why i (don’t) want to be a film maker

Ok! mungkin kebanyakan dari kalian tidak tau kalau saya terlahir sebagai bagian dari sebuah keluarga yang besar di dunia film. sebetulnya udah pernah nulis beberapa tulisan tentang beberapa orang di keluarga saya (papa ano, mas rio, dan keluarga besar) tapi mungkin kalian sempat melewatkan itu.

banyak orang yang sekarang ini sangat ingin jadi orang film, jadi sutradara, jadi kameramen, dan bahkan lebih banyak lagi yang pengen jadi artis. tapi saya yang darahnya teraliri bakat-bakat itu justru ga pengen jadi orang film. i love movie. but being a film maker is different things. being a film maker is a BIG things. banyak hal yang harus mau kamu korbankan saat kamu memilih untuk menjadi seorang pekerja seni, khususnya film.

dulu, mama dan papa selama bertahun-tahun ikut dalam pengerjaan sinteron Si Doel, dan itu jelas mengambil banyak waktu yang seharusnya mereka habiskan untuk anak-anaknya. pernah juga saya ikut dalam sebuah produksi iklan, dan dengan sangat terpaksa meninggalkan kuliah (karena shootingnya di luar kota) yang akhirnya kuliah saya failed (walaupun akhirnya pindah kampus dan lulus).

saya ga pernah memungkiri bahwa perkerjaan di dunia film selalu jadi pekerjaan yang menarik, kita bisa ketemu sama manusia yang kaya gimana aja, yang ga pernah kamu bayangkan kamu temuin di pekerjaan-pekerjaan lain. kita bisa pergi kemana aja, for free!! dan uang yang di dapat juga pada dasarnya lebih banyak, dari pada pekerja biasa dengan jam kerja yang biasa.

tapi saya ngerasa apa yang bisa saya dapat dari menjadi pekerja film akan selalu mengorbankan banyak hal. mungkin (hanya mungkin) kalau saya memutuskan untuk tidak menikah dan tidak punya anak (yang ini mustahil karena saya udah punya anak) saya bisa aja jadi pekerja film. karena jujur aja, saat kamu mengerjakan sebuah film kamu akan sangat tidak punya waktu dan tenaga untuk hal lain. kamu harus selalu fokus dengan jadwal yang sudah ada dan ga bisa diganggu sama hal-hal domestik seperti dapur dan anak. kamu ga bisa mengorbankan kepentingan banyak orang cuma karena kamu harus nemenin anak yang sakit, atau harus ambil raport sekolah. soo not fair buat saya .

bukannya karena saya tipikal orang yang sangat memperhatikan hal domestik ya, cuma saat anak saya membutuhkan saya, saya ngerasa wajib ada untuk dia. tapi itu ga bisa saya lakukan kalo saya jadi pekerja film.

saya selalu menyukai adrenalin yang meningkat saat menciptakan sebuah karya, tapi pengorbanannya belum bisa saya bilang worth it. jadi saya ga memilih untuk menjadi pekerja film.

saya pernah ditanya mas Rio (Ario Rubbik), kenapa ga mau join di produksinya waktu itu, jawaban saya begini “aku mau ikutan shooting lagi kalo ceritanya aku yang tulis”. hahahaha..

itu keputusan saya yang saya bikin beberapa tahun terakhir, kalau pun suatu hari saya akan ikut dalam sebuah produksi film, satu-satunya pekerjaan yang saya ambil adalah penulis skenario. karena dengan mengambil pekerjaan itu artinya saya tetap in charge dalam sebuah produksi film, sekaligus masih punya waktu untuk diri saya dan keluarga saya.

it’s a win-win solution.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *