga bisa mengorbankan kepentingan banyak orang cuma karena kamu harus nemenin anak yang sakit, atau harus ambil raport sekolah. soo not fair buat saya .

bukannya karena saya tipikal orang yang sangat memperhatikan hal domestik ya, cuma saat anak saya membutuhkan saya, saya ngerasa wajib ada untuk dia. tapi itu ga bisa saya lakukan kalo saya jadi pekerja film.

saya selalu menyukai adrenalin yang meningkat saat menciptakan sebuah karya, tapi pengorbanannya belum bisa saya bilang worth it. jadi saya ga memilih untuk menjadi pekerja film.

saya pernah ditanya mas Rio (Ario Rubbik), kenapa ga mau join di produksinya waktu itu, jawaban saya begini “aku mau ikutan shooting lagi kalo ceritanya aku yang tulis”. hahahaha..

itu keputusan saya yang saya bikin beberapa tahun terakhir, kalau pun suatu hari saya akan ikut dalam sebuah produksi film, satu-satunya pekerjaan yang saya ambil adalah penulis skenario. karena dengan mengambil pekerjaan itu artinya saya tetap in charge dalam sebuah produksi film, sekaligus masih punya waktu untuk diri saya dan keluarga saya.

it’s a win-win solution.

SATU JAM SAJA [sudah tayang]

hari ini 7 oktober 2010 adalah hari yg penting buat seluruh keluarga besar saya..

hari ini SATU JAM SAJA sudah tayang di 21 dan XXI cineplex juga di blitzmegaplex..

kenapa saya bilang hari ini menjadi sangat penting bagi keluarga saya, karena setelah 20 tahun akhirnya karnos film [perusahaan yg di dirikan oleh kakek saya, Sukarno M Noor] menelurkan kembali karya film. dan juga setelah 6 tahun akhirnya karnos film berkarya lg, setelah terakhir kali membuat sinetron ‘Si Doel Anak Gedongan’.

agak terharu ya saya melihat begitu besar crowd acara gala premiere satu jam saja.. juga animo banyak orang ttg film ini.. ini sebuah awal baru bagi karnos film yg baru.. karnos film sejak dipegang oleh Santy Karno berubah wujud, dengan lebih memberi bagian bagi orang muda untuk berkarya, tapi juga ttp dengan visi yg sama..

satu hal lg yg membuat saya terharu adalah film satu jam saja ini merupakan sebuah lambang regenerasi keluarga kami, karena Ario Rubbik, sutradara film ini adalah cucu pertama keluarga kami.. dan dia mampu menghasilkan karya yg begitu cantik dan menegakkan kembali bendera karnos film di kancah dunia perfilman indonesia..

saya yakin banyak hal baru yg akan terjadi setelah ini.. ada 2 film yg rencananya akan segera dibuat oleh karnos film.. SI DOEL The Movie dan The Last Barongsai.. yg emang unsur budayanya lebih kental dibanding film satu jam saja..

semoga film satu jam saja bisa jd tolak ukur perfilman indonesia yg baru.. jg menjadi awal baru bagi karnos film dalam penciptakan karya-karyanya..

saya mewakili keluarga besar mau berterima kasih buat semua yg mendukung film satu jam saja dan karnos film..

satu jam saja [the premiere]

saya lupa nulis ttg film ini disini sebelumnya.. tp kalian boleh baca di www.satujamsaja.com lebih lengkap ttg film ini.. yg pasti walau pun saya tidak secara langsung atas film ini, namun jiwa dan hati saya mulai di penuhi oleh film ini sejak awal tahun saat mama saya ditawari menjadi produser di film ini.. dan perbincangan seluruh keluarga di -hampir- setiap pertemuan adalah ttg film ini..

film ini sudah selesai di produksi agustus kemarin.. dan awal september kemarin sudah selesai di edit di bangkok.. dan awal bulan depan, tepatnya 7 oktober, film ini akan mulai di tayangkan di 21 cineplex dan XXI di hampir semua kota di indonesia..

dan sebagai part of the family saya mendapat kesempatan buat nonton duluan film ini di acara premierenya.. well, saya sangat menunggu film ini.. walau pun saya pernah membaca skenario dan ditawari menulis novel base on film ini, yg saya tolak di kemudian hari karena saya merasa tidak mampu menulisnya.. tapi saya bener” penasaran sama film ini.. first debut my mom as a movie producer dan first debut of my brother as a movie director.. its gonna be realy cool! hahaha..

selamat menunggu ditayangkannya film ini di bioskop ya teman-teman.. klo nanti udah nonton mohon comment ya.. saya akan menyampaikannya secara langsung kpd mama dan sepupu saya commet kalian ttg film ini.. semoga saja film ini cukup memuaskan setelah negeri kita disuguhi terlalu banyak film horor dan drama porno..

undangan premiere