Syukur yang Terlupakan

Siang panas terik.
Aku baru selesai belanja mingguan di salah satu supermarket, pas lagi nunggu suami ambil mobil, aku melihat seorang bapak jualan kue semprong. Aku datangi bapak itu karena tiba-tiba terlintas sudah lama ga makan kue semprong tradisional.

“Kue semprongnya berapaan pak?” Tanyaku.
“15ribu seplastik neng.” Kata bapak penjual kue semprong itu.
“Saya mau dua deh pak.” Ujarku.
Bapak itu menyiapkan 2 plastik kue semprong dagangannya dan dimasukan ke dalam kantong plastik. Lalu dia mengulurkan kantong plastik tersebut kearahku. Aku mengambil kantong plastik itu dan menyerahkan uang seratus ribuan.
“Ini uang berapa neng?” Tanya bapak itu sambil meraba-raba uang yg aku berikan.
Aku tertegun, ternyata bapak penjual kue semprong itu tidak bisa melihat, “Itu seratus ribu pak” ujarku.
“Oh ya neng, ini kembaliannya diambil aja, soalnya bapak ga bisa liat uangnya” katanya sambil mengulurkan topi lusuh berisi uang yang mungkin hasil penjualannya hari itu.
“Maaf pak, kalau bapak ga bisa melihat, lalu ada yang ambil kembalian lebih atau ada yang kasih uangnya kurang gimana pak?” Tanyaku.
“Itu urusannya sama Allah aja neng, rejeki kan Allah yang atur.” ujarnya sambil tersenyum.
“Iya bener pak. Mudah-mudahan rejekinya lancar ya pak.” ujarku.
“Aamiin, neng.”
Di saat bersamaan suamiku datang bersama mobil untuk menjemputku. Aku pun berlalu sambil mengucapkanĀ terima kasih.

Jangan lupa ?

Jangan lupa ?

Sepanjang jalan aku masih memikirkan percakapan singkat tadi bersama bapak penjual kue semprong. Dengan segala keterbatasannya dia tetap berusaha mencari rejeki untuk kebutuhannya dan keluarganya, tidak menggantungkan diri pada orang lain atau pun menyerah dengan keadaan.

Lalu apa yang sudah aku lakukan dengan segala kemudahan yang Allah berikan sepanjang hidupku.
Kadang lelah menerpa dan aku mengeluh, padahal aku hanya mengerjakan bisnisku dari rumah dengan bantuan teknologi, tanpa perlu panas-panasan dijalan, tanpa perlu lembur, tanpa perlu berjibaku dengan kemacetan dan sambil menemani anak-anakku dirumah.
Kadang aku bertemu customer yang PHP dan take it too seriously, padahal Allah sudah menjamin rejekiku tidak akan tertukar dengan orang lain, padahal aku masih bisa menikmati bonusku yang lancar masuk rekening setiap hari.

Manusia memang gudangnya lupa. Lupa bahwa kesusahan yang dialami belum seberapa dibanding banyak orang lain didunia. Lupa bahwa rejeki sudah diatur sebaik mungkin. Lupa bahwa apapun yang ada, sekecil apapun, seharusnya disyukuri dengan sepenuh hati.

Terima kasih Bapak penjual kue semprong. Mungkin bapak tidak melihat, namun keikhlasan bapak pada Allah yg maha mengatur rejeki begitu menyentuhku.
Alhamdulillah aku diingatkan untuk lebih banyak bersyukur, aku mendapat manfaat yang banyak dengan perbincangan singkat itu.
Semoga bapak senantiasa mendapat rejeki dari Allah dan tidak perlu bertemu dengan orang-orang yang tidak jujur.
Pamulang, 28 Maret 2016.
*Ditulis kembali dari tulisan saya di FaceBook.

Dilema OnlineShop

semua cewe pasti suka belanja.. trus jaman sekarang ga cuma cewe yg suka belanja, cowo-cowo juga suka.. tapi ada kalanya kita ga punya waktu untuk pergi keluar rumah beli sesuatu yg kita butuhin. kayanya hal ini yg menjadi awal kenapa sekarang banyak ditemukan Online Shop. siapa coba yg ga mau belanja dilayanin, trus barangnya bisa sampe di rumah tanpa harus repot-repot bepergian. apa lg kalo barang yg mau kita beli itu adanya di luar kota, luar pulau bahkan luar negeri.

dan saya sebagai salah satu kaum pecinta belanja mulai khawatir dengan pengeluaran yg melebihi batas rata-rata karna adanya online shop.. hehehe.. biasanya belanja harus pergi kan ya, skrg dari rumah bisa belanja.. maka jadilah pengeluarannya luar biasa.. hehehe..

jadi akhirnya mulai januari kemarin tepatnya saya memutuskan untuk ga mau cuma belanja doang dan ngabisin uang sendiri, dan akhirnya mencoba ikutan mencicipi bisnis online shop ini. awalnya cuma jualan di group bbm yg isinya cuma temen dan sodara aja. alhamdulillah sih yg beli ada aja.

trus bulan April kemarin si pacar menyarankan untuk seriusin bisnis ini, karna mungkin dia ngeliat dari pemasukan jualan via online shop. setelah itu jadilah mulai cari supplier sana sini yg barangnya bagus dan harganya sesuai kualitas. setelah menemukan beberapa supplier yg dirasa cocok maka mulai lah bisnis ini di seriusin.. buat fb, twitter, blog tentang olshop, trus juga mengiklankan ke customer yg kira-kira sesuai dengan barang yg dijual.

tapi ternyata jualan ke orang ga dikenal (bukan teman atau saudara) tuh ada banyak masalahnya.. dari mulai yg nawar sampai dibawah harga modal padahal cuma beli 2pcs barang, yg minta free ongkir padahal lokasinya diluar pulau, yg hit and run, yg cuma nanya” setiap hari semua barang tp ga pernah order, yg order tp bayarnya seminggu kemudian, ada yg kaloorder tengah malem pas kita udah tidur trus ping!! melulu sampe kita kebangun. fuuuiiihhh.. susahnya ya nyari uang.. harus ekstra sabar kalo jadi pedagang.. apa lg kalo PMS tiba, emosi memuncak dan sering gondok sendiri.

dari beberapa bulan jualan via onlineshop ini sebetulnya pemasukannya tiap bulan semakin bertambah sih, cuma belum bisa menutupi gajiku kalo ga kerja lagi.. tp kalau memang suatu hari nanti olshop ini berkembang lebih besar sampai bisa punya toko ya aku lebih seneng jadi wiraswasta dari pada karyawan terus. :p

buat yg sekarang lagi merintis online shop good luck yaa.. sabar aja ngadepin manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya..